Share

NEWS STORY: Mau Tahu Asalnya Sebutan "Asal Bapak Senang"? Begini Ceritanya

Randy Wirayudha, Okezone · Minggu 06 November 2016 08:16 WIB
https: img.okezone.com content 2016 11 04 337 1533418 news-story-mau-tahu-asalnya-sebutan-asal-bapak-senang-begini-ceritanya-eLMrP3S9y4.jpg Band "Asal Bapak Senang", band kesukaan Soekarno yang anggotanya berasal dari Detasemen Kawal Pribadi (Foto: Repro Memoar Mangil Martowidjojo, 'Kesaksian tentang Bung Karno 1945-1967')

PADA masa Orde Baru, tersohor sebuah ungkapan “Asal Bapak Senang” (ABS). Biasanya, sebutan itu digunakan sebagai sindiran atau ungkapan sarkasme untuk sebuah atau sejumlah laporan dari bawahan untuk para bos atau pejabat.

Laporan yang sebenarnya tidak sesuai kenyataan, tapi tertulis dan direkayasa agar bagaimana si bos atau pejabat tersenyum. Ya pokoknya asal bapak (bos/pejabat) senang melihat laporan dari tugas-tugas yang diberikan bawahan.

Budaya ini tentu bukan budaya yang patut dilestarikan. Namun terlepas dari itu, tahukah Anda bahwa sebutan “Asal Bapak Senang” alias ABS, awalnya tidaklah berbau atau bertujuan politik?

Ya, Asal Bapak Senang alias ABS ini sebetulnya sudah eksis sejak era Orde Lama, yakni saat pemerintahan masih mantap dipegang sang proklamator, sang pemimpin besar revolusioner, putra sang fajar – Soekarno alias Bung Karno. Dan Asal Bapak Senang alias ABS, bukan penyebutan bernada politis, melainkan nama sebuah band.

Band yang disukai dan acap jadi pengiring Bung Karno menari Lenso atau Cha Cha di berbagai acara yang dihadiri si “Bung Besar”. Salah satunya adalah ketika Bung Karno mengunjungi rumah dinas (mendiang) Menteri/Panglima Angkatan Darat (Menpangad) Letjen (Jenderal Anumerta) Ahmad Yani.

Kisah ini didapat penulis saat berbincang santai dengan Amelia Yani, salah satu putri mendiang Jenderal Ahmad Yani di Museum Sasmitaloka Pahlawan Revolusi Ahmad Yani, di Jalan Lembang Nomor 58, Jakarta Pusat. Tepatnya sebelum beliau berangkat ke Bosnia menjabat duta besar (dubes).

Amelia Yani menceritakan bahwa pada suatu ketika Bung Karno mengunjungi rumah dinas Menpangad di kawasan Taman Suropati, Menteng, Jakarta Pusat, Soekarno yang didampingi istri keenamnya, Haryati, turut membawa serta rombongan Band ABS.

“Itu pertama kali dan terakhir saya bertemu dan melihat Bung Karno dari dekat. Saya pribadi melihat sosoknya yang berpostur besar, pakai jas hitam. Dalam hati, ‘Oh, ini yang diceritakan bapak setiap hari, sang pemimpin besar revolusi’,” kenang Amelia Yani kepada Okezone.

“Bung Karno juga bawa rombongan Band ABS itu. Mainnya ‘kedombrang-kedombrang’ enggak karuan, asal bapak (Bung Karno) senang. Mainnya sampai jam 12 malam. Mereka dikasih minumnya bir, sementara tentara (pengawal) yang lain cuma teh manis,” imbuhnya.

Sedikit mencari sumber lain akan eksistensi Band “Asal Bapak Senang” ini, dikutip dari memoar Mangil Martowidjojo ‘Kesaksian tentang Bung Karno 1945-1967’, band ini awalnya saat terbentuk belum punya nama. Pemainnya terdiri dari sejumlah anggota DKP (Detasemen Kawal Pribadi) yang dipimpin Mayor Polisi Iskandar Winata.

Band ini dibentuk atas prakarsa Komandan DKP kala itu, Letkol Polisi Mangil Martowidjojo dengan alasan, sebagai “teman” Bung Karno di kala penat agar sang proklamator setidaknya bisa menari Lenso diiringi musik, di mana pun dan kapan pun Bung Karno menginginkannya.

Band itu juga dibentuk atas alibi bahwa Bung Karno jarang cocok dengan band-band lain yang memainkan musik di sejumlah acara yang dihadirinya. Nah, karena band ini khusus diperuntukkan hiburan bagi Bung Karno, Iskandar Winata pulalah yang menamai band itu “Asal Bapak Senang” alias ABS.

Band ini acap memainkan musik nonstop selam sejam atau dua jam di acara-acara resmi maupun nonresmi. Meski tamu-tamu lain sudah bosan, tetap saja mereka bermusik selama Bung Karno senang dan selesai menari Lenso atau Cha Cha.

Pernah Bung Karno ‘kepo’ soal sebutan ABS. Terutama saat salah satu ajudan Soekarno, Letkol (KKO/sekarang Marinir TNI AL) Bambang Widjanarko, hendak menyerukan Band ABS untuk bersiap tampil.

“Mbang, apa itu ABS?,” tanya Bung Karno. “ Oh, itu hanya nama band-nya Pak Mangil, Pak,” jawab Bambang Widjanarko lugas.

Tapi bagi Soekarno pribadi, band bentukan Mangil itu dinamainya “Brul Apen”. Sebutan dari bahasa asing yang kalau diterjemahkan artinya monyet-monyet yang terus mengerang dan cecowetan tanpa henti.

Nama ini selalu melekat bagi Bung Karno, tanpa pernah tahu apa artinya ABS hingga akhir hayatnya. Band ini tidak hanya dihadirkan di acara-acara di Indonesia.

Pada suatu jamuan di Roma, Ibu Kota Italia pun, Band Die Brul Apen van BK alias ABS, turut dibawa Bung Karno dan mengisi setengah dari acara sampai selesai. Itu pun setelah memberi kesempatan lebih dulu bagi para musisi Italia yang disediakan tuan rumah memainkan lagu berirama Waltz sebagai pembuka.

Follow Berita Okezone di Google News

(raw)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini