nyalakan notifikasi untuk berita terbaru dari Okezone

FOKUS: Naaah! Begini Dong SBY dan Jokowi Akur

Randy Wirayudha, Jurnalis · Kamis 09 Maret 2017 19:19 WIB
https: img-k.okeinfo.net content 2017 03 09 337 1638651 fokus-naaah-begini-dong-sby-dan-jokowi-akur-cW4MKDiyk6.jpg Presiden RI Joko Widodo (kiri) terima kedatangan Presiden keenam RI Susilo Bambang Yudhoyono di Istana Merdeka (Foto: Antara)

AKHIRNYA, Presiden RI Joko Widodo (Jokowi) dan Presiden keenam RI sekaligus Ketua Umum Partai Demokrat Susilo Bambang Yudhoyono (SBY), bertatap muka hari ini, Kamis (9/3/2017) di Istana Merdeka, Jakarta Pusat. Padahal sebelumnya, keduanya sempat saling nyeletuk terkait berbagai persoalan nasional.

Tentu publik masih ingat soal berbagai kicauan SBY di akun Twitter-nya yang bernada kritik dan sindiran terhadap pemerintahan Jokowi. Sebaliknya, Presiden Jokowi acap menanggapinya secara terbuka via wawancara dengan para wartawan.

Ada kesan jarak yang terjaga di antara keduanya. Kebekuan kian menjadi-jadi seiring bergulirnya persaingan di Pilkada DKI Jakarta 2017, serta saat SBY melontarkan pernyataan bahwa ada orang-orang di sekeliling Presiden Jokowi yang menghalang-halangi dirinya untuk bisa bertemu Jokowi.

Akan tetapi ketegangan yang ada selama ini, sontak mencair saat SBY akhirnya bisa bertandang ke Istana untuk bertatap muka dengan Presiden Jokowi. Tentu ini jadi momen yang positif, meski selalu ada tanya tentang apa saja yang dibicarakan di antara keduanya.

(Baca: Ketika SBY Datangi Istana untuk Bertemu Jokowi)

Sedikitnya, keterangan tentang pertemuan mereka disampaikan SBY pada jumpa pers pasca-pertemuan zonder (tanpa) peliputan live media. Dalam pernyataannya, SBY meluapkan kegembiraannya karena pada akhirnya bisa ‘ngobrol’ langsung dengan Jokowi.

“Kita gembira bertemu Pak Jokowi, bapak presiden kita bisa meluangkan waktu. Suasana baik sekali, jadi ajang tabayyun. Jokowi masih percaya (bahwa) SBY ingin berbuat yang terbaik untuk negara ini,” ungkap SBY di Istana, Kamis (9/3/2017).

Sementara Presiden Jokowi, menguraikan bahwa pertemuan ini sedianya sudah direncanakan dan tentu waktunya sudah diatur. Kebetulan, hari ini bisa bertemu karena sama-sama punya waktu luang.

“Seperti yang sudah saya sampaikan dan saya akan mengatur waktu untuk beliau, Pak SBY dan hari kini Alhamdulillah beliau ada waktu dan saya juga ada. Lalu kita janjian untuk bertemu,” timpal Jokowi.

“Pertemuannya ya telah direncanakan. Tapi kemudian saya enggak ada waktu, tapi beliau ada. Saya ada waktu, beliau lagi sibuk. Sekarang lah ya waktunya bertemu,” imbuhnya sembari menambahkan bahwa ada isu-isu nasional pula yang dibicarakan keduanya.

Sebagai mantan Presiden, SBY ingin sadar diri bahwa kalaupun ada kritik atau saran terhadap pemerintahan sekarang, dia takkan masuk ke teknis urusan pemerintahan. SBY mempercayakannya pada Presiden Jokowi sebagai orang nomor 1 di RI saat ini.

“Presiden hidupnya tak tenang. Maju kena, mundur kena. Saya juga mengalami saat memimpin RI 10 tahun. Saya senang sekali beliau (Jokowi) bisa mendengarkan san saya bisa menjelaskan dan juga mendengar penjelasan dari beliau ini sehingga menjadi awal yang baik,” sambung SBY lagi.

“Karena tidak baik kalau ada miss-komunikasi, miss-informasi di antara beliau dengan saya ataupun di ntara kami-kami yang pernah memimpin negara ini. Ini harapan kami berdua. Saya lebih mendudukkan diri sebagai mantan presiden saja. Kita tidak masuk ke teknis karena itu akan mengalir saja,” tambahnya.

Tidak lupa, SBY juga melayangkan sanjungan terhadap pemerintahan RI saat ini yang terus-menerus punya peran di panggung internasional. Misalnya dengan sukses menggelar event Indian Ocean RIM Association (IORA), serta perjamuan terhadap Raja Arab Saudi Salman bin Abdulaziz al-Saud.

"Ini menunjukkan bahwa Indonesia terus berperan di panggung Internasional. Kami juga mendiskusikan bahwa negara ini harus maju negara Pancasila, negara yang Bhinneka Tunggal Ika yang mengayomi semua,” tutur SBY lagi.

Terakhir, tercetus harapan pula dari SBY dan Jokowi, bahwa tradisi politik seperti ini bisa terus berjalan ke depannya antara kepala negara yang sebelumnya menjabat dengan suksesornya.

"Tadi Pak SBY sudah menyampaikan bahwa ini tradisi politik dan ini akan kita tradisikan sebagai budaya estafet pembangunan yang sebelumnya diteruskan oleh pembangunan presiden berikutnya. Kalau estafet itu terus bisa dilakukan, budaya itu kita miliki negara ini, gampang mencapai sebuah titik target bagi-bagi kebaikan rakyat, bagi kebaikan negara,” papar Jokowi.

‎”Pergantian dari presiden sebelumnya ke presiden berikutnya baru perlu ditradisikan. Yang kedua juga tadi budaya estafet itu harus kita miliki sehingga jangan sampai apa kita memulai terus dari awal memulai dari apa itu yang harus kita tradisikan,” lanjutnya.

“Mestinya ini berlanjut untuk di masa yang akan datang. Jadi perasaan saya, bersyukur, gembira, dan ada klub Presiden dan mantan Presiden juga akan baik seperti ini berkomunikasi,” tandas SBY menimpali pernyataan Jokowi.

(raw)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini