Menko PMK: Karnaval Cap Go Meh Wujud Kebhinekaan

Bisma Alief, Okezone · Minggu 21 Februari 2016 18:14 WIB
https: img.okezone.com content 2016 02 21 337 1317671 menko-pmk-karnaval-cap-go-meh-wujud-kebhinekaan-FCOEijBTya.jpg

JAKARTA - Menteri Koordinator Bidang Pembangunan Manusia dan Kebudayaan (Menko PMK) Puan Maharani mengaku bangga dan sangat antusias bisa hadir dan membuka kegiatan Karnaval Cap Go Meh, dalam rangka merayakan Tahun Baru Imlek di Lindeteves Trade Centre, Hayam Wuruk, Minggu (21/2/2016).

Menurut Puan, Karnaval Cap Go Meh bukan sekadar budaya Tionghoa yang dimilikinya secara turun temurun, tetapi juga terdapat pesan penting kebhinekaan dan persaudaraan.

"Kehadiran masyarakat Tionghoa beserta budayanya sejak berabad-abad lalu telah memperkaya khasanah budaya Nusantara. Hingga kini, Perayaan Imlek maupun Karnaval Cap Go Meh bukan hanya tertutup bagi masyarakat Tionghoa saja tapi juga telah melibatkan berbagai etnis lain yang eksis di Nusantara," kata Puan Maharani, dalam sambutan acara Karnawal Cap Go Meh, Minggu (21/2/2016).

Dalam acara tersebut, hadir juga Ketua DPR Ade Komaruddin, Ketua DPD Irman Gusman, Mendagri Tjahjo Kumolo, Menteri Pariwisata Arief Yahya, Wakil Gubernur DKI Jakarta Djarot Saiful Hidayat,Ketua dan Pengurus Majelis Tinggi Agama Khonghucu Indonesia, dan Ketua Panitia Penyelenggara Charles Honoris.

Pada Karnaval Cap Go Meh ini, ditampilkan pawai budaya Nusantara seperti Gotong Toa Pe Kong, pasangan Koko dan Cici, Barongsai, Liong, Kie Lin, Marching Band, Reok Ponorogo, Ondel-ondel, Sisingaan, Rebana Biang, Tanjidor, Mobil Hias dan Kesenian Nusantara lainnya.

Dalam kesempatan merayakan Cap Go Meh Tahun 2016 tersebut, Puan mengingatkan kembali bahwa bangsa Indonesia memiliki potensi yang luar biasa, baik dari segi sumber daya manusia maupun alamnya. Potensi tersebut haruslah dimaksimalkan agar kita menjadi bangsa yang mampu bersaing dan menjadi bangsa yang unggul. Di samping itu, lanjut Puan, Indonesia juga memiliki keragaman yang sangat luar biasa.

"Maka keragaman yang dimiliki oleh bangsa Indonesia sudah seharusnya dikelola menjadi energi yang positif. Untuk menuju tata kehidupan yang maju dan modern," ujarnya

Untuk itulah, Puan mengajak semua komponen bangsa untuk selalu memelihara dan menjaga keberagaman sebagai modal untuk membangun generasi muda yang berkualitas dan kompetitif dalam menghadapi bangsa-bangsa lain di dunia. Terlebih, pada tahun 2016 ini, Indonesia dihadapkan pada berlakunya Masyarakat Ekonomi ASEAN.

"Tidak ada pilihan lain, kecuali kita berbenah diri, melalui pembangunan sumber daya manusia yang berkualitas dan profesional, menjadi bangsa yang toleran, ramah dan santun, dengan alamnya yang harus tetap terpelihara. Marilah kita berubah untuk lebih maju, namun dengan menjaga martabat dan jati diri bangsa," tandasnya.

Dalam menghadapi situasi persaingan global, Puan mengajak umat Tionghoa dan seluruh umat beragama untuk terus meningkatkan pembinaan internal umat masing-masing, meningkatkan silaturahmi, merajut kebhinnekaan dan menjalin persaudaraan. Sehingga dengan berbagai pengalaman dan tantangan yang telah dialami selama ini bisa berusaha dengan sekuat tenaga untuk meningkatkan kesejahteraan rakyat.

Dengan makna Karnaval cap Go Meh ini sebagai implementasi kebhinekaan dan persaudaraan, lanjut Puan, maka pesan ini juga sejalan dengan dengan nilai-nilai dalam Gerakan Nasional Revolusi Mental yang menjadi program pemerintah.

"Perayaan Cap Go Meh merupakan contoh implementasi nilai-nilai integritas, etos kerja dan gotong royong sehingga mampu mempersatukan berbagai lapisan masyarakat maupun budaya yang ada," kata Puan.

Menurut Puan, sikap mental yang penuh rasa optimis terlihat dari simbol dan ornamen dalam bentuk Barongsai, Lampion, Naga dan petasan yang meramaikan perayaan ini.

Rasa optimisme ini perlu terus ditularkan untuk meningkatkan kualitas hidup masyarakat Indonesia. "Sikap mental yang bersih, tanggap dan tertib adalah langkah awal perubahan diri menuju bangsa yang maju dan modern," ujarnya.

Tidak lupa, dalam kesempatan itu Puan mengucapkan selamat Tahun Baru Imlek 2567 Kongzili yang ditujukan kepada seluruh umat Tionghoa di mana saja berada. Dan kepada Pengurus MATAKIN, Para Tokoh Tionghoa dan seluruh umat Tionghoa di mana saja berada, Puan mengajak untuk bersyukur. Sebab, berdasarkan fakta dan sejarah, berpuluh-puluh tahun Umat Khonghucu tidak dapat menjalankan ritual ibadah dengan tenang di Indonesia. Namun pada masa reformasi, Presiden K.H. Abdurrahman Wahid mengeluarkan Keputusan Presiden No 6/2000 tentang Pencabutan Instruksi Presiden Nomor 14 Tahun 1967 Tentang Agama, Kepercayaan, dan Adat Istiadat Tionghoa.

"Dengan Keppres tersebut, umat Khonghucu dapat menjalankan ritual agamanya dengan tenang dan tanpa rasa takut. Umat Khonghucu mendapat jaminan dari pemerintah untuk menjalankan ibadah ritual sesuai keyakinannya dengan lebih tenang dan khusuk, serta diperbolehkan menampilkan berbagai budaya Tionghoa yang dimilikinya secara turun temurun. Salah satunya barongsai, Liong, Kie Lin, Sisingaan dan karnaval Cap Gomeh seperti yang akan dilangsungkan saat ini. Ini bukti Negara dan pemerintah betul-betul memperhatikan hak-hak sipil dan berpolitik, serta ekonomi sosial dan budaya yang pada masa sebelumnya tidak didapatkan oleh etnis Tionghoa," jelasnya.

Penanggungjawab acara, Charles Honoris, mengatakan, Karnaval Cap Go Meh kali ini ialah 'Nasionalisme dalam Cap Go Meh'.

"Percayaan Cap Go Meh 2016 ini juga merupakan bentuk kecintaan komunitas masyarakat Tionghoa terhadap budaya Tionghoa, yang juga merupakan salah satu kebudayaan Nusantara," ungkapnya.

(ful)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini