Kala Presiden Jokowi Tunggangi Motor Pustaka Seharga Rp1,5 Juta

Fakhrizal Fakhri , Okezone · Selasa 02 Mei 2017 16:40 WIB
https: img.okezone.com content 2017 05 02 337 1681256 kala-presiden-jokowi-tunggangi-motor-pustaka-seharga-rp1-5-juta-qTsL9xS8Ug.jpg Presiden Jokowi Naik Motor Pustaka Milik Sugeng Seharga Rp1,5 Juta

JAKARTA - Penggiat minat baca terlihat semringah kala Presiden Joko Widodo (Jokowi) menghampiri sejumlah alat transportasi yang digunakan mereka dalam beraktifitas guna menumbuh kembangkan budaya baca anak-anak Indonesia.

Mulanya, mantan Gubernur DKI Jakarta itu menghampiri bemo dan angkutan umum (angkot) yang berisikan buku-buku‎ bacaan. Selanjutnya, Presiden juga melihat-lihat 'pedati pustaka' yang dimodifikasi dari sepeda motor Honda Grand.

Aktivitas itu pun menjadi menarik oleh pewarta lantaran orang nomor satu di Indonesia itu juga sempat menunggangi motor pustaka yang dibawa langsung oleh penggiat minat baca yang bernama Sugeng asal Lampung.‎

"Pak, motor ini Honda GL Max yang saya beli cuma mesin dan sasisnya saja. Saya mohon kepada Bapak untuk menaikinya Pak. Ini motor pustaka namanya," kata Sugeng kepada Presiden Jokowi di Istana Negara, Gambir, Jakarta Pusat, Selasa (2/5/2017).

Mendengar permintaan pria lulusan SMA itu, Presiden Jokowi pun tersenyum. Selanjutnya, ia pun menunggangi motor pustaka tersebut seraya ‎berpose menunjukkan jarinya ala pendukung Persija Jakarta "The Jak Mania". Alhasil, Sugeng dan para penggiat minat baca lainnya pun melakukan pose yang sama dengan yang dilakukan Jokowi.

Usai kendaraan motor pustakanya ditunggai Presiden, Sugeng pun bercerita asal mulanya mengabdi sebagai penggiat ‎minat baca di tanah kelahirannya Lampung. Kala itu, sambung dia, ide motor pustaka itu tercetus atas keprihatinan dirinya lantaran minimnya budaya baca bagi anak-anak sekolah di sana.

"Idenya saya itu dari keprihatinan diri saya sendiri. Saat saya tanya 'dimana ada perpustakaan' terus dijawab oleh mereka perpustakaan itu apa mas? Dari situlah saya dari hati saya dan alhamdulillah ide motor pustaka itu ada," kata Sugeng.

Sugeng mengaku untuk keperluan sehari-harinya, ia bekerja sebagai tukang tambal ban ‎pada pagi hari. Sementara siang harinya, pria yang juga tengah menimba ilmu di Universitas Terbuka (UT) itu baru membawa motor pustaka masuk dari satu kampung ke kampung lainnya untuk memberikan buku-buku bacaan kepada anak-anak di sana.

"‎Ada empat desa, ada Desa Pasuruan, Desa Klaten dan Desa Kuripan itu biasa saya pakai akses motor pustaka minimal ada 40 orang yang membaca dan ada satu desa yang biasanya saya harus dua hari di sana karena minat bacanya tinggi. Saya sekali jalan bawa 120-an buku karena motor pustaka nggak bisa muat banyak," bebernya.

Sugeng ‎mengaku merogoh kocek sekira Rp1,5 juta yang dikumpulkannya selama empat bulan dalam membangun motor pustaka. Sebab, ketiadaan dana membuat dirinya melakukan "kanibalisme" material dari bahan-bahan motor pustaka tersebut. "Ini saya beli cuma mesin GL Max Tahun 1986 ‎dan sasisnya saja. Selebihnya saya nyicil beli tangki, joknya vesva dan asesoris lainnya itu pakai mobil Carry," ungkapnya.

Pedati Pustaka dari Cirebon

Lain halnya dengan cerita Sugeng ‎yang membangun motor pustaka dengan keterbatasan biaya. Kisah inspiratif juga datang dari Rubianto (31) yang membangun pedati pustaka di Cirebon, Jawa Barat.

Bagi pria lulusan SMP itu menjadi penggiat minat baca dilakukan lantaran hobinya yang juga suka membaca. Menurut dia, ketertarikan membangun budaya baca kepada anak-anak Indonesia merupakan cara dirinya untuk membangun kampungnya di Cirebon agar mampu bersaing lewat generasi muda.

"Saya sebelum memberikan buku bacaan jadi saya berikan anak-anak itu mainan (congklak) supaya dia nyaman ada juga buku gambar. Jadi kalau anak-anak itu sudah nyaman sedikit demi sedikit saya sodorkan buku bacaan agar dia mau membaca," ujar Rubianto.

Rubianto juga mengaku membangun pedati pustaka ‎selama empat bulan lamanya. Lewat skat-skat pada pedati itu, ia membedakan mana buku yang akan dibaca anak-anak, remaja bahkan buku untuk orangtua seperti buku resep masakan yang digemari oleh kaum hawa.

"‎Saya biasa mangkal di desa Arjawinangun, Bayalangu. Ini pedati pustaka saya buat sedemikian rupa. Banyak yang bilang (kerbau) itu seperti lambang parpol tertentu. Tapi kalau kita lihat dalam membaca cerita dahulu, kalau pedati itu identik dengan kerbau gitu lho jadi bukan banteng," cerita Rubianto.

Rubianto mengaku ingin mengahrumkan desanya lewat gerakan sosial penggiat minat baca.‎ Tak ada imbalan yang ingin diterimanya. Bagi dia, sebaik-baiknya hidup adalah bermanfaat bagi orang lain.

"Saya Termotivasi dengan apa yang terjadi di hidup saya sendiri, karena dulu saja sekolah nggak sampai SMP akan tetapi ketika saya bergelut dengan buku alhamdulillah saya bisa tahu ini dan itu. Makanya saya tulis di pedati pustaka ini 'mari membaca buku karena buku jendela dunia'," tuturnya.

Saat ini pedati pustaka telah beroperasi di delapan desa yang ada di Kabupaten Cirebon tersebut. Bahkan, lanjut Rubianto, dirinya telah menyulap rumahnya menjadi perpustakaan umum yang ‎dapat digunakan oleh siapa pun yang ingin membaca.

"‎Kalau ada yang minjam ya saya kasih. Tidak dipulangkan juga enggak apa-apa artinya orang-orang suka sama buku saya. Sekarang juga saya banyak dapat sumbangan buku dari orang-orang setelah saya ditulis di Kompasiana dan Radar Cirebon," tutupnya.

Rubianto menambahkan, bahwa bagi siapapun yang ingin menyumbangkan bukunya lewat gerakat penggiat minat baca untuk Cirebon dapat menghubunginya lewat media sosial (medsos) Facebook, Twitter dan Istagram di ‎akun Robi bin Masiti. "Kalau nama Masiti itu adalah nama ibu saya," tutup pria yang bekerja serabutan itu.

1
2

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini