Puasa Maryam dan Adab Bani Israel

Rabu 15 Juli 2015 06:01 WIB
https: img.okezone.com content 2015 07 15 337 1182058 puasa-maryam-dan-adab-bani-israel-WWiGiTY1X6.jpg Ilustrasi (Dok Okezone)

Tahukah Anda, Alquran adalah kitab yang obyektif dalam melihat sejarah Israel. Kitab suci ini tak pernah emosional dan diskriminatif dalam membaca perilaku sejarah bangsa manapun. Bangsa-bangsa disajikan bukan untuk dijadikan fosil sejarah namun sebagai karikatur yang menyindir keadaban kita.Alquran menggambarkan bahwa tak selamanya sebuah bangsa memiliki sejarah teror terus menerus. Kesantunan manis selalu hadir dalam untaian sejarah dinamis.

Maryam, ibunda Isa adalah wanita Israel yang santun. Adabnya menggugah kita ketika negeri ini digelorakan fitnah, saling membongkar aib dan sarkasme politik. Betapa indahnya ketika Alquran menjelaskan puasa Maryam. “Sesungguhnya aku telah bernazar berpuasa untuk Tuhan Maha Pemurah, maka aku takkan berbicara dengan seorang manusiapun pada hari ini (QS19:26)“.

Maryam memilih puasa bicara daripada berafirmasi bahwa kelahiran Isa tanpa ayah adalah anugerah Allah. Maryam tak menciptakan kontroversi dengan banyak bicara. Bicara banyak justru memperkeruh silang pendapat di masyarakat. Maryam justru menunggu satu protes sosial dari kaumnya sendiri. Puasa ala Maryam inilah yang wajib kita lakukan, bahkan bukan hanya di bulan Ramadan saja. Puasa dari bicara negatif, puasa dari bicara provokatif, puasa dari pernyataan adu domba.

Asal tahu saja, kehamilan Maryam pun menyajikan keunikan tersendiri bagi Bani Israel. Para petinggi Bani Israel, merespons kehamilan Maryam dengan satu estetika bahasa yang bertamaddun tinggi meski sarkasme tetap diajukan.

Alquran menjelaskan bagaimana teguran pemuka Bani Israil kepada Maryam. “Hai saudara perempuan Harun, ayahmu sekali-kali bukanlah orang jahat dan ibumu bukanlah seorang pelacur” (QS 19:28). Gaya bahasa ini oleh Al Shobuni disebut gaya bahasa menyindir (ta’ridh). Petinggi Bani Israil memang secara sarkastis menuding Maryam berzina, namun masih mereferensi kesalehan Maryam secara obyektif.

Estetika bahasa ini memiliki fungsi etis tinggi. Ta’ridh mengajarkan agar tak serampangan berdialog namun harus memilih padanan kata yang tak mengguncang stabilitas emosi. Gaya bahasa menyindir selain untuk menghindari kisruh sosial juga menciptakan asumsi apologis bagi tertuduh.

Maryam tak serta merta dihina sebagai pelacur, orang jahat atau wanita penyeleweng. Bahkan, di awal kalimat, para petinggi Israil ini menyebut Maryam sebagai saudara perempuan Harun yang menunjukkan eksistensinya sebagai wanita sebangsa sekaligus wanita saleh. Kalimat sindirian Bani Israil tak mengeluarkan Maryam dari teritori kebangsaannya.

Estetika ini juga memiliki makna memancing rasio untuk berpikir bukan memancing emosi untuk naik darah. Kalimat sindiran bagi Maryam mampu membangun wawasan tak terpikirkan tentang keadaban Bani Israil. Asal tahu saja, adab seperti ini bukan saja dilakukan di masa Maryam hidup namun sejak Bani Israil masih berbentuk Usbah (kumpulan orang), embrio sebuah bangsa.

Awal-awal surat Yusuf menjelaskan bagaimana adab putra-putra Ya’kub yang merupakan leluhur Bani Israil. Ketika berencana membunuh Yusuf, sepuluh saudara Yusuf itu masih memiliki obyektifitas. Mereka masih berpikir obyektif, meski nalar obyektifitas itu ditumpulkan iri hati. Mereka berkata sebagaimana diabadikan Alquran.

“Sesungguhnya Yusuf dan saudaranya (Bunyamin) lebih dicintai ayah kita daripada diri kita” (QS 12:8). Ayat ini mengajarkan bahwa sejahat apapun saudara-saudara Yusuf, mereka masih terikat obyektifitas bahwa ayah mereka, Ya’kub tetap menyayangi mereka, hanya porsi takaran kasih sayang itu lebih besar diberikan kepada Yusuf dan Bunyamin. Mereka tak serta merta menuduh Ya’kub total mengabaikan mereka.

Gaya bahasa itu menurut DR Fuad Al Aris dalam Latha’if Tafsir Min Shurah Yusuf menunjukkan bahwa leluhur Israel masih memiliki adab dan obyektifitas. Obyektifitas ini juga mengemuka ketika nama Yusuf disebut dalam perbincangan diantara mereka (QS 12:10).

Disebutnya Yusuf merupakan sensitifitas bahasa yang menunjukkan obyektifitas kebaikan Yusuf. Tafsir Al Munir Marah Labid karangan Syekh Nawawi Al Bantani menjelaskan bahwa saudara-saudara Yusuf memiliki potensi kebaikan besar terbukti dari disebutnya mereka sebagai bintang-bintang dalam mimpi Yusuf. Menurut Syekh Nawawi, Bintang memiliki simbol keutamaan ilmu dan agama yang dapat dijadikan pelita dalam hidup.

Bersikap obyektif dan menjaga kesantunan ternyata dimiliki Bani Israil. Harusnya, kesantunan dan obyektifitas itulah juga yang harus kita lakukan.

Oleh:Syarif Hidayat Santoso

Alumni Fisip Universitas Jember, juga alumni sejumlah pesantren. Penulis masalah-masalah Keagamaan

(ful)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini