Jabat Pangkostrad, Soeharto Tetap Ikut Bersihkan Got

Prabowo, Okezone · Senin 08 Juni 2015 06:33 WIB
https: img.okezone.com content 2015 06 08 337 1161728 jabat-pangkostrad-soeharto-tetap-ikut-bersihkan-got-MiqEXc8Faw.jpg Presiden kedua RI Soeharto. (Foto: hmsoeharto.id)

YOGYAKARTA - Menjadi Ketua Rukun Tangga pernah dijalani Soeharto, Presiden Republik Indonesia kedua yang menjabat selama 32 tahun. Kala itu, Soeharto masih menjabat sebagai Panglima Komando Cadangan Strategis Angkatan Darat (Pangkostrad).

"Waktu bapak masih menjadi Pangkostrad, setiap minggu mengajak warga Agus Salim kerja bakti," kata Siti Hediati Hariyadi, putri keempat Soeharto kepada Okezone beberapa waktu lalu.

Kala itu, Soeharto sekeluarga tinggal di Jalan Agus Salim, kawasan Menteng, Jakarta Pusat. Dengan mengajak masyarakat kerja bakti, intensitas pertemuan antar warga sering terjadi sehingga saling kenal satu sama lain.

"Waktu itu bapak jadi Ketua RT, jadi mengajak tetangga-tetangga kerjabakti tiap Minggu. Saya masih kecil sekitar lima tahun. Semua ikut kerja bakti, bersih-bersih halaman, jalanan, membersihkan got juga," ujar perempuan yang akrab disapa Titiek Soeharto itu.

Hal itu berbeda dengan saat ini. Budaya kerja bakti sepertinya memudar kesibukan masing-masing. "Kalau sekarang enggak tahu kenapa kerja bakti ini sepertinya macet. Mungkin sikap egois, dan kemajuan teknologi modern yang hidup mementingkan diri sendiri juga," ucapnya.

Kenangan kerja bakti itu hanya sedikit dari sekian banyak memori yang ada ketika mengenang Soeharto. Usai menjabat Pangkostrad, Soeharto terpilih untuk memimpin negeri ini menjadi Presiden kedua RI setelah Soekarno.

Bagi Titiek, Soeharto merupakan pemimpin yang bersahaja dan sederhana. "Yang saya ingat dari beliau saat zaman perjuangan dulu sampai wafat, yang dipikirin itu hanya bagaimana membuat rakyat sejahtera," tuturnya.

Begitu juga saat detik-detik terakhir di rumah sakit dalam kondisi koma, pria berjuluk Jenderal Murah Senyum tersebut masih memikirkan rakyat. Saat itu Soeharto terlihat sedih karena masyarakat belum sejahtera, belum mendapat pekerjaan, banyak antrian untuk membeli bensin, dan sebagainya.

"Beli bensin kok antri meneh," kata Titiek menirukan Soeharto yang kala itu menonton acara di televisi melihat antrian beli bensin.

Titiek menyebut banyak hal positif yang bisa dicontoh dari kesederhanaan Soeharto saat memimpin bangsa. Begitu juga saat menyusun program-program hingga membuat kebijakan demi mensejahterakan rakyat.

(abp)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini