Menhan: Kesadaran Bela Negara Tidak Dapat Ditawar-tawar Lagi!

Agregasi Sindonews.com, · Selasa 22 Agustus 2017 03:16 WIB
https: img.okezone.com content 2017 08 22 337 1760567 menhan-kesadaran-bela-negara-tidak-dapat-ditawar-tawar-lagi-CGyTfb9O4Y.jpg Menhan, Ryamizard (foto: Okezone)

JAKARTA - Menteri Pertahanan (Menhan) Ryamizard Ryacudu memberikan kuliah umum Bela Negara kepada mahasiswa dan dosen Universitas Trunojoyo, Madura, Jawa Timur, Senin 21 Agustus 2017.

Kuliah umum tersebut digelar untuk bekal pengetahuan sekaligus membangun kesamaan berpikir dan cara pandang dalam mewujudkan komitmen bersama membela dan mewujudkan cita-cita nasional Indonesia.

Menurutnya, sejak Proklamasi 17 Agustus 1945, Indonesia tidak terlepas dari berbagai persoalan yang berkaitan dengan ketahanan nasional.

"NKRI mengalami pasang surut dalam menjaga eksistensi dan kelangsungan hidup sebagai sebuah bangsa dan negara yang merdeka dan berdaulat," kata Ryamizard dalam keterangannya, Selasa (22/8/2017).

Dalam merumuskan Strategi Pertahanan Negara, kata dia, Kementerian Pertahanan mengacu pada kondisi aktual potensi ancaman negara masa kini dan masa mendatang.

"Menhan merumuskan dan menetapkan kebijakan pertahanan negara yang pelaksanaannya melibatkan semua komponen bangsa. Termasuk di dalamnya merumuskan kebijakan (politik) penggunaan kekuatan TNI beserta alat utama sistem persenjataan (alutsista) sebagai komponen utama," tuturnya.

Kata dia, komponen tersebut dapat digunakan untuk meningkatkan kekuatan dan kemampuan komponen utama.

"Masih segar dalam ingatan saya pernyataan dari Presiden kelima Indonesia, Ibu Megawati Soekarnoputri yang menggetarkan hati tahun 2004 saat beliau berkunjung ke Papua yang menyatakan seribu kali pejabat gubernur di Papua diganti, Papua tetap di sana, seribu kali pejabat daerah dan bupati Papua diganti Papua tetap di sana, tetapi satu kali TNI dan Polri ditarik dari tanah Papua, besok Papua merdeka,” tuturnya.

Menurut Mantan Kepala Staf TNI Angkatan Darat itu, hal tersebut merupakan betapa pentingnya dukungan segenap komponen bangsa terhadap TNI dan Polri sebagai perekat dan pemersatu bangsa.

"Lalu kesadaran bela negara untuk memperkuat jati diri dan memperkuat persatuan nasional merupakan keniscayaan yang tidak dapat ditawar-tawar lagi," tegasnya.

Khususnya, lanjut dia, bagi bangsa Indonesia yang merdeka dan berdaulat dan telah bertekad untuk membela, mempertahankan, dan menegakkan Kemerdekaan, serta kedaulatan negara dan bangsa berdasarkan Pancasila dan UUD 1945.

Menurutnya, ancaman nyata sudah sangat terasa, antara lain meningkatnya peredaran dan penyalahgunaan narkoba, paham radikal dan terorisme, perang cyber dan ancaman lainnya.

Khusus terorisme dan radikalisme, Ryamizard menegaskan, semua agama tidak pernah mengajarkan terorisme dan radikalisme, dan tidak ada hubungan terorisme dengan agama apa pun.

"Ancaman terbesar terorisme bukan hanya terletak pada aspek serangan fisik yang merugikan, tetapi justru serangan propaganda Ideologi yang secara masif dapat mempengaruhi pola pikir dan pandangan masyarakat," ungkapnya.

Menurut dia, serangan ideologis lebih berbahaya. Pengaruh propaganda dan agitasi bernuansa kekerasan, permusuhan, penghasutan dan ajakan untuk bergabung dengan kelompok teroris banyak menyasar berbagai kalangan masyarakat dan profesi yang bertujuan menghancurkan jiwa dan ideologi bangsa.

"Pemerintah saat ini sedang merevisi Undang-Undang Penanggulangan Terorisme. Terlepas dari pro dan kontra terhadap rencana revisi tersebut, hal yang perlu kita sadari bersama bahwa Undang-Undang Terorisme hanya merupakan aspek pendukung dalam Penanganan aksi terorisme dan radikalisme," pungkasnya.

(wal)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini