Sel Teroris Dipenjara Terbelah Dua Al Qaeda & ISIS

Dara Purnama, Okezone · Minggu 17 Januari 2016 11:01 WIB
https: img.okezone.com content 2016 01 17 337 1290077 sel-teroris-dipenjara-terbelah-dua-al-qaeda-isis-rsRDLIVE3D.jpg Foto: Ilustrasi Okezone

JAKARTA- Penjara disebut menjadi sarang terorisme. Sebab muncul fakta Afif alias Sunakim pelaku aksi bom Sarinah dan penembakan kedai kopi Starbucks di kawasan Sarinah Jalan MH Thamrin Jakarta Pusat Kamis 14 Januari 2016 adalah residivis. Afif pernah divonis tujuh tahun kurungan penjara karena kasus pelatihan terorisme di Aceh tahun 2010 silam.

Pengamat terorisme Universitas Indonesia, Ridwan Habib mengatakan penjara bisa menjadi tempat perekrutan teroris. Salah satu dalangnya adalah Amman Abdurrahman yang saat ini mendekam di Lembaga Pemasyarakatan Nusakambangan. Bahkan Amman yang membawa Abu Bakar Baasyir untuk mengikuti kelompok pro ISIS Indonesia.

“Justru sangat bisa perekrutan itu dilakukan dari dalam penjara. Di dalam penjara kita ini napi-napi terorisme justru mendukung ISIS. Dia terbagi dua, ada yang mendukung jaringan Al Qaeda, ada yang mendukung ISIS,” kata Ridwan kepada Okezone Minggu (17/1/2016).

“Ustad Amman itu kan di dalam penjara Nusakambangan. Dia bisa merekrut Abu Bakar Baasyir yang sebelumnya anti ISIS menjadi pro ISIS,” sambung Ridwan.

#KamiTidakTakut

Ridwan menuturkan, contoh lainnya yakni di Lembaga Pemasyarakatan Cipinang Jakarta Timur. Kala itu narapidana terorisme Rois (Iwan Darmawan) merekrut dan menyebarkan ajaran radikal kepada penghuni lapas. Rois merupakan pelaku dari pengeboman Kedubes Australia pada 9 September 2004 silam.

“Misalnya di Cipinang ada namanya Rois yang ketahuan dipindahkan ke Nusakambangan. Cipinang sendiri masih menjadi tempat untuk melakukan rekruitmen penggalangan ide. Yang mereka lakukan setiap hari adalah pengajian atau semacam taklim yang mengajarkan ideologi teroris itu. Sangat mungkin sekali perekrutan dilakukan dari dalam penjara,”bebernya.

Dalam hal ini menurut Ridwan, Dirjen Pemasyarakatan Kementerian Hukum dan HAM harus melakukan setting dan monitoring ke dalam sel penjara. Ia menilai Indonesia sudah kecolongan dalam hal perekrutan kaderisasi terorisme dari dalam penjara ini.

“Dari dalam penjara bisa dikader itu kan lucu sekali. Saya berani menyebut kita kecolongan. Ini di dalam penjara ya kecolongannya. Tapi yang dari luar saya rasa enggak,” pungkasnya.

1
2

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini