Ahok Menangis di Persidangan, Politikus Golkar: Itu Pencitraan!

Fakhrizal Fakhri , Okezone · Rabu 14 Desember 2016 10:50 WIB
https: img.okezone.com content 2016 12 14 337 1566133 ahok-menangis-di-persidangan-politikus-golkar-itu-pencitraan-7aCTd0i4Cn.jpg Gubernur DKI Jakarta nonaktif Basuki Tjahaja Purnama (Foto: Dok. Okezone)

JAKARTA - Politikus Partai Golkar Ahmad Doli Kurnia menilai, bahwa tangisan Gubernur nonaktif DKI Jakarta Basuki Tjahaja Purnama alias Ahok dalam menjalani sidang perdananya penuh dengan k‎epura-puraan. Pasalnya, "tangisan bombay" Ahok di persidangan merupakan jurus yang digunakan petahana guna mencari simpatik publik.

‎"Ini menunjukkan bahwa Ahok memang memiliki mental inlander di mana ke bawah menginjak, ke atas menjilat. Kita tentu masih ingat bagaimana Ahok bersikap dan berperilaku kasar dan semena-mena terhadap rakyat biasa. Tetapi perilaku kasar itu, sontak berubah 180 derajat ketika berhadapan dengan atasan atau penguasa (dalam hal ini hakim) menjadi tunduk, merendah, bahkan merengek-rengek," kata Doli, Rabu (14/12/2016).

Doli mengatakan, bahwa Ahok sengaja melakukan pencitraan dalam menjalani sidang perdana terkait kasus dugaan penistaan agama. Hal itu dilakukannya agar publik menilai calon gubernur nomer urut dua tersebut seakan dizalimi.

"Jadi ini situasi pencitraan yang ingin dibangun kesan seakan Ahok dizalimi. Situasi kedua, bila tangisan itu benar serius, mungkin Ahok memiliki penyimpangan kejiwaan. Sungguh mengerikan ketika kita bisa melihat di dalam satu orang memiliki karakter yang kontras," jelas Doli.

Menurut Doli, Ahok tak pantas memimpin institusi pemerintahan manapun lantaran "mewek" menghadapi permasalahannya. Sebab, selama ini mantan Bupati Belitung Timur itu dikenal dengan gaya kepemimpinan yang keras namun berubah lemah saat menjalani dakwaan hukum yang tengah dimenjeratnya.

"Ahok yang kita kenal selama ini bengis, kejam, kasar, bergaya preman, dengan penuh makian, tiba-tiba bisa beruraian air mata dan cengeng. Dalam konteks ini, tentu Ahok sesungguhnya tak pantas memimpin apapun, karena memiliki mental yang tidak stabil," lanjutnya.

"Apalagi kalau kita dengar isi tanggapannya di persidangan masih juga ada kebohongan, berilusi, mengundang konflik, dan bahkan masih juga menista Alquran. Saya kira hakim harus benar-benar catat itu‎‎," tutupnya.

(kha)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini