Bom di Rumah Ibadah, UU Pemberantasan Terorisme Harus Dibahas Lebih Serius

Bayu Septianto, Okezone · Selasa 15 November 2016 11:43 WIB
https: img.okezone.com content 2016 11 15 337 1541749 bom-samarinda-dan-singkawang-uu-pemberantasan-terorisme-harus-dibahas-lebih-serius-i3Uj9I6Nlp.jpg Ilustrasi (Foto: Dok. Okezone)

JAKARTA - Anggota DPR RI Komisi III Abdul Kadir Karding mengutuk pelemparan bom molotov di parkiran Gereja Oikumene Kelurahan Sengkotek, Loa Janan Ilir, Samarinda, Minggu 13 November 2016 dan di sebuah vihara di Singkawang, Kalimantan Barat, Senin 14 November 2016.

Menurut Karding, aksi teror di rumah ibadah tersebut sebagai teror yang keji. Apalagi, pelemparan bom molotov itu mengakibatkan korban pada anak-anak, dengan satu orang diantaranya, balita berumur 2,5 tahun, meninggal dunia akibat luka bakar yang parah.

Sekjen DPP Partai Kebangkitan Bangsa itu mendesak pemerintah dan DPR RI lebih serius dalam membahas revisi Undang-undang No 15 Tahun 2003 tentang Pemberantasan Tindak Pidana Terorisme.

"RUU Pemberantasan Tindak Pidana terorisme harus dibahas secara serius. Tetap dengan menjunjung tinggi penghormatan terhadap prinsip-prisip HAM. Jangan biarkan aksi teror terulang kembali," kata Karding, Selasa (15/11/2016).

Karding menilai pelaku bom molotov di Samarinda yang diketahui bernama Juhanda bukanlah orang baru. Pasalnya menurut catatan kepolisian, pelaku pernah terlibat kasus teror bom di Pusat Penelitian Pengetahuan dan Teknologi, Tangerang pada 2011.

Karding pun meminta Polri segera bergerak menangani kasus ini dan menemukan siapa tokoh utama aksi terorisme ini. Pasalnya aksi teror yang dilakukan seorang residivis teror, selain menunjukkan hukuman yang diberikan tidak memberikan efek jera, juga petanda masih adanya jaringan yang memberikan dukungan, dan komando untuk menjalankan aksinya.

"Polri harus bertindak cepat menangani kasus ini. Usut tuntas siapa saja yang terlibat dalam aksi ini, hingga ke dalangnya," tukas Karding.

(kha)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini