Kapolri: Telegram Diblokir karena Jadi Saluran Komunikasi Favorit Kelompok Teroris

Achmad Fardiansyah , Okezone · Minggu 16 Juli 2017 10:57 WIB
https: img.okezone.com content 2017 07 16 337 1737421 kapolri-telegram-diblokir-karena-jadi-saluran-komunikasi-favorit-kelompok-teroris-yuOn98DQI0.jpg Kapolri Jenderal Tito Karnavian saat memberi keterangan kepada wartawan (Antara)

JAKARTA – Kapolri Jenderal Tito Karnavian mendukung penuh sikap pemerintah memblokir Telgram yang dianggap memuat banyak konten radikalisme dan terorisme. Menurutnya, Telegram selama ini menjadi media komunikasi favorit para teroris.

Telegram dianggap memiliki banyak keunggulan sehingga paling nyaman dipakai para teroris dalam berkomunikasi dan merancang teror. Selain mempu menampung hingga 10 ribu member, media sosial itu juga sulit terdeteksi.

“Jadi problem karena jadi tempat saluran komunikasi paling favorit oleh kelompok teroris," kata Tito selepas membuka Bhayangkara Run di Monas, Jakarta Pusat, Minggu (16/7/2017).

Mantan Ketua Badan Nasional Penanggulang Terorisme (BNPT) itu menyebutkan jika Telegram selama ini jadi saluran komunikasi para teroris di Tanah Air juga, seperti pelaku bom bunuh diri di Jalan Thamrin, kemudian Kampung Melayu. Pelaku penyerangan polisi di Masjid Falatehan, Jakarta dan bom panci di Bandung juga berkomunikasi via Telegram.

Karena alasan itulah, kata Kapolri, pihaknya kemudian meminta Kementerian Komunikasi dan Informasi untuk mengatasi permasalahan tersebut. Pemerintah akhirnya mengambil langkah tegas, menutup Telegram.

Pasca-diblokirnya Telegram, Tito mengatakan, pihaknya tetap akan memantau dan mengevaluasi apakah para teroris akan beralih ke aplikasi saluran media sosial lain dalam berkomunikasi.

Sebagaimana diketahui, penutupan Telegram sempat menuai pro-kontra di publik. Banyak yang mendukung, tapi tak sedikit yang mengecam sikap pemerintah karena dianggap otoriter dan membatasi hak warga berkomunikasi.

Sebelumnya Menkominfo Rudiantara menjelaskan pemblokiran Telegram dilakukan karena banyak memuat konten negatif seperti unsur radikalisme, terorisme, pornografi dan lainnya.

(sal)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini