nyalakan notifikasi untuk berita terbaru dari Okezone

Angka Pengangguran di Indonesia Tertinggi se-ASEAN

Rizka Diputra, Okezone · Sabtu 28 November 2015 18:21 WIB
https: img-k.okeinfo.net content 2015 11 28 337 1257513 angka-pengangguran-di-indonesia-tertinggi-di-asean-E3P669MYGi.jpg foto: dok Okezone

JAKARTA - Indonesia dituntut mempersiapkan diri secara matang dalam menghadapi tantangan global ke depan. Jika tidak, maka akan berdampak bukan hanya dari hal kesejahteraan rakyat, tetapi juga berpotensi menimbulkan konflik, bahkan perusakan kultural.

Wakil Ketua Komisi I DPR RI, Tantowi Yahya, mengakui, kesiapan Indonesia dalam menghadapi Masyarakat Ekonomi Asean (MEA) masih sangat minim. Padahal, diyakini, Indonesia akan menjadi pasar utama bagi berbagai produk dan jasa dari negara anggotanya.

"Jangan sampai kita jadi bulan-bulanan, dikepung dan dibanjiri oleh produk-produk mereka tanpa kita mendapatkan manfaat," kata Tantowi dalam seminar umum bertema 'MEA: Antara Nasionalisme dan Pasar Bebas Tenaga Kesehatan' di Universitas MH Thamrin, Jakarta, Sabtu (28/11/2015).

Menurutnya, dari jumlah penduduk anggota MEA, sebanyak 43 persennya ada di Indonesia. Tidak heran jika Indonesia akan menjadi pasar utama yang besar untuk arus barang dan investasi.

Pada seminar yang digagas Developing Countries Studies Center (DCSC) dan Universitas MH Thamrin, ini Tantowi juga menjelaskan, jika tidak ada persiapan matang untuk menghadapi tantangan itu maka justru akan menciptakan risiko ketenagakerjaan bagi negeri ini. Mengingat tenaga kerja nasional masih kalah bersaing.

"Pengangguran di Indonesia tertinggi di antara 10 negara Asean anggota MEA lainnya. Kemudian, sektor informal masih mendominasi lapangan pekerjaan. Di mana sektor ini justru belum mendapat perhatian dari pemerintah," sesalnya.

Salah satu pekerjaan rumah terbesar Indonesia saat ini lanjut Tantowi, ialah menyiapkan generasi muda yang terampil. Khususnya di bidang kewirausahaan, iptek dan bahasa. Termasuk mendorong pemerintah dan DPR untuk menyiapkan seluruh infrastruktur yang diperlukan.

"Perawat di Indonesia juga masih bersifat umum. Padahal ke depan, perawat pun harus memiliki spesifikasi penyakit tertentu," tandasnya.

(MSR)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini