Melawan Rezim Orde Baru, Harus Siap untuk "Dihilangkan"

Feri Agus Setyawan, Okezone · Kamis 21 Mei 2015 07:28 WIB
https: img.okezone.com content 2015 05 20 337 1152840 melawan-rezim-orde-baru-harus-siap-untuk-dihilangkan-Y1itj0LGlU.jpg Ilustrasi teatrikal perlawanan mahasiswa pada Mei 1998 (Foto: Antara)

JAKARTA – Tak sedikit ‘ongkos’ yang harus dibayar ketika menumbangkan Presiden RI kedua Soeharto di bawah rezim orde baru. Rezim yang telah bertahan hampir 32 tahun.

Bahkan, para aktivis saat itu harus membayar perjuangannya dengan nyawa dan dipaksa untuk “dihilangkan’ oleh penguasa.

Menurut salah seorang Aktivis ’98 dari Universitas Jakarta, Wahab Talaohu, haruslah kita pahami bahwa saat itu, mahasiswa dihadapkan pada rezim diktator Soeharto yang akhirnya, membuat mahasiswa sangat kritis dan senstif melihat situasi dan kondisi.

“Sebagai seorang aktivis, yang harus dikedepankan adalah kematian. Anda harus rela untuk mati demi perjuangan, karena Soeharto sangat kejam. (Kita harus) siap dipenjara, dan siap untuk hilang. Semua itu kami lakukan dengan kekuatan moral , semua dengan gerakan moral,” aku Wahab kepada Okezone.

Dia menuturkan, ada sejumlah aktivis yang hilang menjelang tumbangnya Soeharto dan sampai saat ini, tak diketahui keberadaannya. Mereka, lanjut Wahab, hilang begitu saja. Bahkan sampai saat ini, tidak ada bentuk pertanggungjawaban dari negara.

“Kita tahu saat itu, teman-teman aktivis banyak yang hilang dan sampai sekarang kita enggak tahu nasibnya. Mereka hilang begitu saja dan tidak ada pertanggungjawaban negara terhadap mereka. Itu semua membuat mahasiswa sangat serius memperjuangkan hak rakyat dan hak mahasiswa itu sendiri, “ imbuhnya.

Sementara itu, salah satu korban penculikan, Nezar Patria mengakui dirinya telah dikuntit sejak lama, semenjak dirinya aktif di Solidaritas Mahasiswa Indonesia Untuk Demokrasi (SMID) pada 1994, atau empat tahun sebelum Soeharto berhenti dari jabatannya. Nezar merupakan mahasiswa Universitas Gajah Mada (UGM) jurusan Filsafat angkatan 1990.

“Saya waktu itu belum menjadi wartawan. Saya mahasiswa dari elemen pers kampus, saya Sekjen SMID. Kita mengorganisir kediktatoran Soeharto dan kita sudah lakukan sejak 1994. Kita sudah lama dipantau karena cukup kritis dan cukup gila juga pada waktu itu,” bebernya.

Menurut pria yang kini menjadi anggota Dewan Pers ini, mengungkapkan pada masa menjelang jatuhnya Soeharto pada Januari hingga Mei 1998, terjadi sejumlah peristiwa, termasuk penculikan sejumlah aktivis semakin memberikan kontribusi terhadap kesadaran mahasiswa tentang rezim otoriter.

“Maka terjadilah gelombang mahasiswa dari bulan Januari sampai dengan Mei 1998. Disela-sela itu, ada kasus penculikan aktivis bulan Maret 1998. Semua itu memberikan kontribusi pemanasan politik yang luar biasa dan meningkatkan kesadaran politik yang lebih tinggi dalam diri mahasiswa. Itu rata dari Sabang sampai Merauke,” tandas Nezar.

(raw)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini