Penjurian Sempat Terganggu saat Risma Dikabarkan Tersangka

Bayu Septianto, Okezone · Rabu 04 November 2015 19:15 WIB
https: img.okezone.com content 2015 11 04 337 1243743 penjurian-sempat-terganggu-saat-risma-dikabarkan-tersangka-80BKOQLOXS.jpg

JAKARTA - Mantan Wali Kota Surabaya Tri Rismaharini meraih penghargaan Bung Hatta Anti Corruption Award (BHACA) 2015. Perempuan yang kembali mencalonkan diri dalam Pilkada Surabaya itu dinilai sebagai tokoh yang menginspirasi banyak orang karena berhasil melakukan inovasi dalam sektor pelayanan publik dan birokrasi pemerintah.

Ketua Dewan Juri BHACA 2015, Endy M. Bayuni mengungkapkan saat proses penjurian sempat terganggu dengan adanya berita penetapan Risma sebagai tersangka dalam kasus penyalahgunaan wewenang pembongkaran lapak diPasar Turi, Surabaya, Jawa Timur.

"Waktu kasus (Pasar Turi) itu ramai, proses penjurian sedang berlangsung. Kami menunggu dan akhirnya ada keputusan tidak ada masalah dalam kasus itu. Kami yakin Risma layak mendapatkan (penghargaan ini)," jelas Endy M Bayuni dalam jumpa pers di kafe Bakoel Koffie, Cikini, Jakarta Pusat, Rabu (4/11/2015).

Menurut Endy, dirinya dan dewan juri lainnya merasa yakin bila Risma konsisten dengan apa yang dilakukan selama ini yakni transparan dalam penggunaan anggaran sehingga mengurangi adanya tindakan korupsi di pemerintahan Kota Surabaya. "Tapi kami berharap Risma akan tetap konsisten dengan sikapnya yang transparan," harap Endy.

Tak hanya Risma, Bupati Batang, Jawa Tengah Yoyok Riyo Sudibyo juga mendapatkan penghargaan ini. Ketua Dewan Pengurus Harian BHACA Natalia Soebagjo menilai penghargaan anti korupsi ini amatlah berat beban yang mesti diterima Risma dan Yoyok.

Menurutnya kedua sempat meminta waktu untuk berpikir apakah akan menerima penghargaan yang sudah berjalan sebanyak enam kali sejak tahun 2003.

"Saat kita hubungi, Bu Risma minta waktu untuk berpikir. Sebagian besar yang menerima pasti seperti itu. Mungkin meminta pendapat berbagai pihak sampai akhirnya diiyakan (untuk diterima)," cerita Natalia.

Natalia menceritakan di tahun-tahun sebelumnya sempat beberapa tokoh menolak mendapatkan penghargaan ini karena beban moral yang didapatnya amatlah berat yakni sebagai tokoh yang dinyatakan anti korupsi.

"Penghargaan ini bukan kecil maknaya karena mengandung makna anti korupsi sehingga berat bebannya, ada yang mau dipilih tapi menolak katanya berat untuk ditanggung," kata Natalia.

Senada dengan Natalia, Endy juga mengakui sebagai juri dirinya memikul beban berat dalam memilih seseorang yang dinilai layak mendapatkan penghargaan anti korupsi ini.

Endy menegaskan tak menutup kemungkinan penghargaan akan ditarik kembali bila tokoh yang mendapatkan penghargaan ini tersangkut kasus korupsi di kemudian hari. "Tidak kemungkinan peraih penghargaan ini bila tersangkut kasus korupsi gelar itu akan dicabut, tapi kami yakin Bu Risma dan Pak Yoyok konsisten," pungkas Endy.

(ful)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini