nyalakan notifikasi untuk berita terbaru dari Okezone

KPAI: Proses Hukum Lubang Tambang Batubara di Kaltim Terus Berjalan

Putera Negara, Jurnalis · Kamis 04 Agustus 2016 13:09 WIB
https: img-z.okeinfo.net content 2016 08 04 337 1454848 kpai-proses-hukum-lubang-tambang-batubara-di-kaltim-terus-berjalan-Q05wZePkPm.jpg foto: ilustrasi

JAKARTA - Komisioner KPAI, Maria Ulfah Anshor menegaskan bahwa proses penegakkan hukum terkait dengan penutupan lubang bekas pertambangan batubara di Kalimantan Timur akan terus berjalan. Pasalnya, sejak tahun 2010 korban terus bertambah akibat tidak adanya tanggung jawab selesai melakukan pertambangan.

"Ada proses penegakkan hukum tadi juga sudah disepakati bahwa proses hukum terus berjalan. Dan proses hukum ini diantaranya, mereka itu harus memberikan ganti rugi," kata Maria di Kemenko Polhukam jalan Merdeka Barat, Jakarta Pusat, Kamis (4/8/2016).

Bagi Maria Ulfa, seharusnya tak hanya berfokus pada sekadar ganti rugi. Karena hal itu belum tentu menyelesaikan masalah, namun yang harus tekankan adalah bagaiman pengembang benar-benar menjaga keamanan lingkungan masyarakat sekitar.

Maria juga mempertanyakan soal perusahaan yang memberikan uang jaminan. Oleh karena itu, sesuai arahan presiden dengan menunjuk Kemenko Polhukam sebagai fasilitator, KPAI juga meminta untuk menelusuri hal tersebut.

"Pertanyaannya jaminannya itu di mana dan dipakai itu untuk apa, dan tadi ada yang bagus kesepakatannya, meminta rapat itu menindaklanjuti dengan tim gabungan, dan mempersilakan Mabes Polri. Karena, ini kasusnya tidak hanya Kaltim, tapi kita melihatnya perusahaan tambang ada muncul juga di Bangka Belitung dan daerah lainnya," terang Maria.

Maria menuturkan bahwa lubang galian tambang yang masih belum ditutup di Kalimantan Timur antara lain milik PT Kitadin, PT Bukit Energi Baiduri, PT Hymco Coal, PT Insani Bara Perkasa dan lain-lain.

Sekadar diketahui, KPAI mencatat sejak 2010-2015, ada 24 anak yang tewas akibat terjatuh di dalam lubang bekas galian pertambangan batubara di Kalimantan Timur, yang lokasinya berada di tengah permukiman masyarakat.

Selain itu, tidak ada pembatas antara pertambangan dan permukiman warga. Lalu lubang bekas galian tak diberikan tanda padahal kedalamannya itu mencapai ratusan meter.

Sejak 2010 KPAI sudah menerima laporan korban yang tewas dan di tahun 2013 tercatat ada sembilan korban. Lalu pada tahun 2015 lalu datanya bertambah menjadi 24 orang.

(amr)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini