Ketika Soekarno Bicara Lahirnya Pancasila & Hari Ulang Tahunnya 6 Juni

Randy Wirayudha, Okezone · Selasa 06 Juni 2017 14:00 WIB
https: img.okezone.com content 2017 06 06 337 1708854 ketika-soekarno-bicara-lahirnya-pancasila-hari-ulang-tahunnya-6-juni-KFtCIi20YW.png Presiden pertama RI Ir Soekarno (Foto: gahetna.nl)

PADA 1 Juni lalu, diperingati Hari Lahirnya Pancasila. Bicara Hari Lahir Pancasila, yang terbersit tidak lain adalah Soekarno. Si Bung Besar yang juga pernah menetapkan Hari Lahir Pancasila 1 Juni sebagai hari libur nasional pada 1964.

Makanya kalau ada yang bilang bahwa Presiden ketujuh RI Joko Widodo-lah (Jokowi) yang pertama kali menetapkan 1 Juni jadi tanggal merah, itu salah. Justru Presiden Jokowi-lah yang menghidupkan kembali spirit Bung Karno soal penetapan peringatan Hari Lahir Pancasila setelah lebih dari empat dekade “terpendam”.

Empat dekade dari Periode Orde Baru, hingga masa reformasi yang sudah banyak berganti presiden. Mulai dari BJ Habibie, KH Abdurrahman Wahid, Megawati Soekarnoputri, sampai Susilo Bambang Yudhoyono (SBY).

Tapi kali ini kita takkan bicara Hari Lahir Pancasila. Melainkan yang menggalinya, Bung Karno. Proklamator yang punya nama lahir Koesno Sosrodihardjo pada 6 Juni 1910.

“Putra Sang Fajar” yang lahir dari rahim seorang wanita Bali, Ida Ayu Nyoman Rai yang bersuamikan Raden Soekemi Sosrodihardjo. “Penyambung Lidah Rakyat” yang memupuk pendidikan dan spirit menggebunya dari sang mentor, HOS Tjokroaminoto dan mendobrak masa pergerakan nasional dengan membacakan teks proklamasi 17 Agustus 1945.

Bung Karno yang sampai sekarang namanya senantiasa harum, kendati sempat dicela yang macam-macam pasca-Tragedi 30 September-1 Oktober 1965, hingga memaksa rezimnya tumbang dua tahun berselang. Namanya senantiasa harum di berbagai hari nasional, seperti Hari Lahir Pancasila 1 Juni dan hari lahirnya sendiri hari ini, 6 Juni.

Soal namanya yang harum dan diagung-agungkan, Bung Karno sudah merasakannya sendiri dan dinyatakannya ke khalayak umum, dalam pidatonya pada peringatan Hari Lahir Pancasila 1 Juni 1964 di depan Gedung Pancasila, Jalan Pejambon, Jakarta Pusat. Berikut potongan pidatonya dalam buku ‘Filsafat Pancasila Menurut Bung Karno’:

Saudara-saudara, what is the matter with me? Kok sekarang ini saya diagung-agungkan? Bukan hanya pada hari Lahirnya Pancasila, mengagung-agungkan kepada saya...tanggal 6 Juni yang terkenal sebagai hari lahirnya Soekarno. Orang mau mengadakan perayaan-perayaan yang maha hebat. Dari kanan, dari kiri, dari muka, dari belakang, dari mana-mana saya mendapat permintaan agar supaya saya suka menerima persembahan-persembahan pada 6 Juni 1964.

 

Persembahan yang berupa macam-macam hal. Ada yang berupa tari-tarian, ada yang akan berupa nyanyian-nyanyian kanak-kanak, ada yang akan berupa hadiah-hadiah yang amat berharga. What is the matter with me? Kenapa tahun-tahun yang dulu tidak?

 

Bukan saya minta tahun-tahun yang dulu itu. Tidak. Tetapi kenapa sekonyong-konyong tahun ini orang hendak mengadakan peringatan hari ulang tahun Bung Karno dengan cara yang demikian hebatnya? Kenapa tahun ini orang memperingati hari Lahirnya Pancasila? Kenapa tahun ini orang mengagung-agungkan namanya Soekarno sebagai pencipta daripada Pancasila? What is the matter with me?

 

Mengenai hari ulang tahun saya yang akan datang, jikalau dikaruniai Tuhan, saudara-saudara, sebab mati-hidup manusia ada di tangan Tuhan, saya hendak berkata sebagai berikut: Saya terima segala pernyataan cinta kepada saya yang akan berupa hadiah atau nyanyian-nyanyian atau kesenian-kesenian yang hendak dipersembahkan kepada saya pada nanti hari 6 Juni 1964. Saya mengucap terima kasih dan saya mengatakan Insya Allah akan saya terima. Tetapi saudara-saudara, Insya Allah pula, pada tanggal 6 Juni yang akan datang itu saya tidak ada di Jakarta.

 

Saudara-saudara barangkali mengetahui, bahwa telah tercapai persetujuan antara Tengku Abdul Rahman dengan Presiden Soekarno untuk bertemu satu sama lain, mengadakan perundingan satu dengan yang lain. Dan itu adalah satu hal yang sangat penting, saudara-saudara. Maka menurut rancangan, saya Insya Allah akan meninggalkan Tanah Air nanti pada tanggal 5 Juni, sehingga pada tanggal 6 Juni itu saya tidak ada di tengah-tengah saudara-saudara. Saya akan meninggalkan tanah air untuk membela tanah air Indonesia. Saya akan meninggalkan tanah air untuk berjuang mati-matian untuk membela Indonesia. Saya akan meninggalkan tanah air untuk mengemban Amanat Penderitaan Rakyat.

 

Dalam pada saya mengucap terima kasih atas maksud dan niat yang baik daripada banyak golongan untuk merayakan hari ulang tahunku pada tanggal 6 Juni yang akan datang ini dengan cara yang sehebat-hebatnya, dalam mengucapkan terima kasih itu, saya mohon kepada seluruh rakyat Indonesia doa restu, supaya saya di luar negeri di dalam berhadapan muka dengan wakil-wakil daripada Malaysia, bisa mempertegakkan kemerdekaan dan kepentingan Republik Indonesia dengan cara yang sebaik-baiknya.

 

Nanti jikalau dikehendaki Tuhan, saya kembali lagi ke tanah air dengan membawa hasil yang baik, pada waktu itulah segala persembahan-persembahan, entah yang berupa kesenian, entah yang berupa apapun akan bisa saya terima. Saudara-saudara, maka kita sekarang ini berjalan terus, berjalan terus dengan semboyan yang saudara-saudara sudah kenal satu sama lain: Onward, ever onward, no retreat”

(raw)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini