Nah Lho Salah Tangkap, Oknum Polisi Dilaporkan ke Propam Polri

Fakhrizal Fakhri , Okezone · Sabtu 18 Maret 2017 18:30 WIB
https: img.okezone.com content 2017 03 18 337 1646228 nah-lho-salah-tangkap-oknum-polisi-dilaporkan-ke-propam-polri-cxToXWp9y0.jpg LBH Jakarta bersama Sonah menggelar jumpa pers terkait salah tangkap yang dilakukan oknum polisi kepada Asep. Foto Fakhrizal Fakhri/Okezone

JAKARTA - Tak Terima anaknya ditangkap lantaran diduga sebagai salah satu pelaku perampokan dengan kekerasan, Sonah melaporkan oknum anggota polisi yang bertugas di Polsek Taman Sari ke Devisi Perofesi dan Pengamanan (Propam) Polri.

Perempuan paruh baya asal Serang, Banten itu mengaku sang anak bermana Asep Sunandar (23), mendapat kekerasan berupa pemukulan hingga ditembak di bagian kakinya. Padahal Asep, kata Sonah, bukan merupakan pelaku perampokan dengan kekerasan tersebut. Laporan itu teregister Nomer: SPSP2/1011/III/2017/Yaduan.

"Pada dini hari anak saya ditangkap. Tangan anak saya diikat dan dipukul sampai pingsan. Sekarang kakinya juga ditembak. Anak saya juga disetrum disuruh mengaku. Karena tidak tahan makanya Asep mengaku," kata Sonah sambil menagis di Kantor Lembaga Bantuan Hukum (LBH) Jakarta, Sabtu (18/3/2017).

Sonah mengaku Asep dituding sebagai salah seorang pelaku dari kasus perampokan dan kekerasan pada 11 Agustus 2016. Saat itu korban bernama Dewi berada di dalam Bajaj, lalu tiba-tiba terdapat 4 orang mengendarai 2 sepeda motor menjambret tas Dewi. Para pelaku juga sempat mengancam dengan golok.

"Jadi anak saya dituduh sebagai salah satu pelakunya. Padahal tidak, karena pelaku bernama Adit dan Adit juga sudah mengaku bahwa Asep bukan merupakan temannya menjambret saat itu," cerita Sonah.

Sonah pun meminta LBH Jakarta untuk mengawal kasus salah tangkap yang menimpa anaknya. ‎Salah seorang pengacara LBH Jakarta, Bunga Siagian mengatakan, bahwa kasus salah tangkap kerap terjadi di Indonesia. Menurut dia, berbagai penyiksaan kerap dilakukan polisi kepada terduga pelaku kejahatan.

"Negara seakan melakukan pembiaran. Padahal jika dilihat secara hukum internasional itu buruk. Dan Indonesia bisa dikenakan pidana di pengadilan internasional karena melanggar HAM," ujar Bunga.

‎Bunga menjelaskan, ‎posisi Asep sangat lemah lantaran pihaknya tidak memberikan bantuan hukum saat di BAP. Adapun LBH Jakarta baru mengetahui adanya kasus salah tangkap tersebut setelah masuk ke persidangan.

"‎Kasus ini akan masuk ke tahapan pembuktian. Tapi dari jalannya persidangan pelaku Adit itu juga sudah mengakui bahwa klien kami bukan pelaku perampokan," tegasnya.

(fzy)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini