Ki Bagoes Hadikoesoemo, Pahlawan Nasional yang Ogah Difoto

Prabowo, Okezone · Selasa 10 November 2015 08:30 WIB
https: img.okezone.com content 2015 11 09 337 1246315 ki-bagoes-hadikoesoemo-pahlawan-nasional-yang-ogah-difoto-sGEk9r7W9Y.jpg Ki Bagoes Hadikoesoemo (foto: Wikipedia)

YOGYAKARTA - Melalui Keppres 116/TK Tahun 2015, Presiden Joko Widodo (Jokowi) memberi gelar pahlawan pada sejumlah nama yang berjasa bagi negera, salah satunya Ki Bagoes Hadikoesoemo dari Yogyakarta. Dia adalah Ketua Umum PP Muhammadiyah periode 1942-1945.

Gelar itu diterima ahli waris Hatief Hadikoesoemo. Tak hanya keluarga besar Hadikusumo yang gembira, tapi dari organisasi Muhammadiyah dan juga masyarakat Yogyakarta. Ormas keagamaan itu yang mendorong pemerintah memberi gelar pahlawan nasional untuk Ki Bagus Hadikusumo.

Semasa hidup, Ki Bagoes Hadikoesoemo (1890-1954) dikenal alim ulama yang dibesarkan di Kauman, tempat berdirinya Muhammadiyah. Ki Bagus merupakan tokoh penting dalam Badan Penyelidik Usaha Persiapan Kemerdekaan Indonesia (BPUPKI).

Selain perumus BPUPKI, Ki Bagoes ini juga anggota Panitia Persiapan Kemerdekaan Indonesia (PPKI). Konsep dan peran Ki Bagoes Hadikoesoemo ini sangat besar dalam perumusan Muqadimah UUD 1945 dengan memberikan landasan Ketuhanan, Kemanusiaan, Keberadaban, dan Keadilan.

"Semasa hidup, beliau mengedepankan prinsip zuhud atau menghindari keduniawian. Apa pun yang dilakukan dilandasi dengan keikhlasan," kata Afnan Hadikusumo, salah satu cucu Ki Bagoes Hadikoesoemo pada wartawan.

Menurut ceritanya, setiap rapat BPUPKI di Jakarta, Ki Bagoes mengunakan biaya sendiri. Bekal yang dibawa hanya batik yang dijualnya di jalan untuk biaya perjalan dan rapat. Saat itu, perjuangannya tak lain untuk negeri ini.

Ki Bagoes Hadikoesoemo juga dikenal sebagai sosok pemberani. Saat melawan penjajahan, dia turut perang dengan mendirikan Angkatan Perang Sabil yang bermarkas di Pekapalan Alun-Alun Utara. Personel yang direkrut adalah pemuda sekitar Kota Yogyakarta.

"Pasukannya banyak, sekira 400 orang, itu semua di luar tentara. Mereka pemuda, yang berperang melawan penjajahan Belanda," kata anggota DPD RI dari Yogyakarta ini.

Bahkan, kata Afnan, salah satu anak kandung Ki Bagoes Hadikoesoemo, bernama Zuhri gugur karena ditembak pasukan Belanda. Cerita itu diperoleh dari keluarganya. Afnan sendiri belum pernah bertemu dengan sang kakek, karena saat meninggal, dia belum lahir.

Pemberian penghargaan untuk Ki Bagoes Hadikoesoemo, kata Afnan, merupakan kali keempat. Pertama, dari Kaisar Jepang Teno Haikka, kedua dari Presiden Soekarno sebagai sosok perintis kemerdekaan.

Penghargaan ketiga, dari Presiden Soeharto berupa Bintang Maha Putra karena dianggap berjasa untuk bangsa dan negara. Penghargaan keempat dari Presiden Jokowi sebagai Pahlawan Nasional.

Semasa Ki Bagoes hidup, kata Afnan, dia tak ingin difoto. Tak heran, keluarga tidak memiliki banyak koleksi foto Ki Bagoes. Alasannya sederhana, karena Ki Bagoes Hadikoesoemo merupakan sosok yang tidak mau dikultuskan.

"Sangat jarang difoto, engak mau. Kita pun hanya memiliki beberapa foto saja. Karena beliau tidak mau dikultuskan," katanya.

Bahkan, makam Ki Bagoes Hadikoesoemo yang berada di Tempat Pemakaman Umum (TPU) Kuncen, Wirobrajan, Kota Yogyakarta pun tidak ada tandanya. Tidak ada patok nama apalagi batu nisan, hanya batu biasa sebagai tanda.

Saat Afnan masih kecil pernah diajak ayahnya di TPU Kuncen. Saat itu, penanda berupa batu masih ada. Namun sejak kuliah, saat ke TPU lagi, batu penanda itu sudah tidak ada. "Sekarang sudah engak ada tandanya," katanya.

Keluarga Hadikusumo tidak mempersoalkan makam Ki Bagoes hilang, atau ditempati makam lain. Sebab, dalam tradisi Muhammadiyah, orang yang sudah meninggal sudah putus hubungan dengan keduniawian.

"Yang penting, itu selalu kirim doa, itu yang diajarkan dalam Muhammadiyah," jelasnya.

(ris)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini