Share

OKEZONE FILES: Mendebarkan! Peran Barisan Pelopor dan Kisah Detik-Detik Proklamasi Kemerdekaan

Hantoro, Okezone · Kamis 17 Agustus 2017 08:01 WIB
https: img.okezone.com content 2017 08 16 337 1757317 okezone-files-mendebarkan-peran-barisan-pelopor-dan-kisah-detik-detik-proklamasi-kemerdekaan-JYAFkDA85Q.jpg Pengibaran bendera merah putih setelah mengucapkan proklamasi kemerdekaan. (Foto: Ist)

DETIK-detik jelang proklamasi kemerdekaan Republik Indonesia oleh Presiden Soekarno di kediamannya Jalan Pegangsaan Timur Nomor 56, Jakarta Pusat, ternyata sangat mendebarkan. Hal itu sebagaimana diungkapkan salah seorang saksi sejarah bernama Sudiro. Ia merupakan tokoh berpengaruh di sebuah pasukan Barisan Pelopor.

Barisan Pelopor sendiri diketahui sebagai organisasi sayap pemuda dari Jawa Hokookai atau Kebaktian Rakyat Pulau Jawa yang dibentuk pada Juli 1944 oleh Jepang. Barisan Pelopor berpusat di Kantor Jawa Hokookai yang terletak di Lapangan Banteng –saat ini Gedung Mahkamah Agung (MA). Barisan Pelopor terlihat tidak mengenakan seragam, tetapi terdapat lencana berbentuk kepala banteng di dalam lingkaran yang melekat di baju bagian dada kiri.

Sebagaimana dikutip dari buku 'Seputar Proklamasi Kemerdekaan' yang disunting oleh Hendri F Isnaeni, Rabu (16/8/2017), Barisan Pelopor-lah yang mengawal tokoh-tokoh penting di negeri ini hingga terlaksananya proklamasi kemerdekaan. Kemudian pada 16 Agustus 1945, akhirnya tibalah Barisan Pelopor menjalankan peran penting untuk kemerdekaan Indonesia.

Mereka mendapat kabar bahwa pada 17 Agustus 2017, Ir Soekarno dan Mohammad Hatta bakal mengumumkan proklamasi kemerdekaan. Lokasinya ada di Lapangan Ikatan Atletik Djakarta (Ikada) –sekarang Lapangan Merdeka– pada pagi hari. Hal tersebut sebagaimana dilaporkan oleh dr Muwardi selaku pemimpin Barisan Pelopor untuk Kota Istimewa Djakarta.

Pasukan tersebut lalu diperintahkan untuk memberikan pengamanan di sana sebelum pukul 09.30 WIB. Segera, Sudiro selaku pimpinan sehari-hari langsung menghubungi pimpinan Barisan Pelopor di kawedanan –wilayah administrasi kepemerintahan di bawah kabupaten– untuk menyebarkannya ke tingkat kecamatan dan kelurahan serta bersiap di lokasi pada pagi-pagi sekali.

Namun di luar dugaan, ternyata ketika dipantau sebelum bersiap membacakan proklamasi kemerdekaan, banyak serdadu Jepang sudah berada di Lapangan Ikada. Tidak diketahui, apakah mereka sudah mengetahui rencana besar ini? Atau, ada faktor lain. Otomatis pihak-pihak Barisan Pelopor pun kembali berkoordinasi.

"Tidak jadi di (Lapangan) Ikada, tetapi di Jalan Pegangsaan Timur Nomor 56. Semua Barisan Pelopor yang datang dari berbagai jurusan supaya dicegat dan langsung menuju rumah Bung Karno di Pegangsaan Timur (sekarang Jalan Proklamasi) Nomor 56," ujar dr Muwardi kala itu.

Pengumuman tertulis cepat-cepat dibuat dan ditempel di batang pohon, terutama sekitar Lapangan Ikada. Sudiro yang mendapat tugas tersebut langsung menjalankannya, kemudian kembali ke rumah untuk "berpamitan" dengan istri-anak. Selanjutnya, ia menuju Pegangsaan Timur 56. Di sana sudah tampak Suwirjo, selaku penasihat staf Barisan Pelopor, berdiri di bagian depan lalu ke rumah induk yang menjadi lokasi proklamasi diucapkan.

Tampak sejumlah orang penting hadir di sana. Sebut saja Chudanco Pembela Tanah Air (Peta) Latief Hendraningrat, empat perempuan yang salah satunya Ibu Trimurti (wartawan, penulis, dan guru Indonesia), seorang Jepang yang disebut sebagai kempetai (polisi rahasia), kemudian Suroto yang merupakan wartawan Domei (Kantor Berita Antara).

Proklamasi pun segera dilakukan Soekarno, tapi muncul kabar Bung Hatta tidak ada di sana. Ada yang lapor, Bung Hatta tidak bersedia ikut memproklamirkan kemerdekaan RI. Padahal, Bung Karno menegaskan hanya mau mengucapkan proklamasi kemerdekaan bersama Mohammad Hatta. Hal itu ia tegaskan setiap kali para tokoh mengingatkannya ketika berada di dalam kamar.

Hari terlihat sudah cukup siang, bahkan ada yang menganggapnya sebagai waktu tepat untuk proklamasi. Sampai-sampai, dr Muwardi sempat mendesak Ir Soekarno agar meninggalkan saja Bung Hatta. Tapi, Bung Karno menjadi marah, sambil memberikan penegasan. "Kalau begitu silakan Mas Muwardi saja yang membacakan proklamasi," ujarnya.

Tindakan "mendesak" ini dilakukan sejumlah pihak agar proklamasi kemerdekaan tidak digagalkan pihak Jepang. Lalu Tuhan Yang Maha Esa mungkin memang sudah menghendakinya, jalan untuk mengarah ke sana mulai terbuka. Bung Hatta akhirnya datang menaiki mobil bersama rombongan. Diiringi Daidancho Abdulkadir dan Chudancho Latief Hendraningrat yang ditugaskan melakukan penjemputan.

Seiring perjalanannya, Bung Karno dan Bung Hatta bersiap memproklamirkan kemerdekaan. Mereka maju ke hadapan rumah, lalu Bung Karno melanjutkan dengan membacakan naskah proklamasi kemerdekaan yang sudah diketik. Selanjutnya, ia memberikan anjuran agar bangsa Indonesia mulai saat itu bekerja keras dalam mengisi kemerdekaan.

Kemudian bendera merah putih yang dijahit oleh Ibu Fatmawati dinaikkan ke tiang oleh Chudancho Latief Hendraningrat. Ini menjadi pengibaran pertama kalinya tanpa dibarengi dengan bendera selain merah putih. Setelah itu mereka mengheningkan cipta dan menyanyikan lagu kebangsaan 'Indonesia Raya' dengan penuh semangat.

Namun, beberapa saat kemudian beberapa pembesar Jepang datang ke Pegangsaan Timur 56. Mereka mendesak bertemu Ir Soekarno serta mendesak proklamasi kemerdekaan tidak diumumkan. Salah seorang Jepang dengan berbahasa Indonesia mengatakan bahwa Gunseikanbu (pemerintah militer pusat) memberikan pesan melarang Proklamasi. Tapi, Bung Karno dengan tegas menjawab, "Proklamasi sudah kami ucapkan!"

(han)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini