Share

Membaca Pesan Presiden Jokowi

Tim Okezone, Okezone · Kamis 18 Mei 2017 18:24 WIB
https: img.okezone.com content 2017 05 18 337 1694407 membaca-pesan-presiden-jokowi-aWSLXgLHdu.jpg Presiden Joko Widodo (foto: Okezone)
 

JAKARTA - Presiden Joko Widodo (Jokowi) bertemu dengan sejumlah tokoh agama di Istana Negara, Jakarta Pusat pada Selasa 16 Mei 2017. Dalam pertemuan mendadak itu yakni membahas silaturahmi kebangsaan.

"Jangan kita saling mendemo, habis energi kita untuk hal-hal yang tidak produktif itu. Kita adalah saudara”, tegas Presiden Jokowi.

Pertikaian yang terjadi pasca-pilkada, terutama Pilkada DKI Jakarta menghadirkan politik primodialisme di negeri ini. Seharusnya momentum pilkada adalah proses pergantian pemimpin.

Selain itu, vonis yang dijatuhkan majelis hakim terhadap terpidana penodaan agama, Gubernur DKI Jakarta nonaktif, Basuki Tjahaja Purnama (Ahok) tidak diterima oleh pendukung fanatiknya. Mereka kemudian menyuarakan pendapat untuk membebaskan Basuki.

Demo-demo yang mengarah pada isu Suku, Agama, Ras, dan Antargolongan (SARA) juga terjadi di beberapa daerah. Kepolisian pun terkesan tidak bersikap adil dalam menangani aksi-aksi menyuarakan pendapat ini. Peristiwa tersebut sangat kental terkesan memecah belah persatuan.

"Negara kita sedang ‘sakit’ dari dulu, dan sekarang semakin parah. Karena tidak ada dokternya", kata Budayawan Radhar Panca Dahana, dalam diskusi program Talkshow Polemik On TV di iNews TV.

Pernyataan Radhar ini bukan tidak mendasar. Menurut Radhar, banyak pihak yang tidak memahami kebhinnekaan dengan baik. Selain itu, kita sendiri juga sering tidak tahu anasir kebhinekaan itu ada dalam diri kita.

Untuk merajut kembali kebhinnekaan yang telah dibangun sejak masa perjuangan, kita membutuhkan seorang ‘dokter’ yang mampu mengobati.

Pertanyaannya, siapakah ‘dokter’ yang mampu mengobati dan merekatkan kembali persatuan di negara kita ini?

Simak diskusi selengkapnya pada program talkshow yang dipandu oleh jurnalis senior Latief Siregar, bersama: Ketua PP Muhammadiyah, Hajriyanto Thohari; Sekjen PBNU, Helmi Faishal Zaini; Juru Bicara PGI, Jeirry Sumampow; Kabag Mitra Biro Penerangan Masyarakat (Penmas) Divisi Humas Polri, Kombes Awi Setiyono; Budayawan, Radhar Panca Dahana; Pakar Komunikasi Politik, Afdal Makkuraga.

Diskusi dalam format Sidang Istimewa yang dipimpin oleh Dea Tunggaesti ini hadir dalam program Polemik On TV episode "Jaga Persatuan Sudahi Pertikaian" pada Kamis (18/05/2017) pukul 19.00-20.30 WIB hanya di iNews TV.

(wal)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini