Ekspedisi Arkeologi Maritim Akan Cari Kapal Flor de La Mar

Fahmi Firdaus , Okezone · Minggu 12 Juli 2015 00:35 WIB
https: img.okezone.com content 2015 07 12 337 1180246 ekspedisi-arkeologi-maritim-akan-cari-kapal-flor-de-la-mar-3ZItqosRIk.jpg Ekspedisi Arkeologi Maritim Akan Cari Kapal Flor de La Mar (Foto: Ilustrasi)
JAKARTA - Pemerintah dan sejumlah pihak akan menggelar Ekspedisi Arkeologi Maritim Indonesia. Kegiatan ekspedisi tersebut dilakukan untuk memetakan kapal-kapal karam di dasar laut Indonesia.

Ekspedisi ini digagas saat buka puasa bersama Kepala Staf Angkatan Laut (KSAL) Laksamana TNI Ade Supandi, Direktur Jenderal Kelautan Pesisir dan Pulau-Pulau Kecil (KP3K) Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) Sudirman Saad, Direktur Indonesia Maritime Institute (IMI) Y. Paonganan, dan arkeolog Ali Akbar, Sabtu (11/7/2015).

"Kami memerintahkan agar melakukan survei nasional untuk seluruh benda muatan kapal tenggelam (BMKT). Kami membuka kerja sama dengan pihak-pihak yang sejalan," kata Sudirman Saad.

Di tempat yang sama, Ali Akbar menambahkan, Ekspedisi Arkeologi Maritim Indonesia dirancang untuk memetakan lokasi kapal karam di seluruh Indonesia.

"Cukup banyak kapal tenggelam, misalnya kapal Portugis, Belanda, dan China dari periode tahun 1500-1800 yang diperkirakan mencapai 400 kapal tenggelam di perairan Indonesia," ungkapnya.

Jumlah ini, kata dia, dapat mencapai angka yang lebih besar jika dihitung juga periode sebelum dan sesudahnya.

"Wilayah yang akan disurvei terlebih dahulu adalah di sekitar Pulau Sumatera bagian utara mengingat banyaknya pencari harta karun yang juga mengincar muatan kapal-kapal yang diduga karam di wilayah ini,"ujarnya.

Selain itu, Selat Malaka merupakan salah satu jalur pelayaran tersibuk di dunia. Salah satu kapal yang paling menjadi incaran para pemburu harta karun di kapal tenggelam adalah Flor de la Mar atau Flower of the Sea.

"Flor de la Mar adalah kapal yang paling dicari karena pada saat tenggelam tahun 1511 memuat harta benda yang diboyong Portugis setelah menaklukkan Kerajaan Malaka," ungkapnya.

Dia menduga, pada saat berlayar menuju Portugis, kapal tersebut diperkirakan diterjang badai di sekitar Aceh dan sejak itu tidak pernah terlacak lagi keberadaannya

"Hasil ekspedisi ini akan disampaikan kepada pemerintah untuk kemudian mengambil tindakan misalnya pengangkatan, pariwisata, perlindungan wilayah laut, dan sebagainya," pungkasnya.

(Ari)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini