Share

Soeharto, Dari Dipuji Panglima Soedirman Sampai Ditangkap Siliwangi

Randy Wirayudha, Okezone · Senin 08 Juni 2015 07:17 WIB
https: img.okezone.com content 2015 06 08 337 1161707 soeharto-dari-dipuji-panglima-soedirman-sampai-ditangkap-siliwangi-SfYzflHNne.jpg Soeharto (Foto: Wikipedia)

SOEHARTO kita tahu sebagai figur yang sarat kontroversi. Bukan hanya soal Surat Perintah 11 Maret (Supersemar) 1966 yang dijadikannya kendaraan ke kursi RI 1, tapi juga di masa revolusi mempertahankan Proklamasi 17 Agustus 1945.

Selepas pendidikan PETA (Pembela Tanah Air) dan Jepang angkat kaki dari nusantara, Soeharto yang sudah berpangkat mayor dan membawahi Batalion X, turut ambil bagian dalam Palagan Ambarawa yang meletus 20 November 1945.

Dalam buku ‘Soeharto: The Life and Legacy of Indonesia’s Second President’ karya Retnowati Abdulgani-Knapp, Soeharto yang ikut menyerang Ambarawa dan Banyubiru dengan sukses, menarik pujian Komandan Divisi V/Purwokerto, Kolonel Gatot Soebroto.

Sukses Soeharto itu juga memancing sanjungan lanjutan dari Panglima TKR (Tentara Keamanan Rakyat) Soedirman yang baru dipromosikan jadi Jenderal pada Desember 1945. Soedirman kemudian menghadiahi Soeharto dengan pangkat Overste (Letkol) dan membawahi Resimen III Yogyakarta.

Tak lama, Soeharto kemudian mengomandoi Brigade Mataram di Yogyakarta. Nama Soeharto yang dikemudian hari dikenal dengan julukan “The Smiling General” itu juga menjulang pada peristiwa Serangan Oemoem 1 Maret 1949.

Tapi terlepas dari kontroversi dari serangan itu, sedianya sebelumnya Overste Soeharto sempat tertimpa kejadian buruk ditawan “teman” sendiri. Jelang Madiun Affair (Pemberontakan PKI Madiun 1948), Soeharto sempat dikira perwira simpatisan kiri oleh Pasukan Siliwangi.

Penangkapan Soeharto itu terjadi tak lama setelah kembali dari Madiun. Soeharto datang ke Madiun untuk mengecek sendiri soal isu pemerintahan Soviet di Madiun. Saat ke Madiun, Soeharto diyakinkan Soemarsono bahwa di Madiun hanya bendera merah-putih yang berkibar

Soeharto juga sempat bertanya pada pembesar Partai Komunis Indonesia (PKI), Musso soal apakah Musso masih menginginkan persatuan untuk menghadapi Belanda. “Ya, sampaikan (saya ingin bersatu). Tapi terus terang saja Bung Harto, kalau saya akan dihancurkan, saya akan melawan,” seru Musso pada Soeharto.

Tapi sepulang dari Madiun itulah Soeharto ditangkap sejumlah personel Pasukan Siliwangi. Pasalnya saat itu di Solo, situasinya tengah memanas antara Siliwangi dengan Pasukan Panembahan Senopati pimpinan Overste Slamet Rijadi yang dikatakan, sebagian pasukannya sudah terpengaruh PKI.

“Sewaktu saya kembali dari Jawa timur, persis di Jembatan Jurug Solo, saya ditahan, lalu di bawa ke pos Siliwangi. Saya dilucuti, senjata saya diambil. Ternyata karena nama saya Soeharto, saya dikira Mayor Suharto dari batalion di Solo,” beber Soeharto dalam autobiografinya, ‘Soeharto: Pikiran, Ucapan dan Tindakan Saya’.

Soeharto mengaku diinterogasi. Beruntung, tak lama kemudian muncul perwira Siliwangi, Kolonel Sadikin yang mengenalinya. Soeharto pun dibebaskan.

Lho, mengapa kamu di sini?,” tanya Kolonel Sadikin. Soeharto menjawab, “Saya sendiri tidak tahu mengapa saya ditahan di sini,”.

“Dia teman kita. Letnan Kolonel Soeharto dari Yogya,” seru Kolonel Sadikin pada anak buahnya, seraya memerintahkan Soeharto dibebaskan dan senjatanya dikembalikan.

(raw)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini