Menantu Cantik Ratu Atut Chosiyah Diperiksa KPK

Fakhrizal Fakhri , Okezone · Senin 14 Desember 2015 12:00 WIB
https: img.okezone.com content 2015 12 14 337 1266989 menantu-cantik-ratu-atut-chosiyah-digarap-kpk-EPRHECmBTR.jpg Adde Khoerunnisa digarap KPK (Foto: Heru Haryono/Okezone)

JAKARTA - Wakil Ketua DPRD Serang, Adde Rosi Khoerunnisa hari ini dipanggil oleh penyidik Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK). Ia rencananya akan diperiksa sebagai saksi dalam perkara dugaan suap pengesahan APBD Pemerintah Provinsi (Pemprov) Banten.

Adde yang juga merupakan menantu mantan Gubernur Banten, Ratu Atut Chosiyah, diperiksa lantaran dalam pengesahan APBD sebagian anggaran diperuntukkan sebagai penyertaan modal pembentukan bank daerah yang diindikasikan terjadi penyuapan.

"Dia akan dimintai keterangan sebagai saksi untuk tersangka RT (Ricky Tampinongkol) yang juga Direktur PT Banten Global Development (PT BGD)," kata Plh Kabiro Humas KPK, Yuyuk Andriati kepada wartawan di Jakarta, Senin (14/12/2015).

Sementara, Andika Hazrumi yang merupakan istri anak Ratu Atut telah memenuhi panggilan lembaga antirasuah itu. Namun, dirinya menolak memberikan keterangan.

"Ya, diperiksa saksi BDB, buat Ricky. nanti aja ya kami belum tahu," kata Adde sembari masuk ke dalam lobi gedung KPK.

Bersama Adde, KPK juga memanggil anggota DPRD Banten lainnya, yakni, Siti Erna Nurhayari, Muhammad Faizal, dan Hasan Marsudi. Para saksi ini juga dimintai keterangan dalam kasus yang sama.

Diketahui, KPK sebelumnya menahan tiga tersangka kasus dugaan suap terkait pemulusan penyertaan modal PT Banten Global Development (PT BGD) pada APBD Banten tahun 2016, Rabu 2 Desember 2015.

Ketiganya ditahan usai menjalani pemeriksaan pasca-lembaga antirasuah melakukan operasi tangkap tangan (OTT) di salah satu restoran di kawasan Serpong, Tangerang, Selasa 1 Desember 2015 lalu.

Ketiga tersangka yakni Wakil Ketua DPRD Banten SM Hartono, anggota Komisi III DPRD Banten, Tri Satriya Santosa serta Dirut PT Banten Global Development Ricky Tampinongkol ditahan di rumah tahanan (rutan) berbeda. SM Hartono ditahan di Rutan Salemba, Tri Satriya ditahan di Rutan Polres Jakarta Pusat, sementara Ricky ditahan di Polres Jakarta Timur.

Mereka ditahan untuk 20 hari pertama. Penahanan ini dilakukan untuk memudahkan proses penyidikan kasus yang menjerat mereka.

Ricky ditetapkan KPK sebagai tersangka pemberi suap. Ia disangkakan melanggar Pasal 5 ayat (1) huruf a dan b atau Pasal 13 Undang-Undang Nomor 31 tahun 1999 sebagaimana diubah Undang-Undang Nomor 20 tahun 2001 tentang pemberantasan tindak pidana korupsi.

Sedangkan Hartono dan Tri Satriya ditetapkan sebagai tersangka penerima suap. Keduanya disangka melanggar Pasal 12 huruf a atau b atau Pasal 11 Undang-Undang Nomor 31 tahun 1999 sebagaimana diubah Undang-Undang Nomor 20 tahun 2001 tentang pemberantasan tindak pidana korupsi juncto Pasal 55 ayat (1) ke-1 KUHP.

(put)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini