KPK Tahan Edison Marudut di Rutan Polres Jakpus

Fakhrizal Fakhri , Okezone · Kamis 04 Agustus 2016 20:51 WIB
https: img.okezone.com content 2016 08 04 337 1455434 kpk-tahan-edison-marudut-di-rutan-polres-jakpus-yM39FLorIc.jpg Gedung KPK (Foto: Okezone)

JAKARTA - ‎Tersangka pengusaha asal Riau, Edison Marudut Marsadauli ditahan Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) di Rumah Tahanan (Rutan) Mapolres Jakarta Pusat, Kamis (4/8/2016).

Tersangka dengan kasus dugaan korupsi revisi alih fungsi hutan di Provinsi Riau pada 2014 itu merupakan hasil pengembangan penyidik KPK dari terpidana mantan Gubernur Riau Anas Maamun dan pengusaha kelapa sawit Gulat Medali Emas Manurung.

"Ditahannya di Polres Jakpus," kata kuasa hukum Edison, Kutut Layung Pambudi‎ di Gedung KPK, Jalan HR Rasuna Said, Kuningan, Jakarta Selatan.

(Baca: KPK Gelar Rekonstruksi Kasus Suap Annas Maamun)

‎Kutut menjelaskan, sebelumnya Direktur Utama PT Citra Hokiana Triutama itu ‎diperiksa penyidik KPK terkait perbincangannya di media sosial bersama Gulat Medali Emas Manurung.

"‎Jadi ini kan hubungan pertemananlah antara Edison dan Gulat sudah berteman lama. Dia menanyakan masalah ada enggak nih proyek baru. Kayak gitu," kata Kutut.

Ia menambahkan, pertemanan Edison dan Gulat ‎lantaran keduanya aktif dalam kegiatan sosial saat melakukan pembangunan rumah ibadah di Riau. "‎Dia (Edison) kenal baik sama Gulat karena satu gereja komunikasi banyak di gereja waktu pembangunan gereja. Kebetulan Edison itu ditunjuk sebagai ketua lah ketua mencari dana pembangunan gereja‎," ujarnya.

Edison diduga menyuap Annas Maamun sebesar Rp500 juta sebagai uang pelicin agar dapat mengikuti proyek pengalihan fungsi lahan hutan di Pemprov Riau. Annas diketahui meminta Rp2,9 miliar, namun Edison dan Gulat hanya menyanggupi Rp2 miliar agar pengajuan revisi alih fungsi hutan di Riau pada 2014 kepada Kementerian Kehutanan berjalan lancar.

Atas perbuatannya, Edison disangkakan melanggar Pasal 5 Ayat (1) Huruf a atau Huruf b atau Pasal 13 Undang-Undang Nomor 31 Tahun 1999 tentang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi sebagaimana telah diubah dengan Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2001 tentang Perubahan Atas Undang-Undang Nomor 31 Tahun 1999 tentang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi.

Dalam kasus ini, KPK telah menjerat dua tersangka, yakni mantan Gubernur Riau Anas Maamun dan pengusaha kelapa sawit Gulat Medali Emas. Anas telah dinyatakan terbukti menerima suap sebesar Rp2 miliar dari Gulat Medali terkait pengajuan revisi alih fungsi hutan di Kabupaten Kuantan Singingi, Provinsi Riau tahun anggaran 2014 ke Kemenhut.

Keduanya telah divonis bersalah oleh Pengadilan Tipikor. Gulat Medali divonis tiga tahun pidana penjara dengan denda Rp100 juta subsider tiga bulan kurungan. Sedangkan Anas Maamun divonis enam tahun pidana penjara dan denda Rp200 juta subsider dua bulan kurungan oleh Pengadilan Tipikor pada PN Bandung, Jawa Barat.

(Ari)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini