Share

OKEZONE STORY: Gara-Gara Disodori Baki Bendera, Latief Hendraningrat Jadi Pengibar Merah Putih saat Proklamasi

Hantoro, Okezone · Sabtu 26 Agustus 2017 07:31 WIB
https: img.okezone.com content 2017 08 25 337 1763273 okezone-story-gara-gara-disodori-baki-bendera-latief-hendraningrat-jadi-pengibar-merah-putih-saat-proklamasi-mjvuAhRDNu.jpg Brigjen Latief Hendraningrat. (Foto: Ist)

KISAH di balik proklamasi kemerdekaan Republik Indonesia masih saja terungkap. Misalnya awal mula naskah proklamasi ditulis tangan hingga diketik untuk kemudian dibacakan Ir Soekarno, sampai lokasinya di Jalan Pegangsaan Timur Nomor 56 Jakarta Pusat yang kini sudah tidak ada.

Lalu kali ini Okezone coba mengungkapkan fakta sejarah unik tentang sosok salah satu petugas pengerek bendera pusaka merah putih saat proklamasi kemerdekaan. Ia adalah Brigjen TNI (Purn) Raden Mas Abdul Latief Hendraningrat. Pria asli Betawi ini diketahui lahir di Jatinegara, 15 Februari 1911. Latief merupakan putra dari Raden Mas Said Hendraningrat.

Latief Hendraningrat saat itu merupakan seorang cudanco (komandan kompi) pada Jakarta-syoo Dai Ichi Daidan pimpinan Kasman Singodimejo. Kisahnya bermula pada 17 Agustus 1945 pagi, ia mengatakan kepada sidokan (tentara Jepang yang mengawasi Daidan) bakal latihan di kota bersama rekan-rekannya.

Namun sebenarnya di Ibu Kota saat hari proklamasi, Latief berada di halaman rumah Jalan Pegangsaan Timur 56 untuk melakukan penjagaan. "Pikiran saya waktu itu memang tegang. Mata terus tertuju ke jalan besar melihat kemungkinan gangguan," ujar Latief, sebagaimana dikutip dari buku 'Seputar Proklamasi Kemerdekaan' yang disunting oleh Hendri F Isnaeni, Sabtu (26/8/2017).

Upacara proklamasi kemerdekaan pun dilakukan, dan Ir Soekarno menjadi pemimpinnya yang membacakan teks kemerdekaan. Saat itu Latief Hendraningrat berada di sebelah kanan Bung Karno. Proklamasi diucapkan, kemudian Indonesia merdeka.

Momen bersejarah di hidup Latief pun terjadi di sini. Kala upacara bendera dimulai, ia heran karena baki berisi bendera pusaka merah putih disodorkan kepadanya. Sekalipun bingung dan menyadari akibatnya jika menerima, Latief akhirnya memutuskan berani mengambilnya.

Melalui bantuan seorang pemuda bernama Suhud Sastrokusumo, seorang tokoh dari Barisan Pelopor, Latief mengibarkan bendera di sebuah tiang bambu sederhana depan kediaman Jalan Pegangsaan Timur 56. Lagu kebangsaan 'Indonesia Raya' juga berkumandang dan sang saka merah putih berkibar di udara Indonesia merdeka.

Melalui peristiwa ini, Latief Hendraningrat bisa dibilang sebagai pelopor paskibraka Tanah Air. Saat masih tergabung di pasukan Jepang, Latief menjadi salah satu orang yang dipercaya di Pusat Latihan Pemuda atau Seinen Kun Reshu pada masa penjajahan Jepang yang berubah nama menjadi Pembela Tanah Air (PETA). Namun, ia akhirnya keluar dan memilih bergabung dengan Tentara Nasional Indonesia (TNI).

Setelah bergabung dengan TNI pada masa penyerahan kedaulatan, Latief Hendraningrat pada 1952 ditunjuk sebagai Atar Republik Indonesia untuk Filipina. Tetapi, akhirnya ia dipindahtugaskan ke Washington DC sampai 1956.

Kembali ke Indonesia, Latief Hendraningrat dipercaya sebagai pemimpin Sekolah Staf dan Komando Angkatan Darat yang sekarang dikenal sebagai Seskoad. Di dunia pendidikan tinggi, beliau juga pernah menjadi rektor IKIP Jakarta (sekarang Universitas Negeri Jakarta), tepatnya pada 1965.

Kemudian di 1967, Latief Hendraningrat pensiun dari TNI dengan pangkat terakhir brigjen. Usai pensiun, beliau tetap berkarya untuk Yayasan Pergurauan Rakyat dan Organisasi Indonesia Muda.

(han)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini