Share

Musim Kemarau Tahun Ini Lebih Lama Imbas El Nino

Risna Nur Rahayu, Okezone · Sabtu 08 Agustus 2015 19:49 WIB
https: img.okezone.com content 2015 08 08 337 1192857 musim-kemarau-tahun-ini-lebih-lama-imbas-el-nino-xFxgeQahcD.jpg foto: Antara

JAKARTA - Kepala BMKG Andi Eka Sakya menyatakan, musim kemarau tahun ini akan lebih panjang dibandingkan tahun lalu imbas dari munculnya El Nino. Hasil pantauan BMKG, El Nino akan menimpa Indonesia dan akan terus menguat dan mencapai puncaknya pada dua bulan ke depan.

"Kondisi ini dikarenakan pada tahun ini terjadi El Nino yang telah mencapai level moderat dan diprediksi akan menguat mulai Agustus sampai dengan Desember 2015," ujar Andi kepada wartawan di Kantor BMKG, Jakarta, Jumat (7/8/2015).

El Nino merupakan fenomena alam terkait naiknya suhu permukaan laut melebihi nilai rata-rata di Samudera Pasifik sekitar Ekuator yaitu daerah sekitar Chili, Peru dan Amerika Latin. Peristiwa ini berdampak pada kekeringan panjang di beberapa daerah di Indonesia terutama bagian timur dan daerah-daerah yang terletak di lintang selatan seperti Sumsel, Lampung, Jawa, Bali, NTB, NTT, Sulsel dan Papua bagian selatan.

Andi menjelaskan, El Nino berbeda dengan gelombang panas. El Nino berdampak pada kekeringan yang memperpanjang waktu musim kemarau. Prakiraan lama waktu dampak bagi Indonesia berkisar empat sampai lima bulan. Hal ini dikarenakan dampak tersebut dinetralisir oleh musim hujan.

Sedangkan, gelombang panas terkait dengan fenomena cuaca yang diindikasikan oleh kenaikan suhu lokal secara signifikan dalam waktu singkat (3 sampai 7 hari). Gelombang panas tidak melewati dan masuk ke wilayah Indonesia yang beriklim tropis. Gelombang panas biasanya terjadi di wilayah beriklim subtropis di atas lintang 10 derajat baik di utara dan selatan.

"Oleh karenanya, perlu dipahami bahwa El Nino bukan gelombang panas," ujar Andi.

Berbarengan dengan munculnya El Nino ini, biasanya diikuti dengan mendinginnya suhu mula laut di beberapa wilayah Indonesia, seperti Sumatera bagian barat, Jawa bagian selatan, Sulawesi dan Maluku bagian utara. Selain berdampak pada proses pembentukan awan yang cukup sulit karena proses penguapan rendah, juga sering dirasakan hembusan anginnya terasa lebih dingin.

Namun di balik itu semua, kloropil di wilayah tersebut akan kondusif dan menjadikan potensi panen ikan juga lebih tinggi. "Tidak semua negatif, sebaliknya El Nino membawa dampak positif bagi sektor kelautan karena suhu muka laut di wilayah indonesia dingin sehingga dapat menambah populasi ikan yang nantinya dapat meningkatkan tangkapan ikan. Dan juga, kondisi kering yang lebih panjang, meningkatkan potensi hasil garam yang lebih banyak pula," papar Andi.

Baca Juga: KKP Pastikan Proses Hukum Pelaku Perdagangan Sirip Hiu Ilegal di Sulawesi Tenggara

(ris)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini