nyalakan notifikasi untuk berita terbaru dari Okezone

Jalan Panjang Bom Bali dan Pilihan Jihad Ali Imron

Syamsul Anwar Khoemaeni, Jurnalis · Rabu 29 Juni 2016 14:07 WIB
https: img-z.okeinfo.net content 2016 06 29 337 1428334 jalan-panjang-bom-bali-dan-pilihan-jihad-ali-imron-2tZypi50fg.jpg Ali Imron (kiri) di Masjid Al Fata, Menteng, Jakarta Pusat (Syamsul AK/Okezone)

JAKARTA – Keadaan 19 tahun silam masih terkenang baik oleh Ali Imron. Sepulang dari Afghanistan, darahnya masih mendidih lantaran dididik membenci Amerika Serikat. Maklum, sejak 1991, ia berguru secara langsung ke mendiang pendiri kelompok militan Al Qaeda yakni Osama bin Laden.

Mulai pemahaman agama, memanggul senjata, mengemudi tank, hingga teknik berperang ia pelajari langsung dari Osama, sosok teroris paling ditakuti dan dicari Amerika dan sekutunya.

"Saya baru balik ke Indonesia pada 1996, langsung cari toko bahan-bahan kimia, senapan api, sama amunisi. Kami membenci Amerika karena mereka menyerang Afghanistan," tutur Ali Imron saat mengisi ceramah di Masjid Al Fattah, Menteng, Jakarta Pusat, Selasa (28/6/2016).

Dengan nada meninggi, ia lalu mengenang masa-masa bergabung dengan kelompok teroris. Termasuk, pertemuannya dengan kedua kakak angkat seperguruan di Afghanistan, Muklas alias Ali Ghufron dan Amrozi. Mereka lalu merancang serangan bom bunuh diri pada awal milenium kedua. Terlebih pada 2001, Muklas sempat bertemu Osama dan dibekali USD30 untuk “berjihad” di Indonesia.

"Program kakak saya, Ali Ghufron alias Mukhlas. Pada 2001, dia ke Afghanistan. Dia ketemu Osama ke Kandahar. Pulang dapat USD30 untuk amaliah jihad," kata Ali Imron yang mengenakan peci putih dan kemeja abu-abu.

Berbekal USD30, Muklas lalu merancang pengeboman di sebuah tempat. Ali Imron mengungkapkan, kala itu masih belum mengetahui jika kedua kakak seperguruannya itu memilih Pulau Bali sebagai sasaran teror.

Ia baru tahu setelah diajak Amrozi ke sebuah rumah kontrakan di Solo, Jawa Tengah, pada Agustus 2002. Di rumah yang terletak jauh dari permukiman warga tersebut sudah ada sejumlah pria berani mati. Di antaranya, Imam Samudera dan Dulmatin.

Monumen bom Bali (Antara)

"Karena sudah ada uang, dia bikin perencanaan. Awalnya saya tidak tahu. Pertengahan Agustus (2002) diajak Amrozi ke Solo, baru Amrozi bilang perencaan bom Bali. Di kontrakan ada Dulmatin dan semua yang terlibat," kenang Ali.

Adu Mulut di Pembagian Tugas

Sebagai inisiator dan sosok sentral, Mulkas disebut dalang bom Bali yang meledak di kawasan Legian. Saat itu Ali Imron sempat menanyakan alasan pemilihan Bali sebagai sasaran aksi teror.

"Pada pertemuan itu, pembagian tugas. Kenapa harus Bali?" ucap Ali Imron sembari menunjukkan ekspresi bingung.

Namun, Muklas menjawab dengan tegas jika dirinya ingin membalas ke Amerika Serikat atas perbuatannya ke Afghanistan. Seolah tak puas dengan jawaban itu, Ali Imron pun kembali menanyakan bahwa yang berperang di Afghanistan ialah para tentara Negeri Abang Sam (AS). Pertanyaan itu pun memicu reaksi dari Muklas.

"Dia (Muklas) jawab karena kita mau membalas Amerika dan sekutunya karena menyerang Afghanistan. Saya protes, yang menyerang kan tentara. Kenapa ke Bali, apa hubungannya? Dia cuma jawab saya yang tanggung jawab," kenangnya tentang pertemuan malam itu.

Pertemuan di rumah kontrakan itu menghasilkan tiga skenario pengeboman dan seorang penanggung jawab lapangan; Imam Samudera. Skenario pertama, penyiapan sebuah mobil yang dilengkapi bom dengan hulu ledak mencapai 1 ton. Kedua, hulu ledak 50 kilogram disisipkan di sebuah sepeda motor untuk menambah daya ledak bom mobil.

"Ada tiga bom, mobil 1 ton, motor 50 kg, rompi 10 kg. Semua pakai bom bunuh diri. Imam Samudera pimpinan lapangan," ujar Ali.

Sebagai pimpinan lapangan, Imam menginginkan agar aksi dilakukan pada 11 September 2002, atau tepat peringatan setahun ledakan World Trade Center (WTC) di AS.

Namun karena hanya berjarak sebulan dari perencanaan di Solo, Amrozi pun tergesa-gesa. Bahkan, Ali menyebut pria asal Lamongan itu keteteran menyiapkan sebuah mobil untuk mengangkut hulu ledak.

"Rencananya dilakukan 11 September memperingati WTC. Tapi perencanaan tidak sampai sebulan. Karena tergesa-gesa, Amrozi ditugasi beli mobil, dia jengkel bingung cari mobil, akhirnya asal dapat mobil L300," tambah Ali sembari tertawa.

Regu teroris itu pun bergerak memasuki Bali pada 8 September 2003. Setibanya di Pulau Dewata, Imam lalu memerintahkan Ali untuk memantau sejumlah lokasi.

Saat itu ia harus mendapatkan sebuah tempat yang menjadi ruang berkumpulnya para bule asal Amerika Serikat atau Inggris serta sekutunya. Sementara Amrozi bertugas memasok bahan peledak dari Jawa ke Bali.

"Begitu Imam dan saya ke Bali, semua jadi urusan saya. Survei saya akhirnya saya temukan Legian. (Pada) 16 September baru mulai kirim bahan peledak dari Jawa. Ada yang dititipkan ke bus dan dibawa Amrozi sendiri,” ujarnya.

Guna melancarkan aksinya, para teroris pun mengontrak sebuah rumah di Jalan Menjangan yang digunakan untuk meracik bom. Jarak tempat tersebut ke lokasi sasaran hanya 11 kilometer. Saat itu, Amrozi pun sudah menyiapkan segala sesuatu yang dibutuhkan, termasuk mobil L300.

Rekonstruksi kasus bom Bali (Okezone)

Namun saat Muklas yang berperan sebagai inisiator melakukan pengecekan, ia lantas murka. Ali Imron menyebut kakaknya marah karena baru mengetahui bahwa “pengantin” yang ia persiapkan tidak ada yang bisa mengemudikan kendaraan roda empat. Bahkan untuk mengendarai sepeda motor pun mereka tak lancar.

"Asalnya kan direncakan tiga bom. Ketika dicek Mukhlas, ternyata yang mau bunuh diri belum lancar naik motor dan mobil. Mulai korslet, diputuskan sepeda motor tidak jadi," beber Ali dan disambut tawa para jamaah.

Alhasil, Ali mengajari secara singkat calon “pengantin” untuk mengemudi mobil. Sementara bom rompi tetap dijalankan seperti rencana semula.

"Motor mau dibomkan ke Konsulat Amerika tidak jadi. Mobil dan rompi di Legian. Nah yang bawa mobil saya ajari dulu. Bahkan, dia cuma bisa nyetir lurus," kenangnya.

Pertobatan Ali Imron

Hari ini, 14 tahun pascainsiden tersebut, Ali Imron menyatakan bertaubat dari terorisme. Bahkan, ia mengaku bersalah dan siap bertanggung jawab untuk mencegah aksi serupa.

"Adanya aksi terorisme yang akhirnya membawa saya ke penjara seumur hidup. Dalam kesempatan ini, saya pelaku bom Bali, untuk kesekian kalinya memohon maaf terhadap korban, keluarga korban," sesalnya.

Sikapnya itu dianggap sebagai pemberontakan oleh koleganya yang masih tergabung dalam kelompok teroris. Ia menuturkan, 2007 silam, seorang rekannya menjenguknya di dalam lapas. Namun, bukannya memberikan dukungan, Ali Imron justru dianggap pengkhianat dan dihalalkan untuk dibunuh.

"Saya dituduh penghianat dan dihalalkan darahnya," sambung dia.

Namun, Ali Imron menyatakan tak gentar. Meski divonis seumur hidup, ia pun berupaya agar presiden memberinya pengampunan melalui grasi. Ia berharap, di dunia luar, bisa berdakwah dengan menyebarkan bahwa laku terorisme merupakan contoh jihad yang salah.

"Meski di luar tidak aman, saya ingin bebas. Grasi pas zaman Bu Mega ditolak, dua masa Pak SBY tidak ada kejelasan. Semoga presiden sekarang mau kasih," tandasnya.

 

1
2

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini