nyalakan notifikasi untuk berita terbaru dari Okezone

Soviet Umumkan Poros Moskow-Yogyakarta, Hatta Kebakaran Jenggot

Randy Wirayudha, Okezone · Selasa 26 Mei 2015 07:34 WIB
https: img.okeinfo.net content 2015 05 25 337 1155145 soviet-umumkan-poros-moskow-yogyakarta-hatta-kebakaran-jenggot-rwNPLoZWsA.jpg Mohammad Hatta bersikeras tak terjadi "poros" antara Moskow dan Yogyakarta (Foto: Wikipedia)

SEJAK Republik Indonesia belum lama lahir, negeri ini bak sudah jadi “rebutan” untuk dipengaruhi blok barat yang dibawahi Amerika Serikat (AS) dan timur yang dikomando Uni Soviet.

Sebelum tercipta poros Jakarta-Moskow-Beijing-Pyongyang di era 1960an, sedianya “poros” Yogyakarta-Moskow sudah pernah tercipta lebih dulu, tepatnya pada 26 Mei 67 tahun silam (1948).

Seperti dikutip buku ‘Kronik Revolusi Indonesia’, pihak Soviet mengumumkan peresmian dan ratifikasi pertukaran Konsuler antara Soviet dan RI lewat Radio Moskow.

Hal itu bisa terjadi setelah empat hari sebelumnya, tercipta pertemuan antara perwakilan Soviet dengan Duta Besar Istimewa RI di Praha (Cekoslovakia, kini Republik Ceko, di mana Suripno mengaku mendapat instruksi dari Pemerintah RI untuk mengadakan hubungan dengan negara-negarar Eropa Timur.

“Sebagai hasil dari perundingan-perundingan yang berlangsung di Praha, maka telah ditandatangani persetujuan mengadakan hubungan konsuler dan saling tukar konsul antara Moskwa dan Yogyakarta,” bunyi pengumuman itu di buku yang sama.

“Persetujuan yang telah tercapai tersebut telah diratifikasi dengan pertukaran surat antara Duta Besar URSS di Praha M.A. Silin dan Perutusan Luar Biasa dan Menteri Berkuasa Penuh RI Dr. Suripno,” lanjut pengumuman itu.

Jelas hal itu seolah jadi petir di siang hari buat Perdana Menteri Mohammad Hatta. Pasalnya, Kabinet Hatta susah-payah berusaha tak mengingkari permintaan AS dan Belanda soal berhubungan dengan blok timur.

Yang pasti, hal itu membuat posisi RI kian sulit. Saat itu, RI sudah menganut politik bebas-aktif, meski di sisi lain, seperti termaktub di buku yang sama, RI sangat berharap dukungan AS soal konflik dengan Belanda.

Soal pengumuman itu, Hatta memilih diam seribu bahasa dan tak menjawab pihak Soviet. Betapa tidak, pengumuman itu berarti pula menodai reputasi RI di mata AS. Terlebih Belanda menafsirkan bahwa RI belum diizinkan punya kebijakan luar negeri dengan sendirinya.

Tak pelak, pengumuman pertukaran konsuler Moskow-Yogyakarta itu dimanfaatkan Belanda sebagai propaganda bahwa para pemimpin RI tak bisa dipegang kata-katanya. Hatta yang sempat “kebakaran jenggot” berusaha keras menenangkan AS.

Hatta menyatakan kesepakatan yang dibuat Suripno itu sebagai warisan dari kabinet sebelumnya, Kabinet Amir Sjarifuddin II yang berhaluan kiri. Hatta tak lama kemudian bereaksi menolak kesepakatan itu, sekaligus memanggil Suripno ke tanah air.

“Tidak bakal terjadi pertukaran konsuler dengan Uni Soviet,” tegas Hatta dalam buku ‘Indonesia Merdeka Karena Amerika? Politik Luar Negeri AS dan Nasionalisme Indonesia 1920-1949’.

(raw)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini