Asal Usul Sejarah Hari Ibu

Fachri Fachrudin, Okezone · Selasa 22 Desember 2015 06:01 WIB
https: img.okezone.com content 2015 12 21 337 1272421 asal-usul-sejarah-hari-ibu-pQcIsQ9ah2.jpg foto: Dok Okezone

JAKARTA – Setiap 22 Desember, masyarakat Indonesia selalu memperingati Hari Ibu. Substansi dari hari perayaan nasional ini ditujukan bagi seluruh ibu-ibu di Indonesia, atas perannya di dalam keluarga dan tindak sosialnya di tengah masyarakat.

Meskipun dirayakan secara nasional, namun tidak semua warga Negara Indonesia tahu bagaimana awal mula ditetapkannya hari besar tersebut. Meruntut sejarah Hari Ibu, berarti kita harus kembali pada 22-25 Desember 1928.

Saat itu, sejumlah pejuang perempuan dari 12 kota di tanah Jawa dan Sumatera mengadakan Kongres Perempuan Indonesia I di Yogyakarta. Dalam kongres tersebut, mereka menyatukan pikiran dan semangat untuk ikut berjuang merebut kemerdekaan serta perbaikan nasib kaum perempuan di Nusantara ke depan.

Dari upaya penyatuan cita-cita itu diputuskan beberapa poin penting. Salah satunya adalah membentuk Kongres Perempuan yang kemudian dikenal dengan nama Kongres Wanita Indonesia (Kowani).

Namun penetapan Hari Ibu yang jatuh pada 22 Desember tidak diputuskan saat itu juga, melainkan pada 1938 atau tepatnya dalam Kongres Perempuan Indonesia III. Penetapan Hari raya nasional itu diilhami perjuangan para pahlawan perempuan yang hidup di abad ke-19.

Diantaranya adalah R.A. Kartini, Cut Nya Dien, M. Christina Tiahahu, Walanda Maramis, Dewi Sartika, Rangkayo Rasuna Said , Nyai Achmad Dahlan, dan Cut Mutiah.

Dalam setiap kongres, mereka banyak membahas berbagai isu yang berkembang di dalam negeri. Diantaranya yakni keterlibatan perempuan memperjuangkan kemerdekaan, hingga pelibatan perempuan pada berbagai aspek pembangunan pasca kemerdekaan.

Salah satu pencapain dari cita-cita para kaum feminis itu terwujud pada 1959. Soekarno yang saat itu menjabat Presiden Indonesia akhirnya menetapkan bahwa 22 Desember sebagai Hari Ibu melalui Dekrit Presiden Nomor 316 tahun 1959.

Setelah itu, perjuangan Kowani di masa pembangunan lebih banyak menyoal perdagangan anak-anak dan perempuan, hingga pernikahan usia dini kaum perempuan. Selain itu, masalah kesehatan para ibu dan gizi para balita juga terus dikaji dalam kongres itu.

(wal)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini