Share

NEWS STORY: Memahami Fakta, Konflik Indonesia-Belanda Tidaklah Hitam Putih!

Randy Wirayudha, Okezone · Minggu 16 April 2017 10:06 WIB
https: img.okezone.com content 2017 04 15 337 1668298 news-story-memahami-fakta-konflik-indonesia-belanda-tidaklah-hitam-putih-yO47YcvCWZ.jpg Diskusi terbatas "Konflik Indonesia-Belanda 1945-1949 dalam Pandangan Generasi Terkini (Foto: Randy Wirayudha)

BERBAGAI fakta masih banyak yang tersembunyi terkait konflik Indonesia-Belanda di masa 1945-1949. Buat orang Belanda, masa ini jadi masa Perang Dekolonisasi. Buat kita, periode ini lebih dikenal sebagai perang revolusi fisik kemerdekaan RI.

Coba kita cek buku-buku pelajaran semasa sekolah dulu. Mulai dari SD sampai kuliah. So far, kurikulum tentang sejarah mentok dengan “hitam-putih” soal berbagai kejadian sejarah yang terlukis antara dua negara.

Hitam-putih di mana orang Belanda itu pihak yang jahat, pihak yang salah. Bahwa pihak Indonesia yang berjuang itu bagai melakukan perjuangan suci. Namun kalau mau menggali lebih dalam, ternyata sejarah kita dengan Negeri Tulip di periode itu tak sehitam-putih yang kita pikirkan selama ini.

Tapi sayangnya ya seperti itu yang terpatri di kepala generasi muda terkini di Indonesia. Kerangka pemikiran di mana ya namanya Belanda sebagai penjajah itu, pihak yang jahat dan ini yang jadi bahan diskusi terbatas bertema “Konflik Indonesia-Belanda (1945-1949) dalam Pandangan Generasi Terkini” di aula Museum Perumusan Naskah Proklamasi, Menteng, Jakarta Pusat, Sabtu 15 April 2017.

“Sejarah (perang revolusi Indonesia-Belanda) itu tidak hitam-putih. Bahwa Belanda itu jahat. Indonesia pihak yang paling benar. Pemikiran anak-anak muda sekarang itu seperti demikian,” ungkap Hendi Jo, salah satu pembicara diskusi tersebut.

“Mobilisasi tentara Belanda (sukarela dan wajib militer) pada 1945-1946, itu ternyata pernah ada catatannya sekitar 4.000 tentara yang menolak dikirim ke Indonesia. Mereka tahu apa yang akan mereka hadapi, di mana mereka akan melawan orang-orang yang sudah merdeka,” imbuhnya.

Namun, lanjut Hendi Jo, para serdadu Belanda lainnya sudah jadi korban politik. Pemerintah Belanda pasca-Perang Dunia II pemikirannya sangat kapitalistik. Pemikiran tentang bagaimana caranya mereka bisa mendirikan koloni mereka lagi di Indonesia, setelah sempat hilang di zaman pendudukan Jepang (1942-1945).

“Kalaupun ada yang tetap dikirim, jadinya beberapa membelot. Seperti Poncke Princen. Dia bahkan berani membunuh teman-temannya sendiri (sesama orang Belanda ketika sudah bergabung ke TNI),” sambung Hendi lagi.

“Orang-orang Belanda yang dikirim ke sini, sama seperti kita. Punya hati dan nurani, punya sisi kemanusiaan juga. Cuma mereka jadi korban politik (pemerintah) Belanda,” ujarnya.

Bahwa memang serdadu Belanda beberapa kali tercatat pernah melakukan kejahatan dalam aksi-aksi mereka terhadap warga sipil. Seperti di Sulawesi Selatan, Bekasi, Padang, Rengat (Provinsi Riau) dan yang sempat bikin geger, Rawagede (Karawang).

“Ini yang selama ini disangkal Belanda. Belanda adalah negara yang hidup dalam penyangkalan. Orang-orang Belanda saat ini mengatakan bahwa apa yang terjadi di Indonesia di masa Aksi Polisionil, ya it’s not so bad. Yang jadi korban hanya dianggap ekses dan jumlahnya tak seberapa,” timpal jurnalis sekaligus peneliti muda Belanda Marjolein van Pagee yang juga jadi pembicara.

“Di Belanda sendiri, sejarah kolonialisme (Hindia Belanda) hanya jadi catatan kaki. Padahal menurut saya sejarah kolonialisme itu fundamental. Ya karena Belanda dibangun karena kolonialisme. Tapi tetap (pemerintah Belanda) menyangkal,” lanjutnya.

Namun perlu diingat juga, bahwa berbagai elemen pasukan republik, entah itu laskar atau Tentara Keamanan Rakyat (TKR, kemudian TRI dan terakhir jadi TNI), juga pernah melakukan tindakan yang kelewatan. Terutama pada periode akhir 1945 hingga awal 1946 di mana selama ini di buku-buku sejarah, periode itu dikenal sebagai “Masa Bersiap”.

Sebuah masa di mana orang-orang Indo Belanda (orang Belanda yang lahir di Hindia Belanda/Indonesia), orang yang dituduh mata-mata Belanda, orang-orang yang pernah bekerja dengan pemerintah Hindia Belanda, diburu di mana-mana dan dihabisi.

Satu dari sekian contohnya adalah pembantaian di Sidoarjo, Jawa Timur. Salah satu korbannya adalah ayah Wieteke van Dort, penyanyi Indo Belanda yang terkenal dengan tembangnya “Geef Mij Maar Nasi Goreng”.

“Apapun yang terjadi dalam sejarah dan jadi fakta, kita harus siap menerima. Memang yang namanya zaman perang, saling bunuh antartentara itu biasa. Tapi beda cerita kalau yang dibunuh itu warga sipil,” sambung Hendi Jo lagi.

“Di zaman 1945-1949, tidak hanya Belanda yang melakukan kejahatan. Kita harus sama-sama mengakui dan menjauhkan diri dulu dari hal-hal politis untuk bisa memahami dan jujur, bahwa sejarah Indonesia-Belanda itu tidak sehitam-putih yang kita pahami selama ini,” tandasnya.

(raw)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini