JK Serahkan Secara Simbolis RS Indonesia di Gaza

Reni Lestari, Okezone · Sabtu 09 Januari 2016 20:27 WIB
https: img.okezone.com content 2016 01 09 337 1284463 jk-serahkan-secara-simbolis-rs-indonesia-di-gaza-zWA6loLTU7.jpg Wakil Presiden, Jusuf Kalla (JK)

JAKARTA - Malam ini Wakil Presiden Jusuf Kalla (JK) didampingi pelaksana tugas (Plt) Ketua DPR Fadli Zon dijadwalkan melakukan penyerahan secara simbolis Rumah Sakit Indonesia di Gaza, Palestina.

Penyerahan simbolis ini rencananya juga akan dihadiri Menteri Kesehatan Palestina serta sejumlah pejabat dalam dan luar negeri. Site Manager RS Indonesia Edy Wahyudi mengatakan rumah sakit yang dicetuskan pada Januari 2009 ini sudah mulai beroperasi sejak 27 Desember 2015.

"Bahkan dua hari sebelumnya, Kementerian Kesehatan sudah melakukan uji coba kesiapan peralatan-peralatan medis RS Indonesia dengan adanya tindakan operasi bagi tiga pasien yang berasal dari Gaza Utara," kata Edy di Taman Ismail Marzuki, Jakarta Pusat, Sabtu (9/1/2016).

Ia juga mengatakan pembukaan RS Indonesia disambut antusias oleh warga Gaza. Sebelum diresmikan, RS Indonesia sudah mulai mengalami antrian pasien. Bahkan terhitung sejak 26 Desember 2015 hingga diresmikan keesokan harinya, tercatat jumlah pasien rawat jalan mencapai 312 orang, begitu pula dengan ruang rawat inap dan ICU yang mulai terisi.

"Melalui dua peperangan besar pada tahun 2012 dan 2014, pembangunan RS Indonesia tetap berjalan dan selesai pada pertengahan tahun 2014," lanjut dia.

Setelah bangunan fisik selesai, pembangunan kemudian dilanjutkan dengan pengadaan alat kesehatan, furnitur, instalasi listrik, oksigen, telepon, internet dan sarana pendukung lainnya.

"Rumah sakit ini adalah sebuah karya anak bangsa yang dikerjakan oleh putra-putra bangsa dengan donasi seluruhnya murni berasal dari rakyat Indonesia tanpa bantuan asing," tutup Edy.

JK sedianya dijadwalkan menghadiri acara penyerahan simbolis ini pada pukul 19.00 WIB di Teater Jakarta, Taman Ismail Marzuki, Jakarta Pusat. Pantauan Okezone, JK dan rombongan belum tiba di lokasi sehingga acara pun belum dimulai.

Sedangkan, lanjut mantan penasehat Kapolri ini, orang yang tidak berkualitas sebagai pegawai negeri dalam pasal tersebut tidak menjadi sasaran norma (adderessaat norm).

"Artinya, Maroef dan Riza Chalid tidak dapat dikalifikasi sebagai subjek tindak pidana. Karena bukan pegawai negeri dan penyelenggara negara. Oleh karenanya kesepakatan dua orang atau lebih dalam permufakatan jahat tidak akan dapat terpenuhi," tuntasnya.

1
2

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini