Perkuat Ketahanan Nasional, Wiranto: Bela Negara Bukan Pelatihan Fisik dan Militeristik

Silviana Dharma, Okezone · Rabu 26 Juli 2017 22:00 WIB
https: img.okezone.com content 2017 07 26 337 1744570 perkuat-ketahanan-nasional-wiranto-bela-negara-bukan-pelatihan-fisik-dan-militeristik-YS2USbvUU0.jpg

JAKARTA – Menko Polhukam, Wiranto menilai pemahaman sebagian besar masyarakat, khususnya generasi muda terhadap konsesus bangsa, yang sudah diamanatkan oleh pendiri bangsa, sekarang ini cukup memprihatinkan. Pria kelahiran Yogyakarta itu memperingatkan, tindakan-tindakan yang mengganggu ketertiban, yang sifatnya memfitnah, provokasi dan adu domba, jika tidak segera ditangani maka akan mengancam persatuan dan kesatuan bangsa.

Maka dari itu, dia tidak segan-segan membubarkan ormas HTI yang dianggapnya menjalankan paham bertentangan dengan ideologi Indonesia. Bahkan, ia menegaskan bahwa keputusan itu tidak diambil asal-asalan. Negara sudah mengkaji betul akar masalahnya.

"Kemarin saya bubarkan HTI karena jelas-jelas pidatonya enggak cocok dengan demokrasi, enggak cocok dengan nasionalisme, enggak cocok dengan NKRI,  jelas itu di mana-mana. Anehnya mereka dibubarkan, ada saja yang bela, bilang pemerintah enggak berperikemanusiaan," ujar Wiranto dalam Rapat Koordinasi Pembekalan kepada Rektor/Ketua/Direktur dan Koordinator Kopertis Perguruan Tinggi se-Indonesia dalam rangka Pembinaan Kesadaran Bela Negara (PKBN) bagi Mahasiswa Baru 2017 di Kementerian Pertahanan hari ini, Rabu (26/7/2017).

Wiranto menekankan, orang tidak boleh semudah itu mencaci maki orang lain, apalagi melanggar aturan. Seakan-akan mereka paling benar dan kepentingannya yang paling perlu dibela.

"Bangsa kita mengalami kondisi ketahanan nasional yang perlu kita perhatikan bersama," ungkapnya.

Berdasarkan sejumlah kasus itu, dia menyimpulkan ada empat tantangan yang dihadapi Indonesia saat ini. Pertama, pemahaman dan penghayatan terhadap empat konsensus dasar bangsa masih rendah. Ada pun keempat konsensus yang dimaksud ialah Pancasila, UUD 1945, NKRI dan Bhineka Tunggal Ika.

Tantangan kedua, rasa memiliki terhadap bangsa dan negara amat lemah. Wiranto sering melihat generasi bangsa yang lebih bangga jadi masyarakat internasional. Lalu lupa berkontribusi bagi negara asalnya.

"Ketiga, pembelaan terhadap negara belum optimal. Terakhir, kondisi ketahanan nasional secara umum dalam lima tahun belakangan dinilai kurang tangguh," ucapnya mengutip dari hasil kajian lembaga pengukur ketahanan nasional Lemhannas pada November 2016.

Oleh karena itu, Wiranto senang ada acara pembinaan kesadaraan bela negara seperti yang digelar Kemenhan bekerja sama dengan Kemenristek Dikti dan lembaga negara terkait lainnya. Dia mengungkap, wantanas sekarang ini juga sedang merumuskan program bela negara yang dapat disesuaikan dan diterapkan dalam berbagai aspek kehidupan dan profesi warga negara, termasuk mahasiswa.

"Perlu kami tegaskan program bela negara bukanlah program pelatihan fisik dan militeristik, seperti yang banyak diperkirakan," ujarnya.

Program bela negara di sini, pemerintah bermaksud melibatkan semua pihak bersama-sama  wantanas merancang program yang paling sesuai untuk menjawab tantangan-tantangan bangsa tadi.

"Semua agar kita menjadi bangsa yang kuat, kreatif dan memiliki daya saing di dunia global. Sebab bela negara pada dasarnya adalah sikap cinta terhadap negeri dan bersedia membela dari segala ancaman yang mengganggu kelangsungan hidup berbangsa dan bernegara," tuntasnya. (sym)

(erh)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini