nyalakan notifikasi untuk berita terbaru dari Okezone

Menilik Program Kontra Radikalisme di Lapas Klas II A Mataram

Dara Purnama, Jurnalis · Senin 12 Juni 2017 17:38 WIB
https: img-z.okeinfo.net content 2017 06 12 337 1714122 menilik-program-kontra-radikalisme-di-lapas-klas-ii-a-mataram-FxHS9vyJdS.jpg Lapas Klas II Mataram (Foto: Dara/Okezone)

MATARAM - Program kontra radikalisme intensif diberikan kepada para narapidana di Lembaga Pemasyarakatan (Lapas) Klas II A Mataram, Nusa Tenggara Barat (NTB). Program ini dilakukan untuk mengkonter ideologi radikal pada warga binaan.

Ada tiga narapidana kasus terorisme ditempatkan di Lapas Klas II A Mataram. Dua di antaranya adalah anak buah dari almarhum Santoso pemimpin kelompok teror Mujahiddin Indonesia Timur (MIT).

Kasubag Tata Usaha Lapas Klas II A Mataram, Muchtar menjelaskan pembinaan deradikalisasi dilakukan secara umum kepada penghuni lapas kecuali tiga napi kasus terorisme. Khusus napi terorisme kontraradikal diberikan secara khusus oleh pamong khusus melibatkan polisi dan BNPT.

"Kalau ke napi biasa kita konteksnya pembinaan secara umum dengan membuat semacam pondok pesantren. Pada minggu pertama bulan puasa telah diwisuda 30 orang santri angkatan pertama. Angkatan kedua 30 orang sedang berjalan," kata Muchtar di Lapas Klas II A Mataram, Senin (12/6/2017).

Muchtar menjelaskan untuk tiga napi kasus terorisme ditempatkan secara terpisah di blok khusus dan dilakukan pengawasan yang khusus. Pada bulan ramadan, tarawih berjamaah juga dilakukan di lapas. Namun untuk tiga napi terorisme mereka memisahkan diri.

"Kami enggak tau alasannya. Yang jelas mereka jamaah bertiga di ruangan kami belum tahu alasannya," paparnya.

Selama di lapas, ketiga napi kasus terorisme ini menurut Muchtar belum memiliki catatan negatif. "Tidak ada. Kalau salat (salat wajib) jamaah kadang di masjid ini mereka gabung juga," katanya.

Sementara itu, Kasubsi Kemanaan sekaligus pamong untuk kasus teroris Lapas Klas II Mataram, Gazali menjelaskan pendekatan terus dilakukan kepada napi terorisme ini agar mereka mau membuka diri dan selanjutnya dilakukan program kontra radikalisme khusus dari BNPT.

"Mereka biasa berinteraksi dengan napi lainnya yang beragama lain juga seperti Kristen, Hindu. Saya sudah tanyakan bagaimana menurut anda soal warga binaan di luar Muslim. Kata mereka biasa saja dengan warga binaan lainnya. Kami juga sering berkomunikasi dengan mereka," katanya.

Gazali mengatakan pihaknya juga mengkonfirmasi terkait interaksi warga binaan teroris ke warga binaan lainnya.

"Kata mereka, napi teroris itu ramah. Tapi kita belum tahu gimana yang jelas saya sebagai pamong tetap memantau dan memberikan pendekatan kepada mereka. Beberapa kali polisi dan BNPT datang mereka juga welcome. Malah bertanya kapan kami didatangani polisi dan BNPT lagi," katanya.

Ketiga napi teroris tersebut, terang Gazali tidak mengekslusifkan diri. Namun memang ada pada saat tertentu mereka memisahkan diri dari pergaulan antara warga binaan.

"Misalnya pada saat tarawih. Alasannya belum pernah saya tanyakan. Enggak bisa langsung frontal, harus pelan-pelan. Yang jelas yang pertama kali kita lihat sikap dan pandangan mereka terhadap napi lain. Kita harus step by step," tukasnya.

(aky)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini