Menteri Yohana: Kekerasan pada Perempuan dan Anak seperti Fenomena Gunung Es

Syaiful Islam, Okezone · Senin 28 Agustus 2017 16:21 WIB
https: img.okezone.com content 2017 08 28 337 1764658 menteri-yohana-kekerasan-pada-perempuan-dan-anak-seperti-fenomena-gunung-es-aoEGOvkLvg.jpg Menteri PPPA Yohana Yembise (Foto: Syaiful/Okezone)

SURABAYA – Fenomena kekerasan terhadap perempuan dan anak di Indonesia bak gunung es. Dimana korban yang berani melapor hanya sebagain kecil, sedangkan yang tidak melapor masih banyak.

Hal tersebut disampaikan Menteri Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (PPPA), Yohana Yembise, pada sejumlah wartawan usai membuka acara Temu Nasional Partisipasi Publik untuk Kesejahteraan Perempuan dan Anak (PUSPA) di Surabaya, Senin (28/7/2017).

“Kekerasan terhadap perempuan dan anak di seluruh Kabupaten/Kota seperti fenomena gunung es, karena para korban masih banyak yang belum lapor. Tapi setelah kami melakukan sosialiasi, akhirnya masyarakat yang menjadi korban berani melapor,” terang Yohana.

Kekerasan yang biasanya terjadi pada perempuan seperti seksualitas, psikis dan pemukulan. Bahkan masih ditemukan kekerasan dalam rumah tangga (KDRT). Misal suami melakukan pemukulan pada istrinya.

Selain itu kekerasan pada anak juga masih ditemukan di lembaga pendidikan seperti guru memukul murid. Kondisi tersebut harus segera diakhiri, disamping membuat anak sakit, juga hal semacam itu (kekerasan) akan ditiru oleh anak-anak.

“Anak-anak akan meniru prilaku guru, orang tua dan lingkungan. Kami sudah membuat Undang-Undang yang baru tentang perlindungan anak. Dimana pelaku pelecehan seksual yang membuat korbannya cacat hingga meninggal, maka akan dipenjara seumur hidup, pemasangan chip, dan tembak mati,” ungkap Yohana.

Ini dilakukan supaya para pelaku jera dan tidak mengulangi perbuatan. Dengan digelar temu PUSPA diharapkan bisa mensinergikan sekaligus mengkolaborasi, baik peran Kementerian PPPA atau Dinas PPPA di Provinsi dan Kabupaten/Kota dengan Lembaga Masyarakat (LM), dalam menangani persoalan dan meningkatkan kesejahteraan perempuan dan anak di Indonesia.

“Masih banyak LM yang memiliki ide maupun rumusan strategi, namun masih terbatas pada jangkauan dan jaringan kerjanya di daerah masing-masing. Kami berharap seluruh elemen masyarakat, utamanya lembaga masyarakat dapat bekerja dengan jangkauan yang lebih luas, memiliki jaringan bermitra yang lebih banyak untuk saling bertukar ide dalam konteks perempuan dan anak,” paparnya.

Temu Nasional PUSPA 2017 yang berlangsung pada 27–29 Agustus 2017 di Surabaya, Jawa Timur ini merupakan pertemuan tindak lanjut dari Temu Nasional PUSPA sebelumnya yang telah dilaksanakan pada 30 Mei–1 Juni 2016 di Yogyakarta. Sekitar 300 peserta dari berbagai elemen masyarakat hadir dalam acara ini untuk mengikuti berbagai rangkaian kegiatan PUSPA 2017, yang terdiri dari sesi inspirasi, sesi pasar ide, sesi konferensi, dan kunjungan lapangan (fieldtrip).

(aky)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini