Pemuda Muhammadiyah: Polisi Harus Kedepankan Hukum Tangani Terorisme

Ulung Tranggana, Okezone · Jum'at 16 Desember 2016 14:24 WIB
https: img.okezone.com content 2016 12 16 337 1568344 pemuda-muhammadiyah-polisi-harus-kedepankan-hukum-tangani-terorisme-PnrkarFLMC.jpg Ketua Umum Pemuda Muhammadiyah (Foto: Okezone)

JAKARTA – Ketua Umum Pemuda Muhammadiyah Dahnil Anzar Simanjuntak meminta polisi sesuai dengan koridor hukum (law justice system) dalam melakukan pemberantasan terorisme di Indonesia.

Merespons penangkapan terduga teroris bom panci di Bekasi dan beberapa orang jaringannya yang tersebar di berbagai tempat, kata Dahnil, PP Pemuda Muhammadiyah mendukung upaya kepolisian, khususnya Detasemen Khusus (Densus) 88 Antiteror Polri dalam memberantas perkembangan aktivitas terorisme di Indonesia.

“Kita dukung bersama sebagai upaya untuk melakukan perlawanan terhadap teror,” jelas Dahnil kepada Okezone, (Jumat (16/12/2016).

Ia meminta dalam proses pemberantasan jaringan teroris di Indonesia, polisi jangan sampai justru menyebabkan lahirnya teroris baru. Dahnil berpendapat hal itu bisa terjadi apabila kepolisian tidak mengedepankan prinsip-prinsip hukum dalam penindakannya.

Pria asal Sumatera Utara ini mencontohkan kejadian salah tangkap yang menimpa Siyono di Klaten, Jawa Tengah, hingga berujung kematian tanpa proses hukum yang kuat justru melahirkan dendam dan melahirkan teror yang lebih besar. “Ini harus diperhatikan secara serius oleh polisi,” tegas Dahnil.

Sekadar diketahui, 10 terduga teroris yang sudah ditangkap yakni Diyan Yulia Novi selaku calon "pengantin" bom, Nur Solikin sebagai pimpinan dalam kelompok ini yang juga merekrut anggota dan Supriyadi, dan Suyatno alias Abu Iza yang diamankan di Karanganyar, Jawa Tengah.

Setelah pengembangan penyidikan, dilakukan penangkapan terhadap tersangka lainnya yang masih berkaitan dengan bom panci ini. Mereka adalah Khafid Fathoni, Arinda Putri Maharani, dan Wawan Prasetyawan. Ketujuh orang tersebut kini sudah ditetapkan sebagai tersangka.

Bahkan kemarin, Kamis 14 Desember 2016, kembali ditangkap pasangan suami-istri di Tasikmalaya dengan inisial TS alias UA dan HG. Pasangan ini diduga adalah orang yang menawarkan jihad atau memberikan motivasi kepada Diyan serta mempertemukannya dengan Nur Solikin. Keduanya sudah diamankan di Mapolresta Tasikmalaya.

Terbaru, ditangkap mantan tenaga kerja wanita di Hong Kong. Perempuan berinisial IP (35) itu diamankan Densus 88 Antiteror Polri di rumahnya di Dusun Tegalsari, Desa Brenggong, RT 01 RW 06, Kabupaten Purworejo, Jawa Tengah.

Selain itu, Densus 88 juga menggeledah rumahnya dan rumah orangtuanya. Ketika ditangkap, IP sedang berada di musala yang jaraknya dekat dengan kediamannya.

(ulu)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini