nyalakan notifikasi untuk berita terbaru dari Okezone

Sebut Soekarno Lahir di Blitar, Jokowi Hattrick Salah Data

Randy Wirayudha, Jurnalis · Kamis 04 Juni 2015 12:40 WIB
https: img-z.okeinfo.net content 2015 06 04 337 1160042 sebut-soekarno-lahir-di-blitar-jokowi-hattrick-salah-data-x8MkzYNeZL.jpg Presiden RI Joko Widodo (tengah) dalam Peringatan Hari Lahir Pancasila ke-70 (Foto: Antara)

JAKARTA – Untuk ketiga kalinya alias hattrick, Presiden Joko Widodo (Jokowi) melakukan blunder soal data. Saat peringatan Hari Lahir Pancasila pada 1 Juni 2015, Jokowi menyebut Presiden RI pertama Ir. Soekarno lahir di Blitar, Jawa Timur.

Jelas-jelas dalam berbagai catatan sejarah, sang proklamator itu lahir di Surabaya pada 6 Juni 1901 dengan nama Koesno Sosrodijardjo. Blitar hanyalah tempat “Putra Sang Fajar” dikebumikan setelah wafat di Jakarta, 20 Juni 1971.

Kesalahan Jokowi itu bak mengingatkan publik lagi akan dua kesalahan data yang sudah lalu, yakni soal penyebutan bahwa Indonesia masih punya utang pada International Monetary Fund (IMF) dan soal Perpres No 39 Tahun 2015 tentang down payment (DP) mobil pejabat.

Hal itu tentu disesalkan banyak pihak, salah satunya dari Asosiasi Sarjana Hukum Tata Negara (ASHTN) Indonesia. Padahal, Presiden Jokowi sudah jadi simbol negara yang semestinya “haram” blunder, terlebih soal data sejarah yang sudah tertulis dengan kentara di berbagai literatur.

“Padahal dalam sistem pemerintahan presidensial, Presiden memiliki kedudukan sangat kuat sebagai pelaku utama penggerak organisasi pemerintahan. Di dalamnya melekat dua kekuasaan, yaitu sebagai kepala pemerintahan dan kepala negara,” terang Mei Santoso, Peneliti Hukum Konstitusi ASHTN di Jakarta, Kamis (4/6/2015).

“Khusus sebagai kepala negara, dia adalah simbol negara, sehingga wibawa dan kehormatannya harus dijaga karena menjadi representasi negara dan bangsa. Bagaimana jadinya bila Presiden sering salah mengungkapkan data?” tambahnya.

Diberitakan sebelumnya, Jokowi saat memberikan sambutan dalam peringatan hari lahir Pancasila di Alun-Alun Kota Blitar, Jawa Timur pada 1 Juni 2015, menyebut bahwa Blitar selalu membuat hatinya bergetar.

"Setiap kali saya berada di Blitar, kota kelahiran Proklamator kita, Bapak Bangsa kita, Presiden Soekarno, hati saya selalu bergetar," kata Jokowi, Senin 1 Juni 2015.

Getaran itu muncul, kata Jokowi, saat dirinya menghayati semangat, ide dan cita-cita Bung Karno dalam mewujudkan Indonesia yang berdaulat, berdikari serta berkepribadian.

Diterima atau tidak, Pancasila oleh Jokowi dianggap sebagai nilai yang harus direalisasikan. Perjuangan untuk mewujudkan nilai-nilai luhur itu tidak akan pernah selesai.

"Dalam menempuh medan perjuangan itu kita harus memerlukan kebersamaan, republik ini membutuhkan gotong-royong," ungkapnya.

(raw)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini