Share

Kapolri Beberkan Kronologi Ricuh Demo 411 di Hadapan Komisi III DPR

ant, · Senin 05 Desember 2016 13:25 WIB
https: img.okezone.com content 2016 12 05 337 1558993 kapolri-beberkan-kronologi-ricuh-demo-411-di-hadapan-komisi-iii-dpr-lKurJSp0UO.jpg Kapolri Jenderal Pol Tito Karnavian

JAKARTA - Kapolri Jenderal Polisi Tito Karnavian menyatakan, dirinya sudah membentuk Tim Khusus Antianarkis untuk menghadapi aksi demonstrasi pada Jumat 4 November 2016 (411) namun belum bekerja karena situasi saat itu dapat dikendalikan dengan baik.

"Kami siapkan tim khusus antianarkis bila terjadi keadaan membahayakan masyarakat (saat aksi pada 4 November," kata Tito saat Rapat Dengar Pendapat (RDP) dengan Komisi III DPR, di Jakarta, Senin (5/12/2016).

Ia mengatakan, dalam Timsus itu disiapkan pasukan bersenjata yang boleh keluar atas perintah Kapolri dan Kapolda Metro Jaya namun hingga akhir demo tidak ada yang keluar karena kondisi kondusif.

Tito menjelaskan Polri tidak menurunkan pasukan khusus itu meskipun situasi sempat ricuh pada Jumat malam itu. Institusinya lebih memilih cara persuasif untuk menghalau kerawanan yang terjadi pada aksi tersebut.

"Tanggal 4 November, setelah Salat Isya, ada barisan dari kiri melempar petugas dengan bambu runcing sehingga 18 anggota Polri terluka bahkan tertusuk jatuh," klaim Tito.

Menurut dia, dalam peristiwa itu Polri melakukan pembelaan dengan menurunkan water cannon dan gas air mata. Mantan Kapolda Metro itu menjelaskan, peristiwa kericuhan terjadi sekitar 45 menit dan dirinya meminta aparat Kepolisian menghentikan tembakan gas air mata dan menyeru kepada para pedemo untuk mundur.

"Namun yang terjadi para demonstran mundur setelah ditembak gas air mata, lalu Polri hentikan tembakan gas air mata tetapi mereka maju untuk serang dengan batu dan ditembak dengan gas air mata lagi. Jadi maju mundur maju mundur," kata Tito.

Anggota Polri yang berada di garis terdepan dan belakang kata Tito, tidak dilengkapi senjata api dan peluru tajam, melainkan hanya tongkat, tameng dan baju antihuru-hara. Tito menjelaskan, dalam aksi pada 4 November 2016, diterjunkan sekira 23 ribu pasukan gabungan Polri-TNI untuk mengamankan wilayah Istana Negara dan sekitarnya.

"Setelah aksi di Istana, massa bergeser ke DPR, kemudian saya bersyukur massa yang bergeser ini tidak melakukan tindakan yang tidak diinginkan," ujarnya.

Menurutnya, ada 6 ribu personel Polri-TNI yang bersiaga di DPR dan melalui dialog yang difasilitasi Ketua MPR dan anggota Komisi III DPR, aspirasi demonstran didengar. Sekira pukul 04.00 WIB hingga 07.00 WIB, massa mulai meninggalkan Gedung Parlemen dan dirinya menghubungi Menteri Perhubungan untuk meminta disediakan kendaraan yang menjadi permintaan demonstran sehingga disediakanlah 25 unit bus bagi demonstran.

(put)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini