PBNU: Pancasila sebagai Dasar Negara Jangan Diperdebatkan Lagi

ant, · Kamis 20 Juli 2017 05:21 WIB
https: img.okezone.com content 2017 07 20 337 1740316 pbnu-pancasila-sebagai-dasar-negara-jangan-diperdebatkan-lagi-2uwmVNn4Nm.jpg Ketum PBNU Said Aqil

AMBON – Ketua Umum Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) Said Aqil Siraj mengingatkan Pancasila sebagai dasar negara Indonesia sudah tidak boleh lagi diperdebatkan.

"Pancasila sebagai dasar negara sudah tidak boleh lagi diperdebatkan. Jadi, tak perlu mendebatkan apakah negara ini masih Pancasila atau bukan," kata Said Aqil Siraj di Ambon, Rabu 19 Juli 2017 malam.

Pernyataan Ketua Umum PBNU itu disampaikan dalam tausyahnya pada acara halalbihalal dengan warga Nahdiyin, tokoh agama, TNI, serta Polri di Gedung Islamic Center Ambon.

"Dua hari lalu, Panglima TNI Gatot Nurmayanto juga telah mengatakan jangan ikuti ulama yang punya agenda mengganti Pancasila karena ideologi ini sudah dipercaya sejak dahulu dalam membangun bangsa yang bermartabat," tandasnya.

Menurut dia, halalbihalal berasal dari bahasa Arab tetapi orang Arab sendiri tidak mengerti dan di sana tidak ada yang namanya acara seperti ini pascaperayaan Idul Fitri, kecuali silaturahmi yang artinya memperkuat persaudaraan.

"Ternyata yang pertama kali menggagas terminologi silaturahmi setelah bulan puasa adalah KH Abdulwahab Hazbullah, tokoh NU dan merupakan salah satu pahlawan nasional," ujarnya.

Pada tahun 1948, tokoh-tokoh politik nasional saling tegang satu sama lainnya, maka Presiden Soekarno memanggil Kiai Wahab melakukan upaya mendekatkan hubungan dan menghilangkan ketegangan para tokoh.

Ketika diusulkan menggunakan istilah silaturahmi, Bung Karno bilang kurang keren sebab sudah terlalu banyak orang menggunakan istilah itu lalu Kiai Wahab akhirnya menggagas yang namanya halalbihalal sehingga semua tokoh diundang Presiden dalam acara tersebut.

Silaturahmi itu memperkuat hubungan dengan niat tulus, dan ada empat macam hubungan diantaranya bersalaman harus dilakukan secara kontinyu dan tidak harus ada kepentingan atau sesuatu yang diagendakan untuk melakukan silaturahim Jadi bukan ada kebutuhan yang mendesak saja, tetapi dekatkan diri dan memperkuat hubungan, katanya.

Kemudian silaturakmal, yakni membangun jaringan kerjasama dimana selesai acara seperti ini ada kerjasama yang positif.

"Tidak mungkin kita hidup sendirian, tetapi harus terbuka dan membangun kerjasama dengan siapa pun, tetapi yang bermanfaat dan positif," kata Said Aqil.

(erh)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini