Kenangan Habibie Ketika Menolak Permintaan Soeharto

Bayu Septianto, Okezone · Minggu 24 Mei 2015 18:17 WIB
https: img.okezone.com content 2015 05 24 337 1154488 kenangan-habibie-ketika-menolak-permintaan-soeharto-qo649k6GAJ.jpg Kenangan Habibie Ketika Menolak Permintaan Soeharto (Foto: Okezone)

JAKARTA - Pembangunan industri pesawat terbang di Indonesia diakui Presiden RI ketiga BJ Habibie didanai oleh hasil sumber daya alam di Indonesia, yakni salah satunya penjualan dari ekspor minyak yang dilakukan Pertamina.

Hal itu diakui Habibie saat bercerita mengenai perjumpaan pertama dirinya dengan Presiden RI kedua Soeharto di Indonesia, setelah dirinya belajar dan berkarya di Jerman. Ia bercerita perjumpaan itu membahas tentang permintaan Soeharto untuk mengembangkan teknologi di Indonesia.

"Kepada Pak Harto waktu itu saya tegaskan enggak mau uang dari pinjaman, waktu itu sedang ada IGGI, saya enggak mau dibiayai pejabat, karena enggak akan mampu membiayai seluruh teknologi ini, saya maunya dari sumber daya alam," kenang Habibie di kediamannya, di Jalan Patra Kuningan XIII, Jakarta Selatan, Minggu (24/5/2015).

Menurut Habibie, saat itu dirinya dimintai Soeharto untuk membuat suatu satelit yang dapat meningkatkan jaringan komunikasi di Indonesia.

"Saya dapat telefon dari Deplu orang Jerman. Presiden kamu mau datang dan Anda harap datang hari Jumat. 'Ada apa? Saya lagi sibuk'. Itu permintaan, pokoknya Anda harus datang. Saya sebagai karyawan dari perusahaan Jerman waktu itu terbesar dalam bidang pertahanan, oke saya datang. Itu pertama saya datang tanggal 28 Januari 1974," tutur Habibie.

Saat itu, Soeharto meminta kepadanya untuk mengembangkan Iptek di Indonesia, antara lain membuat satelit dan pesawat terbang. Namun, suami dari Ainun ini hanya menyanggupi untuk membuat industri strategis pembuatan pesawat.

"Pak Harto bilang kalau kamu bisa buat kapal terbang dan ajari orang Jerman pasti kamu bisa buat yang lainnya, tapi saya paling mau paling banter bantu dalam pembuatan industri strategis, lain itu saya enggak mau. Pokoknya saya buat kapal terbang saja," cerita Habibie.

Akhirnya Soeharto pun menyanggupinya dan akan membantu pembiayaan pembuatan industri itu yang diambil dari hasil penjualan di Pertamina. Pasalnya, Habibie beralasan untuk membangun industri seperti ini dibutuhkan dana yang cukup besar.

"Dia bilang oke saya kasih semua, tapi kamu bantu yang lain. Saya akan berusaha, tapi saya butuh banyak duit," ungkap Habibie.

Untuk mendapatkan dana itu, Habibie pun diberikan jabatan sebagai Kepala Divisi Advance di Pertamina untuk membuatu industri pesawat terbang yang kemudian diberi nama PT Dirgantara Indonesia yang berpusat di Bandung, Jawa Barat.

"Oleh karena itu saya dapat uang dari situ (Pertamina)," pungkas Habibie.

(Ari)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini