Polisi 'Kebut' Berkas Perkara Kasus Penemuan Bom Panci

Dara Purnama, Okezone · Senin 23 Januari 2017 12:38 WIB
https: img.okezone.com content 2017 01 23 337 1598461 polisi-kebut-berkas-perkara-kasus-penemuan-bom-panci-NFtx5DouvZ.jpg Polri saat gelar perkara kasus Bom Panci (foto: Okezone)
 

JAKARTA - Penyidik Densus 88 tengah berupaya melengkapi berkas perkara kasus penemuan bom panci berdaya ledak tinggi di Bintara Jaya 8, Bekasi Barat, Kota Bekasi.

Kadiv Humas Polri Irjen Boy Rafli Amar menjelaskan, penyidik menargetkan akan rampung dalam sebulan berkas perkara tersebut dan dan siap dilimpahkan ke kejaksaan.

"Penyidik itu punya waktu 30x4 hari. Sekarang baru pendalaman untuk melengkapi berkas perkara. Tapi kurang lebihnya tinggal 30 harian lagi berkas perkara tuntas, dan bisa diserahkan untuk melaksanakan sidang," kata Boy di Kompleks Mabes Polri, Jalan Trunojoyo, Jakarta Selatan, Senin (23/1/2017).

Sebelumnya, Densus telah menangkap 14 tersangka. Penangkapan berawal pada Sabtu 10 Desember 2016. Diamankan tiga terduga teroris yakni Muhammad Nur Solikin alias Abu Ghurob, Agus Supriyadi alias Agus bin Panut Harjo Sudarmo, dan Diyan Yulia Novi alias Ayatul Nissa Binti Asnawi di Bintara dan bawah Fly Over Kemang.

Solikin berperan sebagai perekrut calon "pengantin" bom bunuh diri dan menerima transfer dana dari pentolan ISIS asal Indonesia yang berada di Suriah, Bahrun Naim. Agus Supriyadi berperan sebagai orang yang membawa bahan peledak bom panci menuju Jakarta dari Jawa Tengah. Sementara Diyan Yulia Novi adalah calon "pengantin" yang direkrut oleh Solikin untuk meledakan bom panci di Istana Negara.

Masih di hari yang sama, Densus 88 menangkap Suyanto alias Abus Iza di Sabrang Kulon, Matesih, Karanganyar, Solo, Jawa Tengah. Dia berperan sebagai pihak yang menyediakan rumahnya sebagai tempat perakitan bom panci dan mengantar bom tersebut ke Bintara Jaya 8, Bekasi Barat, Kota Bekasi yang merupakan tempat kos yang disewa oleh Diyan menggunakan uang dari Bahrun Naim.

Keesokan harinya, Minggu 11 Desember 2016, Densus 88 kembali menangkap tiga orang terduga teroris, yakni Khafid bin Antoni alias Toni bin Rifai yang berperan sebagai orang yang belajar merakit bom panci langsung dari Bahrun Naim dari jarak jauh, selanjutnya Arida Putri Maharani berperan sebagai orang yang mengetahui rencana pembuatan bom sekaligus fasilitator yang menerima dana dari Bahrun Naim. Terakhir Wawan Prasetyawan yang berinisiatif menyimpan bahan peledak dan komponen bom yang dirakit oleh Nur Solikin. Mereka diamankan di tempat berbeda yakni Ngawi, Jawa Timur, Solo, Jawa Tengah dan Klaten Jawa Tengah.

Berdasarkan hasil pengembangan dari tersangka Wawan Prasetyawan, Densus 88 mengungkap sekaligus menangkap pelaku teror lainnya yakni Imam Syafii, Sumarno dan Sunarto yang terlibat teror di Alfamart Solo pada 25 November 2016 dan pelemparan bom molotov di Restoran Candi Baru.

Dibantu oleh Polres Tasikmalaya, pada Kamis 15 Desember 2016, Densus 88 menangkap terduga teroris perempuan berinisial TS alias UA di Tasikmalaya. Pada awalnya TS juga diamankan dengan suaminya HG. Namun karena dianggap tidak terlibat, HG akhirnya dipulangkan. TS sendiri berperan sebagai orang yang menawarkan jihad terhadap calon "pengantin" bom panci yang ditemukan di Bekasi, Diyan Yulia Novi.

Beranjak ke Purworejo, Densus juga menangkap teroris perempuan Ika Puspitasari warga Dusun Tegalsari Desa Brenggong, Kabupaten Purworejo. Berdasarkan hasil pemeriksaan Ika disiapkan sebagai calon "pengantin" bom bunuh diri lainnya untuk diledakkan di Bali.

Selanjutnya Minggu 18 Desember 2016 Densus 88 kembali menangkap terduga teroris Tri Setiyoko (TS) warga Kampung Sewu RT 01 RW 07 Kecamatan Jebres Solo. Tri diduga berhubungan dengan kejadian bom molotov di Serengan Solo dan Grogol Sukoharjo.

Satu jam usai penangkapan, Densus kembali menangkap terduga teroris lainnya bernama Yasir di Semanggi, Solo, Jawa Tengah. Peran keduanya sebagai peracik bom yang akan diledakkan di Bali dengan "pengantin" bom Ika Puspitasari.

(wal)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini