Share

Jenderal Yani, "Atlet" Multitalenta yang Dipuja Kaum Hawa

Randy Wirayudha, Okezone · Jum'at 19 Juni 2015 06:26 WIB
https: img.okezone.com content 2015 06 18 337 1167694 jenderal-yani-atlet-multitalenta-yang-dipuja-kaum-hawa-AoKzZcBaMP.jpg Jenderal Ahmad Yani dan anak-anaknya (Foto: Capture Museum Sasmitaloka A. Yani)

JAKARTA – Kendati sudah menjabat Menteri/Panglima Angkatan Darat (Men/Pangad), keseharian Letjen (kini Jenderal Anumerta) Ahmad Yani tak melulu disarati karier militer. Selalu ada waktu yang coba diluangkan untuk menjalani “tugas” lainnya sebagai suami dan ayah dari delapan anak.

Di tengah kesibukannya di Markas Besar Angkatan Darat (Mabes AD), Jenderal Yani selalu berusaha punya waktu bersama keluarga, terutama di akhir pekan. Liburan ke kampung halaman di Rendeng, Purworejo, Jawa Tengah, tempat kelahiran Ahmad Yani (19 Juni 1922), jadi opsinya untuk mengajak keluarga berekreasi.

Jika tak sempat mudik, Jenderal Yani memilih kawasan Puncak atau ke pantai sebagai opsi lainnya mengajak sang istri, Yayuk Ruliah Sutodiwiryo, dan delapan anaknya untuk liburan.

“Kalau liburan ke Purworejo, ke rumah Mbah (Wongsoredjo dan Murtini, orangtua Ahmad Yani), biasanya kami senang makan duren,” papar putri ketiga Ahmad Yani, Amelia A Yani ketika berbincang dengan Okezone di Museum Sasmitaloka Pahlawan Revolusi A Yani, Jalan Lembang Nomor 58, Jakarta Pusat.

“Setiap hari minggu kita juga diajak, kalau enggak ke laut ya ke Puncak. Kalau ke pantai, bapak biasanya bisa berenang sampai ke tengah-tengah. Bapak memang pandai berenang,” tambahnya.

Di sisi lain, Jenderal Yani tak hanya pandai berenang. Sejumlah olahraga lain bak atlet multitalenta, juga pandai dilakoninya, seperti tenis, golf, ping pong, hingga main layangan.

“Bapak senang main golf, berenang, main tenis. Kadang main ping pong, tanding layangan pasti kalah semua itu tetangga. Sejak kecil memang tidak ada yang menonjol dari bapak, kecuali ya di bidang olahraga itu,” lanjutnya.

Berkat intensifnya aktivitas olahraga itu, Jenderal Yani bisa menjaga kebugarannya, sekaligus menjaga posturnya tetap tegap dan gagah. Ditambah paras nan rupawan, membuat Jenderal Yani banyak “digilai” kaum hawa. Bahkan sampai pernah ada ceritanya seorang perempuan mengirimi Jenderal Yani surat cinta.

Amelia Yani mengisahkan sang Ayah, Jenderal Ahmad Yani

“Yang kami tahu yang senang sama bapak itu banyak perempuan. Kan bapak ganteng, pangkatnya jenderal lagi. Makanya, banyak yang tergila-gila sama Bapak. Sampai ada perempuan nulis surat. Kita sendiri yang terima suratnya, isinya mencurahkan cinta,” tambah Amelia.

“Kalau Bapak pulang kantor, ibu-ibu dari istri-istri tentara yang lain sering kumpul dan duduk di sini (ruang tengah rumah), hanya sekadar ingin lihat bapak masuk ke rumah lewat situ. Ibu (Yayuk A Yani) ya biasa saja, tapi tetap berusaha menyesuaikan diri tampil cantik sebagai istri Panglima. Tapi ya enggak enak punya bapak (yang) ganteng,” imbuhnya sembari berkelakar.

Meski dikenal pendiam, Jenderal Yani dikenang sebagai ayah yang perhatian dan senang bercanda dengan anak-anaknya, seperti di suatu ketika pada 5 Desember yang biasa dikenal Hari Sinterklas.

“Bapak orangnya pendiam. Tapi sangat memperhatikan kita. Ibu sendiri kalau di rumah tugasnya masak, bapak tugasnya mengurus anak-anak soal seragam, tas sekolah, buku-buku. Bapak sangat sayang sama dua anak laki-lakinya (Untung Mufreni Yani dan Irawan Sura Eddy Yani). Dijanjikan dibelikan sepatu kalau mau pijat, injak-injak punggung bapak,” imbuh Amelia berkisah.

“Kalau 5 Desember, Hari Sinterklas, kita selalu pasang sepatu dipakaikan rumput. Bayangan kita saat itu memang ada sosok Sinterklas. Kalau enggak dikasih (hadiah), bapak kirim surat sama Sinterklas. Bapak bilang, ‘Ah, paling Sinterklasnya lagi enggak punya duit, nanti lain kali kalau Sinterklas punya uang nanti dikasih’,” paparnya lagi.

Jika sudah urusan pekerjaan atau politik, Jenderal Yani jarang membawanya pulang ke rumah. Seandainya ada yang harus dibicarakan dengan sang istri, Jenderal Yani pilih pakai bahasa Belanda.

“Bapak kalau cerita di ruang makan tentang Bung Karno sama ibu, pakai bahasa Belanda. Kami cuma bisa mendengarkan tanpa bisa mengerti. Ibu juga orangnya smart (pintar), kalau bicara politik malah lebih pintar ibu dari pada bapak. Ibu lebih outspoken,” tandas Amelia Yani.

Follow Berita Okezone di Google News

(raw)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini