Share

30 September: Petuah & Mimpi Keluarga MT Harjono

Randy Wirayudha, Okezone · Rabu 30 September 2015 05:45 WIB
https: img.okezone.com content 2015 09 29 337 1223134 30-september-petuah-mimpi-keluarga-mt-harjono-BzLWDm3jIS.jpg Letjen TNI (Anumerta) Mas Tirtodarmo Harjono (Foto: Repro Museum Pahrev Ahmad Yani/Randy Wirayudha)

30 SEPTEMBER 50 tahun silam jadi hari yang kelam, tidak hanya untuk TNI, tapi juga segenap bangsa Indonesia. Sekelompok pasukan Tjakrabirawa yang sudah terinfiltrasi gerakan politik Partai Komunis Indonesia (PKI), menyasarkan kebengisan mereka terhadap sejumlah perwira tinggi TNI AD.

Salah satu yang turut jadi tumbal gerakan laknat itu adalah Mayjen TNI Mas Tirtodarmo Harjono (MT Harjono). Sebelum kejadian di pagi buta pada 1 Oktober 1965, sedianya pejabat Deputi III Menpangad bidang Perencanaan dan Pembinaan itu, sudah mendapati firasat akan jadi target kekerasan golongan ekstrem kiri.

Namun sayangnya salah satu wakil Menpangad Letjen TNI Ahmad Yani itu tetap tak luput ikut gugur sebagai bunga bangsa. “Bapak harus berjaga-jaga. Kabar mengenai rencana penculikan dan pembunuhan itu barangkali benar,” ungkap ajudan MT Harjono, seperti yang termaktub dalam buku ‘Tujuh Prajurit TNI Gugur: 1 Oktober 1965’.

“Buat apa? Saya dan keluargan tak perlu dijaga!,” jawab MT Harjono singkat. Ya, rumah MT Harjono memang kala itu tanpa penjagaan sama sekali. Sang jenderal pun tak pernah mau memanfaatkan fasilitas pengamanan tentara di rumahnya.

Tapi benar saja, 1 Oktober sekira pukul 04.00 pagi, rumah MT Harjono di Jalan Prambanan Nomor 8, Menteng, Jakarta Pusat itu didatangi segerombolan pasukan Tjakrabirawa. “Assalaamualaikum!,” seru gerombolan pimpinan Serma Bungkus itu sembari mengetuk pintu.

Kebetulan yang membukakan adalah istri sang jenderal, Mariatni. Dia pun bertanya maksud kedatangan para pria tegap berseragam dengan bersepatu lars itu. “Bung Karno memanggil bapak. Ada rapat penting yang harus dihadiri bapak sekarang juga,” jawab Serma Bungkus.

Kala Mariatni ingin membangunkan MT Harjono, gerombolan itu ikut merangsek masuk rumah. “Di luar ada tentara yang mengaku utusan Bung Karno. Mereka minta Ayah ikut mereka. Ada rapat penting di Istana Bogor,” ujar Mariatni pada suaminya.

“Tidak ada rapat pagi buta seperti ini,” jawab MT Harjono. Seketika sang jenderal pun curiga dan menyuruh istri dan anak-anaknya untuk pindah dari kamar masing-masing ke tempat aman.

“Kamu harus segera pindah kamar dan bangunkan anak-anak, karena mereka akan membunuh saya. Pindahlah ke kamar depat beserta anak-anak,” ucap MT Harjono yang malangnya, itu jadi kalimat terakhir sang jenderal pada istrinya.

Tak lama setelah Mariatni memindahkan anak-anaknya, terdengar bunyi rentetan senjata yang ternyata, menembus tubuh MT Harjono. Tubuhnya diseret keluar rumah, dilempar ke dalam truk dan keluarga tak tahu lagi jasadnya dibawa entah ke mana.

Mariatni segera berusaha cari kontak dengan kerabat yang sialnya, kabel telefon rumah sudah diputus. Dia pun bertolak ke rumah asisten intel Menpangad, Mayjen TNI Siswondo Parman dan kemudian ke rumah Menpangad Letjen Ahmad Yani. Yang ditemukannya ternyata tak jauh berbeda dengan yang dialami suaminya.

Seperti halnya beberapa jenderal lain, sedianya keluarta MT Harjono seolah sudah merasakan firasat aneh terhadap perwira TNI kelahiran Surabaya, 20 Januari 1924 tersebut.

Seperti yang dialami anak-anak MT Harjono, sehari sebelum kejadian pada 30 September 1965 sore, di mana ada barisan tentara dekat rumahnya. Salah satu dari mereka bertanya, di mana letak rumah MT Harjono. Sontak dengan spontan, mereka pun menunjuk rumah mereka sendiri.

Firasat lain juga dialami putri bungsu MT Harjono, Enda Marina, di mana ketika sang jenderal tengah sibuk menata bunga anggrek dengan mendengarkan musik klasik, Enda yang ingin mendekati sang Ayah, justru disuruh menjauh.

Sebuah perilaku ganjil buat Enda yang selama ini sangat dekat dengan Ayahnya. Belum lagi, malam sebelum kejadian, Enda juga bermimpi tentang Ayahnya yang ditusuk tombak oleh beberapa orang misterius, hingga tak berdaya dan bersimbah darah.

Dalam keseharian, sang jenderal juga tak pernah bicara politik sedikit pun dengan anak-anaknya di rumah. Tapi pada suatu ketika, anak sulung MT Harjono, Harianto Harjono atau yang biasa disapa Babab, tiba-tiba diajak bicara soal politik oleh ayahnya. Sebuah wejangan atau cenderung seperti petuah terakhir MT Harjono pada anaknya.

“Bab, kalau kamu sudah besar nanti, sebaiknya hindarilah berpolitik. Karena politik itu sangat berisiko. Politik itu menghalalkan segala cara. Selagi kamu berada dalam satu kelompok, kelompok itu akan menganggapmu sebagai teman,” ucap MT Harjono pada Babab.

“Tetapi begitu kamu berpisah, kamu akan dianggap sebagai musuh. Persahabatan dan kebajikan yang telah kamu lakukan di masa yang sudah-sudah, akan mereka lupakan. Makanya kamu tak perlu masuk politik. Masuk tentara boleh, tapi masuk politik, sekali lagi, jangan!,” seru sang jenderal yang jadi pesan terakhir pada anaknya itu.

Baca Juga: Lifebuoy x MNC Peduli Ajak Masyarakat Berbagi Kebaikan dengan Donasi Rambut, Catat Tanggalnya!

(raw)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini