Doa Penutup Anggota DPR saat Rapat Paripurna Berdasarkan Realitas

Ferio Pristiawan Ekananda, Okezone · Kamis 18 Agustus 2016 16:51 WIB
https: img.okezone.com content 2016 08 18 337 1467061 doa-penutup-anggota-dpr-saat-rapat-paripurna-berdasarkan-realitas-7kWnAFfgpZ.jpg Ilustrasi (Okezone)

JAKARTA – Wakil Ketua DPR RI, Fadli Zon, menanggapi seputar doa yang disampaikan koleganya, Muhammad Syafii.

Sebelumnya, timbul polemik atas doa yang disampaikan Muhammad Syafii ketika didaulat menjadi pemimpin doa penutup dalam Sidang Paripurna MPR-DPR RI 2016 yang membahas RAPBN 2017.

Fadli menilai doa tersebut benar-benar datang dari hati. "Saya kira itu doanya bagus sekali, dan saya acungi jempol dari meja pimpinan. Itu doanya improvisasi betul-betul datang dari hati, dan tidak ada data yang salah dari doa itu. Itu doa berdasarkan realitas," ujarnya di Kompleks Parlemen Senayan, Jakarta, Kamis (18/8/2016).

(Baca: Doa Anggota DPR di Hadapan Jokowi)

Hal serupa juga disampaikan Wakil Ketua Komisi VIII DPR RI, Sodik Mudjahid. Ia mengatakan, doa tersebut permohonan dukungan kepada Tuhan Yang Maha Kuasa untuk perbaikan perkara-perkara yang di luar kemampuan manusia.

Kemudian doa yang disampaikan Syafii, menurut Sodik, adalah fakta-fakta yang perlu pertolongan Allah SWT untuk perbaikan dan perubahannya.

"Tidak usah berlebihan. Kiai berdoa atas dasar fenomena di sekitarnya. Politisi berdoa atas dasar fenomena di sekitarnya. Setiap profesi berdoa atas dasar mindset dan fenomena di sekitarnya," ujar Sodik saat dihubungi wartawan.

Sebagaimana diketahui, dalam penggalan doanya, Syafii meminta agar bangsa Indonesia dijauhkan dari pemimpin yang berkhianat dan hanya memberikan janji-janji palsu kepada rakyat.

"Jauhkan kami dari pemimpin yang khianat yang hanya memberikan janji-janji palsu, harapan-harapan kosong, dan kekuasaan yang bukan untuk memajukan dan melindungi rakyat ini, tapi seakan-akan arogansi kekuatan berhadap-hadapan dengan kebutuhan rakyat," kata Syafii dalam doanya di Sidang Paripurna MPR-DPR 2016, di Kompleks Parlemen Senayan, Jakarta, Selasa 16 Agustus 2016.

Kemudian dalam kehidupan ekonomi, doanya menyebutkan bahwa Bung Karno sangat khawatir bangsa Indonesia akan menjadi kuli di negeri sendiri.

“Tapi hari ini sepertinya kami kehilangan kekuatan untuk menyetop itu bisa terjadi. Lihatlah Allah, bumi kami yang kaya dikelola oleh bangsa lain dan kulinya adalah bangsa kami,” tutur Syafii dalam lantunan doanya.

(fzy)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini