Share

Pemerintah Diminta Lebih Memikirkan Nasib Pelaut

Fransiskus Dasa Saputra, Okezone · Kamis 07 April 2016 20:06 WIB
https: img.okezone.com content 2016 04 07 337 1357028 pemerintah-diminta-lebih-memikirkan-nasib-pelaut-L4MGrKO53t.jpg Ilustrasi (Foto: Antara)

JAKARTA – Presiden Kesatuan Pelaut Indonesia, Hanafi Rustandi meminta, pemerintah lebih memikirkan secara khusus nasib para pelaut Indonesia. Hal ini diungkapkan terkait adanya penyanderaan 10 anak buah kapal (ABK) yang disandera kelompok teroris Abu Sayyaf di Filipina.

Menurutnya, profesi pelaut adalah profesi yang khusus, tanpa pelaut tak akan ada kegiatan ekspor impor. Apalagi menurutnya, kepemimpinan Presiden Joko Widodo (Jokowi) menitikberatkan pada pembangunan wilayah maritim, yang notabene memerlukan profesi pelaut.

“Kami ini khusus, tapi kami selalu menjadi korban, daripada terorisme dan kejahatan lainnya,” katanya dalam acara Polemik on TV dengan Tema Kala Anak Bangsa tersandera di iNews TV, Kamis (7/4/2016).

Hanafi Rustandi menambahkan, sebagai pelaut, pihaknya memang memiliki buku panduan mengenai wilayah-wilayah yang dianggap berbahaya. Meski begitu, dengan adanya jaminan lebih dari pemerintah, pihaknya akan merasa lebih aman dalam menjalankan profesinya.

“Kami mendapatkan informasi dari pihak keamanan terkait mengenai daerah-daerah yang berbahaya. Kami optimis, tidak punya rasa takut, karena Negara di belakang kami,” ujar dia.

Sementara, pengamat hukum internasional, Arief Afriansyah menilai, Pemerintah perlu memikirkan untuk ikut dalam Perjanjian Kerja Sama Regional tentang Pemberantasan Pembajakan dan Perampokan Bersenjata terhadap Kapal di Asia (ReCAAP).

“Sayangnya, Indonesia belum ikut di sana (ReCAAP), ke depan mungkin Indonesia perlu memikirkan ikut dalam perjanjian tersebut,” ujar dia.

Menurut Arief, dengan ikut dalam perjanjian, Pemerintah akan mendapatkan informasi yang lebih komprehensif untuk menanggulangi pembajakan dan perampokan bersenjata terhadap kapal-kapal Indonesia di wilayah Asia. “Sehingga pemerintah bisa memanfaatkan informasi yang ada,” tuturnya.

(fds)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini