NEWS STORY: Kemurkaan Arek-Arek Suroboyo Berujung Insiden Bendera

Randy Wirayudha, Okezone · Minggu 18 September 2016 07:08 WIB
https: img.okezone.com content 2016 09 16 337 1491286 news-story-kemurkaan-arek-arek-suroboyo-berujung-insiden-bendera-rXL4iS1OlR.jpg Rela ulang perobekan bendera Belanda di Hotel Yamato (Foto: Antara)

PADA kuartal akhir 1945, gesekan antara pemuda Indonesia dengan sekutu serta Belanda bak api dalam sekam. Sejak kedatangan sekutu ke Indonesia, terutama Surabaya, beberapa peristiwa besar terjadi yang klimaksnya meletus Pertempuran Surabaya.

Namun sebelum itu, ada satu peristiwa pada medio September 71 tahun lampau yang turut jadi catatan sejarah paling dikenal bangsa ini, yakni Het Vlag Incident atau insiden (perobekan) bendera di tiang Hotel Yamato (kini Hotel Majapahit).

Saat sekutu datang dan bala tentara Dai Nippon (Jepang) masih “diperalat” sebagai penertib keamanan, hotel tersebut dijadikan markas RAPWI (Rehabilitation of Allied Prisoners of War and Internees) atau rehabilitasi tawanan perang dan interniran.

Selain itu juga dijadikan markas Intercross (Palang Merah Internasional) yang kemudian, menyokong Komite Kontak Sosial. Komite ini seolah merupakan “forum” para interniran yang dibantu Jepang pasca-Negeri Sakura ini menyerah kepada sekutu.

Merasa eksistensinya kuat dengan sokongan Intercross dan Jepang, para interniran Belanda yang sudah bebas dengan arogan mengibarkan bendera Belanda (merah-putih-biru) di pucuk tiang bendera Hotel Yamato. Aksi ini juga tanpa pemberitahuan dan seizin pemerintah daerah Surabaya.

Markas RAPWI & Intercross di Hotel Yamato Digeruduk

Sontak pengibaran bendera pada 19 September 1945 itu memicu emosi masyarakat dan pemuda setempat. Maka massa pun menggeruduk Hotel Yamato dan menuntut bendera Belanda itu diturunkan. Meski terdapat beberapa tentara Jepang yang berjaga, tapi emosi arek-arek Suroboyo tetap tak terbendung.

Hal ini tentu juga terdengar oleh Sudirman, Residen Surabaya saat itu. Namun perundingan Residen Sudirman dengan pihak eks interniran yang dipimpin Willem C. Ch. Ploegman deadlock atau menemui jalan buntu.

Alasannya, sekutu sudah menang Perang Dunia II dan Belanda mengaku bagian dari sekutu. Oleh karenanya, mereka merasa berhak kembali menguasai Hindia Belanda dan ‘ogah’ mengakui kedaulatan Republik Indonesia yang sudah diproklamirkan beberapa bulan sebelumnya (17 Agustus 1945).

Ploegman kemudian mengusir Residen Sudirman dengan mengacungkan sepucuk pistol. Keadaan pun ricuh. Dua pemuda yang mendampingi Residen Sudirman, Sidik dan Hariyono bergelut menyelamatkan sang residen. Hariyono mengamankan sang residen, sementara Sidik bergulat dengan Ploegman.

Sidik yang memukuli Ploegman dan mencekiknya, turut roboh setelah beberapa tentara Belanda menusuknya dengan klewang. Kericuhan itu segera diketahui massa di luar hotel. Segera mereka yang kemurkaannya sudah meledak, merangsek masuk dan kerusuhan tak ayal terjadi di depan hotel.

Para Pemuda Perobek Bendera Belanda

Di sela kerusuhan tersebut, tiga pemuda diketahui memanjat ke atap hotel untuk berusaha mencapai tiang bendera. Salah satu pemuda itu diketahui bernama Kusno Wibowo. Warna biru di bendera Belanda pun dirobek, sehingga menyisakan warna merah dan putih – warna bendera RI yang kemudian tercetus pekik “Merdeka!

“Seperti yang ditulis di memoar-memoar pejuang dan buku Puspen TNI, salah satu perobek bendera itu namanya Kusno Wibowo,” sebut Ady Setiawan, penggiat sejarah Komunitas Roode Brug Soerabaia kepada Okezone.

“Namanya juga terpahat di plakat samping monumen. Tapi Kusno Wibowo selalu menolak dikatakan sebagai perobek bendera dengan alasan, perobeknya arek-arek Suroboyo,” tambah penulis buku ‘Benteng-Benteng Surabaya’ tersebut.

Direka Ulang untuk yang Kedua Kalinya

Peristiwa monumental ini rencananya akan direka ulang tahun ini, pada Minggu 18 September 2016 pagi di Hotel Yamato yang kini sudah berganti nama jadi Hotel Majapahit.

Dengan difasilitasi Pemerintah Kota Surabaya, Komunitas Surabaya Juang mengajak sejumlah komunitas lainnya, untuk kembali mereka ulang peristiwa ini setelah pertama kali digelar tahun lalu.

“Dengan mengangkat tema ‘Surabaya Merah Putih’, teatrikal ini turut menggandeng Komunitas Pegiat Kebangsaan, Roode Brug Soerabaia, komunitas seni teater, serta para siswa ekstrakulikuler Paskibra dari beberapa sekolah,” timpal Heri Lentho, Koordinator Surabaya Juang.

“Tujuan kegiatan ini agar nilai-nilai kebangsaan dan kepahlawanan harus tertanam, khususnya bagi pelajar dan tentunya juga bagi pemerintah,” tandasnya.

(raw)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini