nyalakan notifikasi untuk berita terbaru dari Okezone

Perang Dingin "Anak Emas" Gatot Soebroto & Soekarno

Randy Wirayudha, Okezone · Senin 08 Juni 2015 07:37 WIB
https: img.okeinfo.net content 2015 06 08 337 1161711 perang-dingin-anak-emas-gatot-soebroto-soekarno-g6lNw2cDVr.jpg Soeharto (kanan) saat bersama Jenderal Abdoel Haris Nasution

TANPA bermaksud mengonfrontasi dua perwira Angkatan Darat di awal 1960an antara Soeharto dan Achmad Jani, keduanya memang bak air dan minyak, dua hal yang tak bisa disatukan, tak bisa selaras dan akur.

Faktornya tak lain dan tak bukan tentunya jabatan militer. Letnan Jenderal Achmad Jani yang setahun lebih muda dari Mayor Jenderal Soeharto pada kala itu, bisa merangkak karier militer lebih melesat lantaran dianggap “anak emas” Presiden Soekarno.

Sementara Soeharto dikenal tak sebegitu dekatnya dengan Soekarno. Soeharto lebih bisa dikatakan anak kesayangan Jenderal Gatot Soebroto sejak masa revolusi.

Jenderal Gatot pernah memeluk erat Soeharto ketika selamat dari gempuran bombardemen pasukan lawan, ketika ikut serta dalam Palagan Ambarawa. Gatot Soebroto pula yang pernah menyelamatkan Soeharto dari pengadilan militer.

Ketika itu, Soeharto dituduh menggunakan perangkat militer untuk menjalankan penyelundupan. Achmad Jani dan Nasution ingin segera mengadilinya, hingga Gatot Soebroto turun tangan.

“Hukuman” Soeharto pun hanya dicopot jabatannya sebagai Pangdam Diponegoro dan “diasingkan” ke SSKAD (Sekolah Staf dan Komando Angkatan Darat).

Sementara di sisi lain, Achmad Jani jadi “anak emas” Soekarno. Sebutlah ketika Jenderal Abdoel Haris Nasution mengajukan nama-nama calon penggantinya sebagai Kepala Staf Angkatan Darat (KSAD), Soekarno berulang kali menolak pencalonan Soeharto ketika diajukan Nasution.

Tapi ketika Nasution kembali dengan mencantumkan nama Achmad Jani, Soekarno langsung setuju. Achmad Jani jadi kesayangan Soekarno berkat keberhasilannya meredam gerakan separatis Pemerintahan Revolusioner Republik Indonesia (PRRI) di Sumatera.

Bibit-bibit iri pun mulai timbul. Soeharto sebagai pribadi yang introvert (tertutup), tak pernah mau hadir dalam agenda “coffee morning” yang digelar para pejabat teras TNI AD yang tentunya, dihadiri pula oleh Letjen Achmad Jani.

Dalam satu kesempatan, Nasution yang berkendara dengan helikopter menuju agenda “coffee morning”, melihat Soeharto justru asyik bermain golf.

“Pak Nas kan tahu saya,” jawab Soeharto singkat ketika ditanyakan Nasution lewat telefon, soal kenapa tak mau datang, sebagaimana dikutip buku ’34 Wartawan Istana Bicara Tentang Pak Harto’.

Seolah terjerumus dalam perang dingin dengan Achmad Jani dan bahkan di kemudian hari juga dengan Nasution, Soeharto lebih sering ‘curhat’ pada Gatot Soebroto.

“Waktumu akan tiba,” cetus Gatot Soebroto singkat ketika mendengar keluhan Soeharto. Dan memang benar saja, Soeharto bak jadi figur penting yang menghabisi PKI pasca-terjadinya Gerakan 30 September 1965 yang di antaranya juga menewaskan Jenderal (Anumerta) Achmad Jani.

Bahkan setahun setelah itu, Soeharto diangkat jadi pejabat Presiden menggantikan Soekarno pasca-keluarnya Surat Perintah 11 Maret Supersemar (1966) dan setelah penjelasan Soekarno (Nawaksara) soal tragedi G30S ditolak MPRS.

(raw)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini