Jejak Humprey, Warga Nigeria yang Dieksekusi Mati Bersama Freddy Budiman

ant, · Jum'at 29 Juli 2016 04:40 WIB
https: img.okezone.com content 2016 07 29 337 1449649 jejak-humprey-warga-nigeria-yang-dieksekusi-mati-bersama-freddy-budiman-tT6ulv3t77.jpg Ilustrasi (Okezone)

JAKARTA - Warga negara Nigeria, Humprey Ejike, dieksekusi mati di Lembaga Pemasyarakatan Nusakambangan, Cilacap, Jawa Tengah, pada Jumat (29/7/2016) sekira pukul 00.45 WIB. Ia merupakan bandar narkoba yang tidak pernah kapok.

Meski sudah berada di balik jeruji besi, masih mampu mengembalikan peredaran narkoba hingga ditangkap oleh Badan Narkotika Nasional (BNN).

Awal perjalanan kejahatannya saat ditangkap di Depok, Jawa Barat pada 2003 karena kedapatan memiliki 1,7 kilogram heroin. Dirinya tidak seorang diri, bersama rekannya yang dikenal dengan nama Doktor atau Koko.

Penangkapan terhadap Ejike itu di salah satu restoran di Depok, tidak tanggung-tanggung nilai heroin yang dimilikinya itu mencapai Rp8 miliar.

(Baca juga: Jejak Freddy Budiman Gembong Narkoba yang Dihukum Mati)

Namun ia tidak kapok juga. Meski sudah ditahan, melakukan kembali aksi mengedarkan barang haram dan ditangkap oleh BNN pada November 2012.

Dari portal hukumanmati.web.id, berdasarkan dakwaan Jaksa Penuntut Umum, bahwa terdakwa Humprey Ejike alias Doktor dengan tanpa hak dan melawan hukum mengimpor, mengekspor, menawarkan untuk dijual mengeluarkan, menjual, menyerahkan, menerima, menjadi perantara dalam jual beli, atau menukar narkotika Golongan I, berupa narkotika jenis heroin.

Terdapat informasi dari masyarakat bahwa Restoran Recon sering menjadi tempat transaksi narkotika, khususnya heroin, dan ditemukan lima kaos kaki yang masing-masing berisi heroin dengan berat bruto keseluruhannya 1,7 kilogram. Terdakwa menyimpan heroin tersebut di dalam kasur spring bad di kamar tidurnya dengan maksud untuk dijual.

Terdakwa didakwa dengan bentuk dakwaan subsidair, dakwaan primair melanggar Pasal 82 Ayat (1) subsidair a Undang-Undang RepubIik Indonesia Nomor 22 Tahun 1997 tentang Narkotika, dakwaan subsidair melanggar Pasal 78 Ayat (1) sub b Undang-Undang RepubIik Indonesia Nomor 22 Tahun 1997 tentang Narkotika.

Terdakwa dituntut dengan Pasal 82 Ayat (1) a UU Nomor 22 Tahun 1997 tantang Narkotika sebagaimana telah diuraikan dalam dakwaan primair dan menjatuhkan pidana terhadap terdakwa dengan pidana mati.

Putusan Pengadilan Negeri No. 2152/Pid.B/2003/PN.Jkt.Pst, divonis hukuman mati, Putusan Pengadilan Tinggi No. 76/Pid/2004/PT.DKI: tetap dihukum mati.

Putusan Mahkamah Agung No. 1715 K/Pid/2004: menolak permohonan kasasi dari pemohon kasasi/terdakwa, selanjutnya putusan Peninjauan Kembali No. 18 PK/Pid/2007: ditolak kembali.

 

(sal)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini