Bercerita Masa Lalu, Eks Kepala SKK Migas Nangis di Tipikor

Feri Agus Setyawan, Okezone · Kamis 04 Juni 2015 17:23 WIB
https: img.okezone.com content 2015 06 04 337 1160241 bercerita-masa-lalu-eks-kepala-skk-migas-nangis-di-tipikor-zY5pTCerC8.jpg Bercerita Masa Lalu Rubi Rubiandini Menangis (foto:Okezone)

JAKARTA - Mantan Kepala SKK Migas, Rudi Rubiandini tiba-tiba menangis saat menjawab tanggapan dari mantan Ketua Komisi VII DPR RI Sutan Bathoegana, di Pengadilan Tipikor Jakarta, Jalan HR Rasuna Said, Kuningan, Jakarta Selatan.

Sambil terbata-bata, Rudi mengaku sejak awal menjadi Kepala SKK Migas karena ingin melakukan pembenahan di SKK Migas.

"Pembenahan dilakukan terutama adalah dalam pengadaan. Salah satu kasus yang diminta Pak Sutan untuk dikawal (PT Timas Suplindo), bahwa artinya memang saya mau melakukan pembenahan," tutur Rudi di Pengadilan Tipikor, Kamis (4/6/2015).

Rudi pun mengungkapkan untuk melakukan pembenahan ditubuh lembaga yang pernah dia pimpin itu. Dirinya bertemu dengan Ketua Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) nonaktif, Abraham Samad di Makassar pada 5 Mei 2013.

"Tanggal 5 Mei bertemu Abraham Samad, saya ngobrol informal dan mengatakan ingin bertemu di kantor untuk menyampaikan beberapa hal, supaya saya bisa melangkah, seperti apa menghadapi situasi yang berat itu (kondisi di SKK Migas-red)," ungkapnya.

Setelah pertemuan tersebut, terpidana korupsi SKK Migas itu langsung mengirim surat ke KPK pada tanggal 10 Mei 2015. Namun, dirinya justru mengaku diciduk oleh penyidik KPK pada Operasi Tangkap Tangan (OTT) di tanggal 13 Agustus 2013.

"Tanggal 10 Mei saya kirim surat ke KPK dan pada tanggal 24 Mei saya menjadi target KPK. Namun, 13 Agustus saya di OTT. Proses di tengahnya hanya bumbu-bumbu, Saya diingatkan Pak Sutan memang benar menghadapi situasi tu," sambungnya.

Lebih lanjut, Rudi menuturkan setelah di vonis tujuh tahun dan mendekam di Lembaga Pemasyarakatan (Lapas) Sukamiskin, Bandung, Jawa Barat dirinya mencoba untuk ikhlas dengan apa yang menimpa dirinya ini.

"Tapi setelah diputus tujuh tahun, Innalillahi saya terima. Biar saya ikhlas dengan apa yang terjadi. Saya sudah di Sukamiskin, biar saya lanjutkan. Saya tinggalkan masa lalu, jangan ganggu saya lagi dengan kehidupan masa lalu," tandasnya.

Menanggapi hal itu, Ketua Majelis Hakim, Artha Theresia Silalahi dengan sedikit haru, mengatakan bahwa mutiara itu walaupun dibenamkan di dalam lumpur tetap jadi mutiara. "Semoga saksi bisa jadi mutiara," tutupnya.

(sus)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini