nyalakan notifikasi untuk berita terbaru dari Okezone

Jokowi Offside soal Tempat Kelahiran Soekarno

Qur'anul Hidayat, Jurnalis · Kamis 04 Juni 2015 02:48 WIB
https: img.okeinfo.net content 2015 06 04 337 1159856 jokowi-offside-soal-tempat-kelahiran-soekarno-yOEnWNz7KU.jpg Presiden Joko Widodo (Jokowi) (Foto: Okezone)

JAKARTA - Saat berpidato di Alun-alun kota Blitar, Jawa Tengah untuk memperingati hari lahir Pancasila, Presiden Joko Widodo (Jokowi) mengungkapkan bahwa hatinya selalu bergetar jika datang ke Blitar, tempat kelahiran Presiden pertama Indonesia, Soekarno.

Berdasarkan penelusuran Okezone, tokoh proklamator itu lahir di Surabaya pada 6 Juni 1901 dan wafat di Jakarta, 21 Juni 1970. Blitar adalah tempat pemakaman Bung Karno, berdasarkan Keppres RI nomor 44 tahun 1970 yang dikeluarkan oleh Presiden kedua RI, Soeharto.

Kesalahan itu kemudian membuat Ketua Komisi VI DPR RI, Hafiz Tohir protes. Menurutnya, seorang Presiden seharusnya tidak boleh membuat kesalahan. Apalagi, kesalahan tersebut terkait dengan data sejarah.

"Padahal Bung Karno lahir di Kota Surabaya. Mungkin dia slip tongue, yang jelas dalam sejarah tata negara Presiden tidak boleh salah," ujarnya kepada Okezone, di Jakarta, Rabu (3/6/2015).

Jika pun Presiden melakukan kesalahan, lanjut Hafish, yang harus disalahkan adalah staf ahli Presiden dan Sekretaris Negara.

"Inilah kelemahan Tim Jokowi. Harus ada reshuffle yang mendasar karena sudah merusak bernegara," simpulnya.

Pertemuan Jokowi dan Habibie

Diberitakan sebelumnya, Jokowi memberikan sambutan dalam peringatan hari lahirnya Pancasila di Alun-Alun Kota Blitar, Jawa Timur. Baginya, Blitar selalu membuat hatinya bergetar.

"Setiap kali saya berada di Blitar, kota kelahiran Proklamator kita, Bapak Bangsa kita, Bung Karno, hati saya selalu bergetar," kata Jokowi, Senin 1 Juni 2015.

Getaran itu muncul, kata Jokowi, saat dirinya menghayati semangat, ide dan cita-cita Bung Karno dalam mewujudkan Indonesia yang berdaulat, berdikari serta berkepribadian.

Diterima atau tidak, Pancasila oleh Jokowi dianggap sebagai nilai yang harus direalisasikan. Perjuangan untuk mewujudkan nilai-nilai luhur itu tidak akan pernah selesai.

"Dalam menempuh medan perjuangan itu kita harus memerlukan kebersamaan, republik ini membutuhkan gotong-royong," ungkapnya.

(fmi)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini