BNPT Pimpin Negara ASEAN Bahas Foreign Terrorist Fighter

Mohammad Saifulloh, Okezone · Kamis 11 Agustus 2016 12:01 WIB
https: img.okeinfo.net content 2016 08 11 337 1460830 bnpt-pimpin-negara-asean-bahas-foreign-terrorist-fighter-AIMkx8dmI8.jpg Kepala BNPT Komjen Suhardi Alius

NUSA DUA – Negara-negara ASEAN yang dipimpin Indonesia pada hari ini fokus membahas fenomena foreign terrorist fighter (FTF) di Hotel Sofitel, Nusa Dua, Bali. FTF adalah fenomena terorisme lintas batas yang muncul seiring dengan keberadaan kelompok militan ISIS.

Pertemuan itu dihadiri negara anggota ASEAN seperti Indonesia, Malaysia, Singapura, Thailand, Brunei Darussalam, dan Filipina.

Kepala Badan Nasional Penanggulangan Terorisme (BNPT) Komjen Suhardi Alius dalam paparannya menyampaikan bahwa pengalaman menanggulangi terorisme sudah dimulai sejak Indonesia merdeka.

“Terorisme adalah kejahatan terhadap umat manusia sehingga upaya untuk menghentikan hal tersebut harus dilakukan secara saksama. Indonesia dari waktu ke waktu terus berusaha menghentikan fenomena ini,” kata Suhardi yang didampingi Deputi Bidang Kerjasama Internasional Irjen Dr Petrus R Golose, Kamis (11/8/2016).

Santoso sebagai pemimpin Mujahidin Indonesia Timur (MIT) telah ditembak mati oleh Satgas Operasi Tinombala beberapa waktu lalu. Namun, lanjut Suhardi, bukan berarti masalah terorisme di Indonesia selesai. Menurutnya, terorisme akan terus menjadi ancaman mengingat pengaruh radikalisme berkembang di mana-mana, khususnya setelah ISIS menjadi kekuatan baru dalam terorisme.

Apalagi, tegas Suhardi, di kelompok Santoso sebelumnya banyak bergabung FTF dari luar negeri. Hal itu tentu harus dijadikan bahan evaluasi dan pelajaran untuk mengantisipasi keberadaan FTF ini di masa mendatang.

Suhardi menegaskan Indonesia sebagai negara demokrasi tetap menghormati kebebasan berpendapat dan menghormati hak asasi manusia. Namun, hal yang menjadi kendala dalam penanggulangan terorisme karena regulasi masalah terorisme masih sangat lemah sehingga dibutuhkan upaya keras untuk menekan hal ini.

Menurut mantan Kabareskrim Polri ini, salah satu program pemerintah adalah deradikalisasi yang dianggap dapat membantu dalam menekan pengaruh radikalisme dan terorisme. “Program ini melibatkan semua stakeholder di Indonesia untuk bersama-sama bekerja melawan radikalisme dan terorisme,” tutur Suhardi.

Selain itu, terang Suhardi, petugas keamanan, dalam hal ini kepolisian, terus berusaha meningkatkan profesionalisme dan pengembangan kapasitas dalam peningkatan penanggulangan terorisme. Namun dari satu sisi indonesia juga tetap membuka diri untuk bekerja sama dan belajar dari negara negara sahabat dalam penanggulangan.

“Kita tidak bisa sendiri dalam menangani terorisme. Tidak hanya di dalam negeri, tetapi juga harus kerjasama antar negara,” jelas Suhardi.

(erh)

Loading...

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini